Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Isu Terorisme dan Serangan Terhadap Islam

Sunday, 27 December 2009

Apakah anda orang yang mengatakan bahwa berjihad menegakkan Syari’ah Islam dan khilafah Islamiyah di bumi Allah adalah tindakan Terorisme ? Jika demikian, berarti anda belum mengerti tentang jihad Islami yang merupakan mukjizat Allah SWT.

Jihad adalah usaha serius untuk membumikan wahyu Allah di muka bumi sehingga tidak ada lagi kezaliman dan fitnah terhadap Islam dan ummatnya. Renungkan firman Allah dalam QS Al Baqarah 2:193 dan QS Al Anfal 8:39.

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (QS. Al Baqarah 2:193)

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari kekafiran), Maka Sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan. (QS. Al Anfal 8:39)

Fitnah adalah kezaliman dan sifatnya lebih kejam dari pembunuhan, karenanya "Allah mengharamkan kezaliman sampai datangnya hari qiyamat." (HR Muslim)

Allah SWT. memerintahkan kepada Rasulullah SAW. dan ummatnya agar terus memerangi orang kafir dan zalim yang selalu menimbulkan fitnah kepada Islam dan ummatnya. Al Qur’an mengingatkan:

"Wahai Nabi berjihadlah melawan orang-orang kafir dan munafiqien itu dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali." (QS. At Taubah 9:73 dan QS 66:9)

Terorisme dan Ketidakadilan Global

Masalah yang jarang disentuh oleh media massa ketika mengangkat isu terorisme adalah ketidakadilan global. Padahal faktor ketidakadilan global menjadi salah satu pemicu serangan terhadab barat atau objek-objek yang dianggap berhubungan dengan barat. Penjajahan yang dilakukan barat di dunia Islam, termasuk dukungan membabi buta barat terhadap penjajahan zionis Israel di Palestina, merupakan cerminan dari ketidakadilan itu.

Ketika 9 orang terbunuh akibat pengeboman di hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton, banyak orang yang mengecam aksi tersebut. Sikap yang sama seharusnya muncul ketika ratusan ribu umat Islam terbunuh pasca invasi AS di Iraq. Mengutip laporan yang dimuat Jurnal Lancet, lebih dari 650 ribu warga sipil Iraq tewas sejak invasi AS pada tahun 2003 dan jumlah itu tentu saja terus saja bertambah hingga kini.

Amerika serikat dimaklumi marah saat gedung WTC diserang yang menyebabkan sekitar 3000 orang terbunuh. Sebaliknya, tentu bisa dimaklumi juga umat Islam marah ketika pasukan Amerika terus menerus membunuh rakyat sipil di Afghanistan dan Pakistan. PBB mengatakan jumlah penduduk sipil yang tewas di Afghanistan tahun ini meningkat 24 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laporan PBB menyebutkan lebih dari 1.000 orang tewas dalam enam bulan pertama tahun ini. Jumlah korban serangan AS terhadap rakyat sipil di perbatasan Pakistan-Afghanistan pun terus meningkat.

Bandingkan pula sikap dunia barat ketika Israel menyerang Gaza. Angka korban serangan Israel ke jalur Gaza sejak 27 desember 2008 hingga 18 januari 2009 malah mencapai 1313 atau rata-rata 59 orang tewas perhari atau setiap jam lebih 2 orang tewas. Tidak hanya itu, Israel juga mengakui menggunakan senjata kimia yang mengerikan, yakni fosfor putih. Belum lagi yang terbunuh akibat isolasi jalur Gaza oleh Israel. Alih-alih mengecam Israel, Amerika, Inggris dan sekutunya malah membela Israel. Untuk kasus Indonesia, ketidakadilan itu juga tampak dari sikap yang diskriminatif terhadap pembunuhan umat Islam di Ambon, Poso, atau kerusuhan di Sampit.

Berkaitan dengan pengeboman pada juli 2005 di London, pemerintahan Inggris memberikan peringatan bahwa keterlibatan dalam invasi AS ke Iraq telah meningkatkan adanya ancaman serangan balasan terhadap Inggris. Laporan yang bocor dari Joint Terrorims Center (JTAC) Inggris, yang mendahului serangan tersebut, memperingatkan: "peristiwa-peristiwa yang terjadi di Iraq semakin menjadi motivasi dan fokus sejumlah teroris berkaitan dengan aktivitas di Inggris."

Pada april 2005, sebuah laporan yang ditulis oleh Joint Intelligence Committee (JIC) berjudul "International Terrorism Impact of Iraq" bahkan lebih eksplisit menyatakan: “kami menilai bahwa konflik yang terjadi di Iraq telah memperburuk ancaman terorisme internasional dan akan terus memberikan dampak dalam jangka waktu yang lama. Konflik tersebut telah memperkuat kegigihan para teroris yang telah melakukan serangan ke negara-negara barat dan memotivasi orang-oran lain yang tidak melakukannya.”

Seharusnya siapapun yang menginginkan kekerasan global dihentikan, juga harus dengan tegas meminta AS dan negara-negara imperialis lainnya menghentikan kebijakan yang eksploitatif dan diskriminatif terhadap dunia Islam. Masyarakat barat sendiri seharusnya meminta penguasa mereka agar menarik tentara negaranya dari Iraq, Afghanistan, dan negeri Islam lainnya. Termasuk menghentikan dukungan membabi buta terhadap Israel.

Bagi umat Islam, ketidakadilan global ini harus dihentikan. Berharap pada negara-negara imperialis untuk menghentikan kejahatan mereka sangatlah sulit. Karena selama barat masih mengadopsi ideologi kapitalisme, penjajahan akan menjadi metode baku yang tidak berubah. Tidak ada pilihan lagi, kecuali umat Islam bersatu membangun kekuatan global khilafah Islam yang akan melindungi umat Islam dari bulan-bulanan negara imperialis..

Isu Terorisme & Serangan Terhadap Islam

Sebenarnya isu memerangi terorisme yang dilancarkan Amerika dan sekutu-sekutunya adalah perang melawan Islam dan kaum Muslimin. Musuh-musuh Islam mencoba membidik Islam dan kaum Muslimin di balik isu terorisme. Mereka takut dengan bangkitnya kaum muslimin. Dengan demikian mereka berusaha sekuat tenaga dan dengan berbagai macam cara untuk menghancurkan kebangkitan kaum Muslimin, salah satunya dengan melancarkan perang melawan terorisme.

Saat ini umat Islam menjadi tertuduh dan semua ketakutan dengan segala hal tentang Islam, karena selalu dikait-kaitkan dengan isu terorisme. Para pelajar, aktivis Islam dan semisalnya menjadi resah. Mereka khawatir dituduh dan dianggap sebagai sarang dan penyedia serta membantu aktivitas terorisme.

Gerakan-gerakan dakwah pun dicurigai meskipun gerakan dakwah itu terbuka dan tak ada sangkut pautnya dengan teroris. Beberapa orang pun mengawasi ketat anak remajanya yang mau berangkat mengaji. Padahal hal itu tak pernah terjadi sebelumnya. Mereka menanyakan ngajinya sama siapa, tempatnya di mana, dan segala macam secara berulang-ulang.

Bahkan di sebuah wilayah, beberapa orang yang hendak melakukan khuruj (aktivitas yang rutin dilakukan oleh Jama’ah Tabligh) di sebuah masjid, ditolak warga setempat pasca pengeboman di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton. Warga setempat tak mau daerahnya dijadikan tujuan orang luar. Mereka takut orang-orang tersebut terlibat terorisme.

Sikap paranoid ini muncul belakangan di beberapa daerah. Ini terjadi setelah televisi dengan sangat gencar menyebarkan berita terorisme sejak penyerbuan di Temanggung, Jawa Tengah. Bukannya obyektif, pemberitaan di media massa cenderung menstigmatisasi negatif Islam dan kaum muslimin.

Belum jelas benar siapa pelakunya, media massa langsung menyorot pesantren. Pesantren dianggap mengajarkan jihad dan ini menjadi inspirasi para teroris. Media massa pun sibuk mencari latar belakang orang-orang yang diduga teroris dengan melakukan interogasi dan inkuisisi terhadap almamater, keluarga, dan para tetangga.

Tampa disaring, berita isu langsung disiarkan. Padahal tidak semua sumber berita yang didapatkannya layak disiarkan.

Hal yang sama tidak pernah dilakukan terhadap para koruptor. Adakah media massa yang pernah mengaitkan koruptor dengan almamaternya? Kemudian menyatakan bahwa unversitas X telah mengajarkan korupsi? Atau mencari guru dan dosennya karena dianggap sebagai inspirasi untuk korupsi?

Sikap media ini tidak lepas dari upaya pihak-pihak tertentu untuk menjadikan media sebagai corong dalam menyerang Islam dan kaum muslimin. Lihat saja bagaimana media massa seolah jadi ‘orang bodoh’ dan menurut saja dengan arahan sumber-sumber mereka. Sikap kritis mereka hilang. Bahkan untuk mencari alternatif narasumber lagi. Sampai-sampai ketika sumber-sumber berita mereka memberitakan berita yang salah pun, ditelan mentah-mentah. Perhatikan ketika penyerangan di Temanggung terjadi, dalam siaran langsungnya, mereka seperti koor menyanyikan lagu bahwa teroris yang terbunuh adalah gembong teroris Noordin M Top. Ternyata bukan.

Telah terjadi trial by the press (pengadilan oleh meda massa), yang dampaknya jauh lebih kejam. Media pun tergiring oleh frame berpikir musuh-musuh Islam yang menggeneralisasi para teroris dengan Islam. Isu memerangi terorisme yang dilancarkan Amerika dan sekutu-sekutunya disebarluaskan dan dikerjakan oleh media massa yang pada hakikatnya untuk menghilangkan kebangkitan Islam.

Ironisnya, media massa seolah maklum saja dengan tindakan brutal Amerika dan sekutunya menebar bom dan kematian di mana-mana. Media massa tidak pernah menyebut mereka sebagai teroris, meski korban tewas jauh lebih banyak dan massif.

Media memang telah menjadi alat bagi kapitalisme global dalam mempertahankan hegemoninya. Di era informasi dimana kemenangan ditentukan oleh penguasa sumber-sumber informasi, media massa adalah salah satu pilar kapitalisme.

Barat paham betul bahwa Islam adalah musuh berikutnya setelah komunisme runtuh. Islam adalah ancaman. Karenanya, kebangkitan Islam mesti dihalang-halangi. Caranya bisa melalui hard dan soft power. Untuk itu barat dan antek-anteknya mendekonstruksi persepsi masyarakat terhadap Islam untuk melahirkan sikap moderat bahkan liberal. Mereka tidak mau Islam tampil apa adanya sesuai Al Quran dan As Sunnah. Sikap moderat dan liberal ini dianggap pas dengan hegemoni dan determinasi barat.

Sangat tidak mengherankan bila di tengah isu terorisme yang sedang hangat sekarang tiba-tiba muncul pernyataan beberapa tokoh yang mencoba menggeneralisasi bahwa terorisme itu adalah keinginan menerapkan syariah Islam dalam Daulah Islam. Mereka mencoba menebar ‘pukat harimau’ untuk menjaring aktivis pergerakan Islam.

Mereka sepertinya tutup mata-atau memang sengaja terhadap fakta bahwa tidak semua gerakan yang memperjuangkan syariah Islam dan khilafah setuju dengan aksi terorisme. Modus mereka ini sama dan sebangun dengan gaya Amerika dan barat umumnya melihat Islam pasca tragedi WTC pada September 2001.

Tak mengherankan bila banyak pihak yang menganalisis bahwa aksi-aksi terorisme di Indonesia ini sengaja dimainkan oleh pihak asing. Tujuannya adalah melemahkan umat Islam Indonesia sehingga Islam tidak bisa bangkit menjadi sebuah kekuatan yang besar di negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia ini.

Oleh karena itu perlu waspada terhadap segala tipu daya musuh-musih Islam tersebut. Para pengembang dakwah harus terus istiqomah mendakwahkan Islam dan mengembalikan kejayaan Islam dengan metode dakwah yang dicontohkan oleh Rosulullah SAW.

Siapa Teroris Sebenarnya ? Sadarlah Wahai Kaum Muslimin…!

Jadi, siapakah terorisme yang sebenarnya ? Kalau kita mau meneliti sejarah, maka terlalu banyak dan panjang catatan peristiwa sejarah Amerika yang dapat membuktikan bahwa Amerika adalah teroris sejati. Amerika dengan dukungan sekutunya NATO, berhasil menekan PBB untuk mengembargo Irak.

Jika definisi teror adalah membunuh rakyat sipil yang tak berdosa; anak-anak, wanita dan orang tua, maka mereka atau Amerika adalah teroris paling pertama, teratas dan terjahat yang dikenal oleh sejarah umat manusia. Mereka telah membantai jutaan rakyat sipil tak berdosa di seluruh dunia; Jepang, Vietnam, Afghanistan, Iraq, Palestina, Chechnya, Indonesia dan banyak negara lainnya.

Jika definisi teror adalah membom tempat-tempat dan kepentingan-kepentingan umum, mereka adalah pihak yang pertama, teratas dan terjahat yang mengajarkan, memulai dan menekuni hal itu.

Jika definisi teror adalah menebarkan ketakutan demi meraih kepentingan politik, maka merekalah yang pertama, teratas dan terjahat yang melakukan hal itu di seluruh penjuru dunia.

Jika definisi teror adalah pembunuhan misterius terhadap lawan politik, maka mereka adalah pihak pertama, teratas dan terjahat yang melakukan hal itu.

Jika definisi mendukung teroris adalah membiayai, melatih dan memberi perlindungan kepada para pelaku kejahatan, maka mereka adalah pihak yang pertama, teratas dan terjahat yang melakukan hal itu. Mereka bisa berada di balik berbagai kudeta di seluruh penjuru dunia. Aliansi Utara di Afghanistan, John Garang di Sudan, Israel di bumi Islam Palestina, Serbia dan Kroasia di bekas negara Yugoslavia, dan banyak contoh lainnya merupakan bukti konkrit tak terbantahkan bahwa The Real Terrorist adalah Amerika dan sekutu-sekutunya!

Dengan demikian, setelah ummat mengetahui rencana apa di balik isu terorisme, siapa teroris sebenarnya, maka mereka juga harus tetap sabar, tawakal, dan yakin bahwa Islam pasti menang. Hal ini sebagaimana janji Allah SWT dalam firmanNya :

“Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar (Islam) untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (QS At Taubah, 9 : 33 & QS Ash Shaff, 61 : 9)Wallahu’alam bis Showab!

* Artikel ini merupakan ringkasan dari Khutbah Ust. Abu Muhammad Jibriel (Wakil Amir Majelis Mujahidin) pada Bulan Syawwal di beberapa Masjid di Jakarta.


Selengkapnya...

Islam Agama Diskriminasi?

Di antara semua ciptaan Allah SWT ada manusia, yang Dia ciptakan hanya untuk satu tujuan, yakni beribadah, taat dan patuh hanya kepadaNya saja. Allah telah menginformasikan kepada kita lewat Rasul, Nabi dan wahyu bahwa ada sebagian orang yang Dia cintai dan mereka mencintaiNya, juga yang Dia benci dan mereka membenciNya.

Sebagai Muslim, kita tidak hanya berkewajiban untuk meyakini keberadaan Allah, tetapi juga apa yang Dia katakan dalam kitabNya dan lewat RasulNya. Mengingkari apa yang Allah telah turunkan adalah perbuatan murtad dan akan membatalkan iman seseorang. Kita berkewajiban untuk mencintai apa dan siapa saja yang Allah cintai dan membenci siapa saja yang Allah benci, dengan mengabaikan apakah itu legal atau tidak berdasarkan hukum kuffar.

Jika kita melihat Al-Qur’an, kita bisa melihat dengan jelas begitu banyak Allah memuji orang-orang beriman, yang beribadah, taat dan patuh kepadaNya serta mengutuk orang-orang kafir, menjanjikan mereka azab dan siksa yang kekal di hari akhir. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS Al Bayyinah, 98: 6)

Lebih lanjut Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS Al Bayyinah, 98: 7-8)

Selanjutnya, seorang Muslim tidak bisa mencintai Allah dan mencintai syaitan atau mencintai Allah tetapi juga mencintai orang-orang yang Allah benci. Kita mencintai orang-orang yang diridhai oleh Allah dan dijanjikan surga oleh mereka. Kuffar adalah orang-orang yang kafir, yang tidak beriman pada Islam dan Rasul terakhir; mereka adalah orang-orang yang Allah kutuk dan Dia SWT menggambarkan mereka sebagai “seburuk-buruk makhluk”. Mereka adalah Yahudi, Hindu, Sikhs, Budhis, anggota parleman, sosialis, atheis dan sebagainya.

Selanjutnya Allah SWT berfirman:

“...Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS An Nisa, 4: 101)

Jika Kuffar adalah musuh kita, kita seharusnya tidak hanya membenci mereka (dalam Islam kita tidak mencintai musuh kita – musuh-musuh Allah dan sebaliknya), tetapi juga agama mereka, ideologi dan tradisi mereka:

“Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (QS Al Baqarah, 2: 98)

Kekufuran mereka adalah apa yang membuat Allah murka dan menyebabkan Allah mengutuk mereka dan membalas mereka dengan azab yang abadi di hari kiamat. Allah SWT berfirman dalam Qur’an:

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS Al Fath, 48: 29)

Dalam ayat ini Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk berlaku keras kepada kuffar, tetap berkasih sayang kepada sesama orang-orang beriman. Bukankah ini agama diskriminasi? Allah SWT juga berfirman:

“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka...” (QS Muhammad, 47: 4)

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS At Taubah, 9: 29)

Dalam ayat di atas, Allah SWT secara terang-terangan memerintahkan untuk menyerang non-Muslim dan memerintahkan kita untuk memerangi mereka sampai mereka menerima hukum Islam dan membayar jizyah. Tidak hanya itu, tetapi juga dengan penghinaan! Tentang ayat ini banyak Ulama, seperti Imam Abu Hanifah membicarakan tingkat penghinaan seorang non-Muslim.

Abu Hanifah memerintahkan bahwa ketika non-Muslim membayarkan jizyahnya kepada Negara Islam, mereka seharusnya sambil membungkuk pada saat memberikan uang mereka dan mereka tidak diperbolehkan datang dengan transportasi apapun, tetapi dengan berjalan kaki. Ibnu Qayyim berkata bahwa non-Muslim tidak diperbolehkan mengendari kuda seperti tentara Muslim; tetapi dia harus berjalan dengan kedua kakinya. Ulama lain berkata bahwa mereka tidak diperbolehkan berjalan pada jalan yang sama dengan jalan yang digunakan Muslim tetapi berjalan dimana binatang berjalan.

Bukti untuk diskriminasi jenis ini adalah dari beberapa ayat dan hadits Rasulullah SAW. Diantaranya adalah:

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS At Taubah, 9: 23)

Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan kita orang-orang beriman untuk tidak mendukung keluarga kita jika mereka lebih menyukai kufur daripada iman... bukankah ini diskriminasi berdasarkan agama? Rasulullah SAW juga berfirman dalam hadits dibawah ini:

Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya. ( Al Jami As Saghir No 3063)

“Keluarkanlah Yahudi dan Nasrani dari jazirah Arab.” (Shahih Muslim Kitabul Jihad No 1767)

“Jangan menghormati Yahudi dan Nasrani sebelum mereka menghormati kamu. Dan ketika kamu berjumpa dengan salah satu dari mereka di jalan, paksa mereka untuk melawati bagian yang paling sempit dari jalan itu.” ( Al Jami AS Saghir No 9726)

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS Al Ma’idah, 5: 51)

‘Umar Bin Khattab menulis surat yang terkenal kepada orang-orang Nasrani yang hidup di bawah kekuasaan Negara Islam:

“Bismillahirrahmannirrahim... kalian berada di bawah perjanjian damai denganku kecuali kalian melakukan semua hal berikut: Tidak membangun gereja atau biara di daerahmu dan tidak juga memperbaikai gereja-gereja kalian. Dan tidak keluar dengan salib kalian atau kitab-kitab kalian. Tidak mengajak orang-orang untuk masuk ke dalam dien kalian, dan tidak menghalangi siapapun dari keluaraga kalian untuk memeluk Islam. Tidak membawa senjata, pedang atau tongkat – kecuali orang yang buta diantara kalian, cacat dan orang tua. Dan tidak menggunakan pakaian seperti Muslim dan sebagainya...” (Tafsir Ibnu Katsir surah At Taubah, 9:29)

Bukti-bukti di atas dengan tegas memerintahkan kita untuk diskriminasi terhadap non-Muslim bukan dengan ras, kelamin atau kabangsaan, tetapi dengan dien (agama). Faktanya Allah melarang kita menjadikan mereka sebagai teman, bergabung dengan tentara mereka. Semua Ulama sepakat bahwa tujuan untuk menghina kuffar adalah untuk menghinakan kekufuran dan kesyirikan mereka. bertanyalah kepada (aktifis) Muslim laki-laki jika dia mau menikahkan anak perempuannya atau saudaranya kepada seorang Yahudi, Nasrani, Hindu, Sikh atau non-Muslim lainnya mereka dengan tidak ragu-ragu akan menolaknya. Bukankah ini adalah diskriminasi berdasarkan agama?

Muslim dan non-Muslim tidak sama

Banyak non-Muslim suka mengklaim bahwa kita adalah sama dan semua beriman pada Tuhan yang sama. Muslim seharusnya selalu berhati-hati bahwa non-muslim adalah pembohong sebagaimana mereka mengatakan bahwa Tuhan yang mereka sembah mempunyai seorang anak, dan Tuhan yang kita sembah tidak mempunai anak! Dalam Al-Qur’an Allah menginformasikan kepada kita bahwa orang-orang yang mempunyai ilmu tidak sama dengan orang-orang yang tidak mempunyai ilmu, dan orang-orang yang melaksanakan Islam tidak sama dengan yang tidak melaksanakan:

“Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS Az Zumar, 39: 9)

“Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang- orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat ma'siat?” (QS Shaad, 38: 28)

Selanjutnya jika seseorang dengan ilmu tidak sama dengan orang yang tidak mempunyai ilmu, bagaimana bisa seorang Muslim menjadi sama dengan kafir? Mereka yang mengatakan Muslim sama dengan Yahudi, Nasrani dan non-Muslim lainnya adalah pembohong dan kafir. Muslim yang hidup di barat seharusnya seperti Nabi Musa AS, yang hidup diantara kuffar tetapi membenci mereka, dia memusuhi mereka dan menjadikan hidup mereka sengsara, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir'aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir'aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.” (QS Qashash, 28: 8)

Kuffar membenci Allah, Islam dan Muslim

Disamping semua ini, Allah menginformasikan kepada kita dalam Al-Qur’an tentang kebencian dan permusuhan non-Muslim ditujukan tidak hanya kepada Allah dan RasulNya, tetapi kitabNya dan juga orang-orang beriman:

“...Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak....” (QS At Taubah, 9: 8)

“Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS Al Baqarah, 2: 105)

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS At Taubah, 9: 32)

“Jika kamu mendapat suatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya; dan jika kamu ditimpa oleh sesuatu bencana, mereka berkata: "Sesungguhnya kami sebelumnya telah memperhatikan urusan kami (tidak pergi perang)" dan mereka berpaling dengan rasa gembira.” (QS At Taubah, 9: 50)

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.” (QS Ali Imran, 3: 100)

Selanjutnya tidaklah mengejutkan sama sekali melihat Kuffar mencoba untuk menerapkan peraturan baru untuk menghentikan Muslim yang membenci agama lain. Mereka dengan jelas iri dan dengki terhadap keimanan, kedamaian, gaya hidup dan keunggulan (Islam) di atas mereka, lebih lanjut ingin menjadikannya terlarang untuk menyebarkan agama kebencian (Islam). Mereka telah melupakan kenyataan bahwa meskipun itu adalah membenci semua agama yang keliru dan tuhan-tuhan yang lain daripada Islam dan Allah adalah kondisi (alasan) paling pertama untuk menjadi Muslim. Jika seorang Muslim mencintai semua orang (kecuali yang disebut teroris oleh barat) yang diingkan non-Muslim, maka mereka tidak bisa lagi menjadi seorang Muslim!

Lebih lanjut, jika kita tidak dibolehkan secara keyakinan mendiskriminasi melawan semua orang, maka pada hakikatnya kita tidak dibolehlan untuk membenci penyembah syaitan, padahal menyembah syaitan adalah sebuah agama! Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Baqarah, 2: 256)

Selanjutnya adalah sesuatu yang terlarang dan merupakan perbuatan kufur jika kita taat kepada hukum selain hukum Allah, yakni syari’ah. Muslim diwajibkan untuk membenci semua Tuhan-tuhan palsu selain Tuhan yang benar – Allah SWT. Dan membenci semua keyakinan, agama dan jalan hidup selain Islam. Ini adalah bagian dari Aqidah kita dan salah satu syarat pertama untuk menjadi Muslim. Muslim diwajibkan untuk mengajak non-Muslim kepada Islam dengan visi menggulingkan pemerintahan kufur yang dimana mereka hidup di bawahnya dan menerapkan Islam sebagai sebuah ideologi.

Muslim seharusnya tidak sampai berfikir bahwa hukum berkaitan untuk menyebarkan agama kebencian bertujuan untuk melindungi hak-hak Muslim saja. Tetapi hal itu (hukum Islam) juga melindungi non-Muslim. Mereka menggunakan Muslim sekuler untuk mempromosikan kekufuran mereka dan hukum jahat dengan tujuan untuk menipu masyarakat. Mereka mengancam siapa saja yang melawan mereka dengan menangkap, memenjarakan atau bahkan deportasi dan sebagainya atas nama ‘kebebasan berbicara’. Allah SWT berfirman :

‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata "Kami beriman", dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): "Matilah kamu karena kemarahanmu itu." Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.” (QS Ali Imran, 3: 118-119)

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja...” (QS Al Mumtahanah, 60: 4)Wallahu’alam bis showab!

Sumber
Selengkapnya...

Kritik Buku Menggugat Al Qaidah : Merasionalisasi Jihad Dunia Dari Penjara Mesir

Di bulan April 2009, sebuah buku diterbitkan oleh Sabili Publishing, berjudul Menggugat Al Qaidah ; Rasionalisasi Jihad di Mesir dan Dunia. Di sampul depan tercantum nama penulisnya, Dr Fadl, Pendiri Al Qaidah dan Mantan Penasihat Ayman al-Zawahiri. Tidak ketinggalan sebuah label bertuliskan “Buku Paling Kontroversial Di Timur Tengah” terpampang di sampul depan, melengkapi buku berilustrasi gagang pedang warna keemasan dengan latar belakang warna hitam.

Cover Buku Menggugat Al Qaidah Terbitan Sabili yg Beredar Di Pasaran

Buku Menggugat Al Qaidah setebal 239 halaman yang diterbitkan oleh Sabili Publishing ini adalah hasil terjemahan dari naskah berbahasa Inggris berjudul “Rationalization of Jihad in Egypt and the World” yang ditulis Dr Fadl di dalam penjara pemerintah Mesir.

Dalam Pengantar Penerbit dikatakan : “Meski saat ini hidup dalam penjara pemerintah Mesir, Sayyid Iman tetap memikirkan kelangsungan jihad demi tegaknya agama Allah, al Islam. Untuk itu ia menuangkan pemikirannya dalam bentuk buku yang ditulisnya di penjara.” (Halaman XIII)

Menulis buku jihad di dalam sebuah penjara bukanlah sebuah masalah. Namun, jikalau isi buku tersebut menyudutkan dan menyalahkan jihad serta mujahidin, itu adalah sebuah masalah besar. Inilah yang terjadi pada buku karya Sayyid Imam, atau Dr Fadl, atau yang juga lebih dikenal dengan nama pena Syekh Abdul Qadir bin Abdul Aziz di dalam buku yang aslinya berbahasa Arab dengan judul : “Wathiqatu Tarsyidil ‘Amalil Jihadi Fie Mishr wal 'Alam”. Lalu, apa yang salah dengan buku tersebut ?

Buku Jihad Pesanan Dari Penjara Mesir

Di dalam Pengantar Penerbit buku Menggugat Al Qaidah tersebut disebutkan perlunya kaum muslimin untuk mengikatkan diri pada fiqhul jihad yang benar karena adanya pelanggaran syariah dalam berjihad. Berikut kutipan lengkapnya :

“Lantas, apa yang bisa kita perbuat ? Kaum Muslimin yang mengetahui terjadinya pelanggaran syariah dalam berjihad, sebaiknya berupaya mengikatkan diri bersama umat Islam lainnya pada fiqhul jihad yang benar. Di sisi lain, diperlukan komitmen tegas menjalankan jihad sesuai tuntunan syariah. Selanjutnya, pada generasi muda Muslim, agar banyak belajar meningkatkan pemahaman keislamannya agar tidak melakukan pelanggaran syariah seperti yang dilakukan sebagian pendahulu kita. (Halaman XI – XII)

Jihad global yang telah dilakukan mujahidin, khususnya oleh jamaah jihad Al Qaidah, menurut penulis buku ini telah melanggar prinsip Islam tentang perang, diantaranya :

Pertama, membunuh atas dasar perbedaan kebangsaan (ras atau suku). Ini tidak dibenarkan, karena Islam tidak membedakan kebangsaan, ras, atau suku. Justru Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal. Kedua, membunuh warga sipil Muslim atau non-Muslim yang tidak terlibat perang. Ketiga, membunuh wanita, anak-anak dan orang-orang jompo. Kedua kelompok warga ini seharusnya dilindungi. Keempat, menggunakan warga sipil sebagai tameng hidup untuk menghadapi musuh atau membunuh warga sipil yang dijadikan tameng hidup oleh musuh. Kelima, membebaskan musuh yang meminta jaminan keselamatan dengan memberikan imbalan atau harta. Keenam, merampas harta benda musuh yang bukan haknya. (Halaman X)

Benarkah semua tuduhan di dalam buku ini telah dilakukan oleh Al Qaidah ? Jika tidak benar, mengapa Sayyid Imam, atau Syekh Abdul Qadir bin Abdul Aziz, yang dikenal sebagai ulama mujahid yang banyak memberikan inspirasi jihad melalui buku-bukunya sampai hati menulis buku yang menyalahkan dan menyudutkan jihad di Mesir dan dunia tersebut ? Apa yang melatarbelakangi penulisan buku ini ?




Sebelum kita membahas lebih jauh buku Menggugat Al Qaidah karya Dr Fadl ini, perlu diketahui kronologis berikut sejarah kehidupan Dr Fadl sedari awal hingga akhirnya beliau menulis buku yang menyulut kontroversi di kalangan mujahidin ini.


Dalam buku Balada Jamaah Jihad (Jazera, Solo, 2005), karya Dr. Hani As-Sibai, aktivis Jamaah Jihad Mesir, dituliskan biografi singkat Dr Fadl atau Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz sebagai berikut.

Nama lengkap Dr Fadl adalah Sayyid Imam bin Abdul Aziz Imam Asy Syarif. Beliau lebih populer dengan nama Syekh Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz. Beliau lahir pada Agustus 1950 di kota Bani Suwaif, Mesir Selatan. Beliau Menuntut ilmu dan menghafal Al Qur`an sejak kecil serta mulai menulis buku sejak awal usia mudanya.

Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Kairo tahun 1974 M dengan meraih predikat Mumtaz (cum laude). Setelah lulus ia sempat bekerja sebagai Wakil Kepala Bagian Operasi pada Jurusan Spesialis Mata di Fakultas Kedokteran Universitas Kairo.

Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz mulai menjadi buron pemerintahan Mesir pasca terbunuhnya Anwar Sadat pada tahun 1981 M, namun ia berhasil meloloskan diri keluar dari Mesir. Kemudian Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz bekerja sebagai direktur sebuah rumah sakit milik Bulan Sabit Merah Kuwait di Kota Peshawaar, Pakistan. Dengan dibantu oleh Dr Ayman Azh Zhawahiri.

Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz menikah dengan seorang wanita Palestina dan dikarunia empat orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Di Pakistan itulah Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz sempat meraih gelar doktor dibidang bedah disalah satu universitas di sana.

Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz kemudian meninggalkan Pakistan dalam rangka menghindari kejaran pihak intelijen. Pada saat bersamaan terjadi penangkapan terhadap orang-orang Arab di daerah Peshawar pada tahun 1993 M. Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz kemudian menuju Sudan.

Beliau sempat tinggal di Yaman pada saat akhir perang saudara antara Yaman Utara dengan Yaman Selatan dan kemudian bekerja di Rumah Sakit Ats Tsaurah Al `Aamm di Kota Ib sebelah selatan Ibukota Shan`a, sebagai sukarelawan. Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz sempat menikahi seorang wanita dari daerah tesebut, dan kemudian dikaruniai satu orang anak perempuan. Selanjutnya Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz bekerja di sebuah Rumah Sakit Spesialis Daar Asy Syifaa.

Pada bulan April 1999 M, Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz divonis penjara seumur hidup dalam kasus “orang-orang yang kembali dari Albania”, padahal beliau sama sekali tidak pernah pergi ke sana. Setelah peristiwa 11 September 2001 M, pada tanggal 28 Oktober 2001 M, beliau ditangkap oleh pemerintahan thoghut Yaman. Selanjutnya beliau dipenjara di rumah tahanan politik yang berada di Shan`a selama 2 tahun 5 bulan.

Terakhir Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz di ekstradisi ke Mesir yaitu pada tanggal 28 Februari 2004 M, oleh pemerintah Mesir. Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz dan sejumlah kawan seperjuangannya dipenjara dan ada pula yang divonis hukuman mati.

Jamaah islamiyah Mesir yg Di Penjara

Dr Fadl atau Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz memiliki sejumlah karya tulis yang monumental dan menginspirasi kaum Muslimin seluruh dunia, khususnya mujahidin. Buku pertama yang beliau keluarkan adalah Al `Umdah fie I`daadil `Uddah (Bekal dalam Mempersiapkan Kemampuan).

Buku ini disebarluaskan pada tahun 1988 di saat jihad tengah berkecamuk antara mujahidin dengan pasukan kafir Uni Soviet di Afghanistan. Buku ini juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Al ‘Umdah fi I’dadil ‘Uddah ; Kupas Tuntas Seputar I’dad & Jihad, diterbitkan oleh Darul Ilmi, Solo.

Lima tahun kemudian, Sayyid Imam menghasilkan sebuah kitab lagi yang juga terkenal di kalangan mujahidin, yakni “Al Jaamie’ Fie Thalabil Ilmisy Syaarif”. Kitab setebal 1.100 halaman ini dianggap sebagai buku yang lengkap, terdiri dari teori, doktrin, dan dasar hukum untuk gerakan jihad, tidak hanya di Mesir, tetapi juga di mana-mana. Buku ini juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sama dan diterbitkan oleh penerbit Al Alaq, Solo.

Pasca serangan 11 September 2001 dan ditangkapnya Dr Fadl oleh otoritas Yaman, 28 Oktober 2001, Dr Fadl mulai mengalami ‘perubahan’. Beliau mulai memiliki pandangan-pandangan berbeda tentang jihad. Perubahan besar semakin terjadi ketika beliau diektradisi ke penjara Mesir oleh pemerintahan Yaman, dan dikenai hukuman seumur hidup. Beliau mulai menghuni penjara Mesir sejak tahun 2004.

Setelah kurang lebih 3 tahun mendekam di penjara Mesir inilah, Dr Fadl akhirnya mengeluarkan buku kontroversial, Menggugat Al Qaidah. Buku ini mulai ditulis sejak Kamis, 18 Safar 1428 H (8 Maret 2007) dan mulai dipublikasikan secara bertahap oleh Harian Al-Misri al-Yawm di Kairo Mesir, mulai 18 November-3 Desember 2007.

Kemudahan penulisan buku tersebut sekaligus publikasi besar-besaran di dua harian terkemuka di Arab, yakni Al Jarida, di Kuwait, dan Al Misri al-Yawm, di Kairo Mesir, mengundang dugaan kuat adanya restu atau perintah bahkan pesanan khusus dari pemerintah Mesir. Apalagi dalam buku tersebut terselip pokok bahasan khusus ‘Larangan Memberontak Bagi Mujahidin”, yakni sebuah pembahasan yang intinya menjelaskan prinsip-prinsip agama yang melarang pemberontakan terhadap aturan yang ditetapkan pemerintah di negara-negara Muslim (Menggugat Al Qaidah, Halaman 89).

Sayangnya, buku jihad pesanan dari penjara Mesir yang ditulis oleh Dr Fadl ini oleh penerbit Sabili Publishing dianggap sebagai “Panduan Jihad” yang dapat meluruskan dan merumuskan pemahaman tentang jihad secara benar sesuai Al Qur’an dan As Sunnah. Penerbit buku ini sepertinya langsung setuju begitu saja dan membenarkan seluruh hal yang terdapat dalam buku yang kontroversial ini.

Apakah pihak penerbit, yakni Sabili Publishing telah yakin dan melakukan pembuktian ilmiah (sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah, berdasarkan pemahaman Salafus Sholeh) terhadap isi buku tersebut sehingga layak menjadi bacaan kaum Muslimin. Apakah pihak penerbit telah melakukan tabayyun kepada pihak yang digugat dan dipersalahkan dalam buku ini, yakni Al Qaidah, bahwa semua yang dituduhkan dan disalahkan oleh penulis adalah benar. Pihak penerbit seharusnya meneliti dan mencari tahu jawaban pihak Al Qaidah terhadap gugatan yang dilakukan Dr Fadl dari penjara pemerintah Mesir.

Hal ini perlu dilakukan oleh penerbit jika sungguh-sungguh ingin menjadikan buku ini sebagai bahan bacaan yang bermanfaat bagi kaum Muslimin, dan bukan sekedar menjadi pengikut dari arus media global yang dihegemoni Barat yang memang dengan sengaja mempropagandakan buku ini untuk melemahkan jihad dan perjuangan kaum Muslimin. Apalagi selama ini Sabili dikenal sebagai salah satu media Islam yang komitmen menyuarakan dan memperjuangkan jihad kaum Muslimin di seluruh dunia.

Syekh Ayman Membantah Dalam At Tabriah


Buku At Tabriah, jawaban Atas Tuduhan Dr Fadl Di Buku At Tarsyid

Jawaban resmi Al Qaidah atas gugatan dan tuduhan yang dialamatkan kepadanya keluar dalam jarak waktu hanya dua bulan saja. Syekh Ayman Azh Zhawahiri, orang kedua Al Qaidah membuat kitab At Tabriah yang khusus dipersiapkan untuk menjawab buku yang ditulis oleh Dr Fadl.

Dr Aiman Al Zawahiri (Hafizahullah)

Kitab resmi keluaran Al Qaidah yang ditulis oleh Syekh Ayman berjudul asli At Tabriah Risalatun Fie Tabriati Ummatil Qalami was Saifi min Munaqqashati Tuhmatil Khawari Wadh Dhu’fi. Secara ringkas kata At Tabriah berarti : Pelepasan. Maksudnya, kitab ini memang dipersiapkan dalam rangka melepaskan ummat yang berilmu dan berperang, (para mujahidin maksudnya) dari tuduhan lemah dan tidak berdaya.

Kitab At Tabriah ini memang dibuat khusus untuk menyanggah buku karya Dr Fadl, yang berjudul asli : “Watsiqatu Tarsyidil Amalil Jihadi Fie Mishr wal ‘Alam”, atau kemudian menjadi “Rationalization of Jihad in Egypt and the World” dalam versi bahasa Inggris. Dari edisi bahasa Inggris inilah, Sabili Publishing menerjemahkan untuk kemudian menerbitkannya kembali dengan judul “Menggugat Al Qaidah ; Rasionalisasi Jihad di Mesir dan Dunia”.


Syaikh Mukhlas Ali Ghufran (Rahimahullah)

Abu Khubaib At Tenjuluny atau Syekh Mukhlas rahimahullah, dalam risalah “Maktabah Kita” memberikan komentarnya setelah membaca tuntas kitab karya Syekh Ayman, At Tabriah. Menurut beliau, inti kandungan kitab karya Dr Fadl yang ditulisnya dalam penjara Mesir itu adalah :

1. Memperbaharui dan memperhebat kritikannya terhadap operasi-operasi jihad yang pernah ditulis dalam kitab Al Jamie, dan kali ini sasaran utamanya adalah Al Qaidah sebagai tandzim atau jama’ah jihad, sedang secara induvidu adalah Asy Syekh Ayman dan Asy Syekh Usamah bin Ladin. (At Tabriah, Muqaddimah halaman 3)
2. Berusaha menghentikan operasi-operasi jihad dengan alasan kaum Muslimin (mujahidin) lemah dan tidak berdaya dan dengan alasan tidak terpenuhinya penopang-penopang jihad.
3. Menunjukkan kepada ummat keraguannya terhadap pendapat-pendapatnya dan fatwa-fatwanya yang ditulis selama ini di dalam kitab-kitabnya, dan sepertinya memberi isyarat agar tidak diikuti, khususnya dalam masalah yang berhubungan dengan jihad dan operasi jihad yang tidak sejalan dengan “Watsiqah Tarsyid”. (Menggugat Al Qaidah)

Syekh Ayman Azh Zhawahiri pada catatan (al mulahadzah) pertama mengomentari kitab Watsiqah Tarsyid sebagai berikut :

Risalah ini judul namanya bertentangan dengan tema yang dibicarakan. Judul namanya “Petunjuk Al Amal Al Jihadi (Operasi Jihad). Judul ini mengundang pertanyaan amal jihad bersama siapa? Dan melawan siapa ? Bila kita ikuti pembahasannya dalam risalah Al Watsiqah, kita dapat mengetahui bahwa yang dimaksud amal jihadi tersebut adalah amal jihadi yang terjadi di Mesir dan di luar Mesir, melawan para penguasa yang keluar dari syari’at Islam, melawan Amerika dan Yahudi. Sedangkan sebagaimana yang dia katakan kita adalah orang-orang yang lumpuh, timpang, cacat, lemah, miskin, dan tertindas, dan seterusnya…Maka amal jihad apa yang mau dia tunjukkan? Jadi judul yang paling tepat dan sesuai untuk kitab macam itu adalah “Ilqha au Ta’jiz au Iqaf al Amal al Jihad.” (Penghapusan atau pelumpuhan atau penghentian amal jihadi). Kitab tersebut diberi nama yang bertentangan dengan maudhunya agar supaya meringankan dari pengaruh judul terhadap pendengar. Kalau tidak demikian, maka sebenarnya kitab tersebut ditulis dengan spirit Kementrian Dalam Negeri (Mesir) dengan tujuan yang sangat jelas yakni menjaga stabilitas dan keamanan negara. (At Tabriah, halaman 12)

Kritik Syekh Ayman kepada Dr Fadl alias Syekh Abdul Qadir Abdul Aziz bukan pertama kali dilakukan. Syekh Ayman juga pernah mengkritisi buku karya Syekh Abdul Qadir Abdul Aziz, yakni kitab “Al-Jami’ Fie Thalabil Ilmiys Syarif” yang sering dianggap sebagai buku panduan untuk Al Qaidah.


Mujahidin Al Qaidah Mengawal syaikh Usmah Bin Laden

Buku Menggugat Al Qaidah karya Dr Fadl ini tidak salah lagi merupakan busur panah yang diarahkan kepada Syekh Ayman dan Syekh Usamah sebagai pribadi, dan Al Qaidah sebagai jamaah jihad. Banyak sekali tuduhan-tuduhan dalam buku ini yang dialamatkan kepada beliau, Syekh Ayman Azh Zhawahiri.

Syekh Ayman akhirnya menjawab dan meluruskan semua tuduhan Dr Fadl tersebut dalam sebuah risalah atau kitab ilmiah yang kuat dasarnya, dengan kitab rujukan tidak kurang dari 130 kitab, yang dipersiapkan beliau untuk membatalkan setiap syubhat atau rekaan-rekaan yang dibuat oleh para penulis “Al-Watsiqah” (Menggugat Al Qaidah). (Abu Khubaib An Najdi, At Tabriah Lisy Syaikh Abu Muhammad Aiman Azh Zhawahiri)

Syekh Ayman berkata mengomentari penulisan kitab At Tabriah yang dirasa sangat sulit penulisannya karena khusus untuk menanggapi kitab Al Watsiqah. Beliau menyangka bahwa ini adalah tulisan yang paling sulit dalam hidupnya selama ini. Semula beliau menyangka bahwa nasehat dan peringatan yang disampaikan kepada HAMAS adalah yang paling sulit, tetapi setelah terbitnya kitab Al Watsiqah At Tarsyid, teryata untuk menulis bantahan atau sanggahan kitab tersebut beliau rasakan jauh lebih sulit.

Syekh Ayman dalam menulis kitab At Tabriah sebelumnya telah bermusyawarah dan beristikharah agar sikapnya dalam menyanggah tidak tergesa-gesa karena yang demikian itu bisa menjauhkan dari kebenaran dan keadilan. Ini menunjukkan bahwa perkataan yang dilontarkan oleh Syekh ditujukan kepada makna dan pemikiran bukan kepada orang-orangnya.

Beliau tidak bermaksud untuk menyakiti seorang pun bahkan pada akhir kitab beliau tersebut, Syekh meminta maaf sekali lagi, kalau seandainya apa yang telah beliau tulis menyakiti seseorang dan memaafkan bagi orang-orang yang menyakiti beliau, menyerangnya, mendhaliminya, dan memakinya.

Syekh Ayman juga menekankan bahwa beliau masih memberikan posisi yang selayaknya dan penghormatan serta kemuliaan kepada penulis Al Watsiqah dan orang-orang yang menyepakatinya, akan tetapi kebenaran lebih beliau cintai daripada mereka.

Kesalahan Fatal Buku Dr Fadl

Dalam kitab At Tabriah, Syekh Aiman memberikan sanggahan-sanggahan terhadap poin-poin penting dan tidak menanggapi atas caci maki yang diarahkan kepada beliau. Beliau juga mempertanyakan mengapa begitu hebat konsentrasi media massa untuk memerangi Al Qaidah dan usaha untuk menumpasnya yang telah disepakati oleh toghut-toghut baik Arab maupun Ajam ? Dan apakah Husni Mubarak termasuk pemimpin yang adil dan berbuat baik ? Ataukah dia termasuk pemimpin yang dzalim dan menyimpang ?

Dalam buku tersebut, Syekh Aiman juga menyatakan bahwa Al Qaidah sangat menginginkan untuk menjauhi dari tertumpahnya darah-darah kaum Muslimin, dan sesugguhnya mereka tidak berjihad kecuali demi menyelamatkan mereka. Garis kebijaksanaan operasi jihad yang ditempuh Al Qaidah dalam menghadapi serangan kaum salibis terhadap negeri-negeri Islam adalah sebagai berikut :

a. Memukul target-target milik salibis dan zionis
b. Berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengubah sistem tatanan yang rusak ini dan menegakkan sistem dan tatanan Islam

Syekh Aiman juga menerangkan kesalahan-kesalahan metodologi secara umum kitab Al Watsiqoh (Menggugat Al Qaidah) karya Dr Fadl, misalnya tidak menyinggung sama sekali sebab-sebab kesalahan yang dituduhkan dan tidak mencantumkan apa kesalahannya, tetapi langsung melompat kepada solusinya, dan sikap lari secara sembunyi dari menyebutkan hal-hal tersebut agar supaya di dalam kitab Al Watsiqoh tidak ada sesuatu yang menyusahkan penguasa Mesir yang sedang berkuasa, yakni Husni Mubarak.

Selain itu, solusi atau resep yang ditawarkan dalam kitab Dr Fadl ini tidak realistis dan tidak praktis, serta tidak masuk akal yang mana hanya pada enam pilihan saja, yaitu : Hijrah, uzlah, memaafkan, berpaling, sabar, dan menyembunyikan iman.

Dr Fadl mengatakan :

“Jihad bukanllah satu-satunya alternatif yang dibolehkan agama untuk menghadapi situasi ketika tidak ada lagi komitmen terhadap agama. Menurutnya ada cukup banyak alternatif yang bisa dijalankan, seperti berperang, dakwah, hijrah, uzlah, memaafkan, menghindari, dan bersabar.” (Menggugat Al Qaidah, Halaman 90).

Disamping itu, buku Dr Fadl juga tidak komitmen dengan metodologi ilmiah dan tidak pula amanat dalam menyampaikan ilmu, dimana dia menyembunyikan sebagian ucapan ahlul ilmi demi keinginan pribadi, agar tidak berlawanan dengan sesuatu yang telah diambil keputusannya dan ketetapan yang telah direncanakannya.

Sebagai contoh Dr Fadl dalam buku ini mengatakan bahwasanya dia bukan ‘alim (orang yang berilmu) dan bukan mufti (orang yang memberi fatwa), sedangkan buku yang dia tulis sendiri dengan tangannya ini penuh dengan ketetapan haram dan halal, keterangan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, kalau ini bukan termasuk pekerjaan para ulama dan para mufti, maka apa yang tersisa untuk mereka ???

Kekeliruan fatal yang menjadi pengetahuan umum adalah sering dikatakan bahwa Dr Fadl merupakan figur ulama Al Qaidah terpenting dan dua kitabnya yang masyhur adalah bagian dari dustur Al Qaidah yang tidak boleh menyimpang darinya. Lebih fatal lagi Sabili Publishing dalam buku yang diterbitkannya, Menggugat Al Qaidah, mengatakan bahwa Dr Fadl adalah pendiri Al Qaidah.

Padahal, Syekh Ayman berlepas diri dari sebagian pemikiran Dr Fadl, terutama dalam sebagian pengkafiran yang dianggap melampaui batas yang terdapat dalam kitab karya beliau, yakni Al Jamie’, ketika mengkafirkan secara ta’yin (personal) terhadap anshor thowagit dari para tentara, polisi, dan lain sebagainya.

Maka, bagaimanakah kitab tersebut bisa dikatakan sebagai dustur bagi Al Qaidah, sedangkan mereka menyanggah sebagian pendapat dalam kitab tersebut ?

Dustur Al Qaidah adalah Al Qur’an dan As Sunnah, adapun kitab-kitab ahlul ilmi dan karangan-karangan mereka maka ada yang diambil dan ada pula yang ditolak. Begitu pula kitab Al Jamie’ karya Dr Fadl, kedudukannya sebagaimana kitab-kitab ulama yang lain.

Syekh Ayman secara tegas membantah tuduhan Dr Fadl bahwa mujahidin menyerang orang Barat di jantung negara mereka karena nafsu untuk menumpahkan darah. Beliau mengatakan :

“Para mujahidin tatkala mereka menyerang orang-orang Barat di jantung negaranya dengan operasi syahid, mereka tidak menyerangnya karena orang-orang Barat tersebut telah mengingkari perjanjian dan bukan pula karena nafsu untuk menumpahkan darah dan bukan pula karena mereka (mujahidin) setengah gila dan bukan pula karena putus asa dan frustasi sebagaimana telah digambarkan oleh banyak orang…Akan tetapi mereka menyerang orang-orang Barat itu dalam keadaan terpaksa melakukannya demi mempertahankan umat mereka dan kehormatan mereka dari serangan yang amat keji yang terus menerus selama berabad-abad. Karena sesungguhnya Mujahidin tidak memiliki sarana lain dalam mempertahankan diri dari serangan tersebut, selain operasi syahid dan selain menjadikan orang-orang Barat sebagai target di medan perang, dan memukul perekonomiannya serta markas-markas komandonya. Dan Mujahidin dalam melakukan serangan-serangan ini dalam rangka menunaikan Jihad Daf’in (jihad mempertahankan diri), mereka dalam hal ini senantiasa memperhatikan hukum-hukum syara’ dan meminta fatwa dari para ulama yang jujur lagi bebas merdeka. Dan mereka dengan operasi-operasi tersebut hanya mengharapkan ridho Allah semata.”

Syekh Ayman menlanjutkan :

“Kami tidak menyeru manusia kepada jihad yang acak-acakan dan membabi buta, bahkan kami menyeru manusia untuk mengorganisir kekuatan mereka dan mengkonsentrasikan segala fasilitas yang mereka miliki dan mempersiapkan segala penyebab yang dapat terlaksananya jihad, dan mereka janganlah menunda-nunda untuk melaksanakan itu semua meskipun mereka tidak mampu berjihad dengan tangan kapan saja, maka supaya mereka mempersiapkan persiapan mudah-mudahan dengan itu Allah menguatkan mereka dan memberikan kemenangan kepada mereka atau generasi berikutnya yang akan memetik buah perjuangan mereka, karena sesungguhnya usaha untuk menghasilkan kekuatan dan kemampuan untuk berjihad wajib hukumnya dan diperintahkan oleh syara’.”

Kesimpulan

Buku Menggugat Al Qaidah ; Rasionalisasi Jihad di Mesir dan Dunia karya Dr Fadl atau Syekh Abdul Qadir Abdul Aziz ini termasuk buku pesanan penguasa (Mesir dalam hal ini) yang menyeru kepada ummat untuk menyerah dan mengalah dari jihad fie sabilillah. Sementara Mujahidin tetap istiqomah menyeru ummat untuk bangun, bangkit, melawan, berjihad, dan mencari syahadah (mati syahid). Dengan demikian, judul yang cocok untuk buku ini seharusnya adalah “Menggugat Al Qaidah : Merasionalisasi Jihad Dunia Dari Penjara Mesir”.

Kepada penulis buku ini, Dr Fadl, atau Syekh Abdul Qadir Abdul Aziz, kita tidak mengetahui bagaimana situasi dan kondisi beliau yang sebenarnya ketika dipenjara, sehingga menghasilkan karya yang bertentangan dengan semangat jihad beliau sebelumnya.

Hanya saja sudah maklum bahwa ketika berada dalam penjara, sebagai tawanan beliau dalam keadaan lemah lahir maupun batin yang memungkinkan munculnya pelbagai kondisi termasuk sikap At Tara’ju’ yakni berpaling dari amal jihad, sehingga lahirlah buku yang kontraproduktif untuk jihad itu sendiri. Wallahu’alam!

Tentu saja, serangan dan gugatan yang dilancarkan oleh Dr Fadl atau Syekh Abdul Qadir Abdul Aziz, yang nota bene tetap dianggap sebagai ulama Mujahidin yang berpengaruh, bahkan dianggap sebagai pendiri Al Qaidah, akan menyenangkan pihak musuh-musuh Islam, khususnya Amerika dan antek-anteknya. Tidak heran kalau buku ini mendapat tempat dan kesempatan untuk disebarluaskan di seluruh penjuru dunia dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

Untuk itu kaum Muslimin harus sadar dan mengerti tentang masalah ini dengan sebenar-benarnya dan tidak hnaya ikut-ikutan menyebarluaskan pemikiran syubhat tentang jihad dan perjuangan kaum Muslimin.

Alhamdulillah, atas idzin Allah, Syekh Ayman telah berhasil membongkar semua syubhat dalam buku Menggugat Al Qaidah, dan menerangkan persoalannya satu persatu dengan sedetail-detailnya serta menyanggah dan menjawab setiap tuduhan dan gugatan yang ada. Buku semacam inilah, yakni At Tabriah, yang seharusnya diterbitkan dan kemudian dipublikasikan, sehingga kaum Muslimin dan seluruh Mujahidin di seantero dunia senantiasa sabar dan istiqomah di atas kebenaran. Wallahu’alam bis Showab!

By: M. Fachry
Arrahmah.Com International Jihad Analys
Selengkapnya...

Fenomena Takfir di Tengah Kaum Muslimin

Sebut saja namanya Ahmad, seorang aktivis sebuah pergerakan Islam. Semangatnya dalam menuntut ilmu tidak diragukan. Ke manapun ada kajian keislaman ia ikuti. Haus akan keilmuan ini sebanding dengan usianya yang masih cukup muda, 17 tahun. Di kalangan teman-temannya, Ahmad termasuk pemuda rajin, tekun dan cerdas.

Ahmad amat tegas. Masyarakat menyebutnya pemuda yang radikal dan keras. Menurut Ahmad masyarakat sekarang banyak terjerumus dalam perbuatan bid’ah, khurafat dan takhayul, bahkan sampai pada tingkat kemusyrikan. Ahmad tidak mau bergaul dengan masyarakat. Jika di rumah ia selalu menyendiri, tidak mau keluar kecuali ke tempat ia biasa mengaji.

Dalam memandang pemerintah, Ahmad meyakini bahwa pemerintah ini adalah pemerintahan kafir. Menurutnya, semua komponen yang terlibat di dalamnya adalah KAFIR. Pemimpin tertingginya, para pembantunya, perangkat-perangkat di bawahnya, dan siapapun yang terlibat dengannya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dinilainya telah KAFIR.

Lebih tegas lagi Ahmad meyakini, siapapun yang tidak mengkafirkan mereka, maka ia juga telah KAFIR. Hal ini disandarkan terhadap perkataan Syaikh Abdullah bin Abdul Wahhab berkenaan tentang 10 pembatal keimanan, yang salah satunya berbunyi, “Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik atau ragu terhadap kekafiran mereka atau (justru) membenarkan madzhabnya maka ia telah KAFIR.”

Lain Ahmad, lain pula Atsari. Pemuda 30 tahun ini juga salah seorang aktivis muslim, namun ia tidak mau disebut aktivis. Menurutnya, kata-kata aktivis tidak ada dalam kamus Islam sehingga bernuansa bid’ah. Atsari sering mengikuti berbagai kajian keislaman, baik di daerah tempat tinggalnya atau di luar daerah. Pakaiannya khas, gamis panjang dengan celana di atas mata kaki. Atsari amat alergi dengan kata pergerakan, apalagi jihad dan perjuangan. Menurutnya, jihad tidak mungkin dapat dilakukan kecuali dalam jiwa kaum muslimin yang betul-betul bersih, murni, tanpa noda syirik maupun maksiat setitik pun.

Atsari bersikap agak permisif untuk orang-orang yang dengan bangga berbuat maksiat dan dosa-dosa besar yang terkadang bersifat menyeretnya sampai pada batas-batas riskan jatuh ke lubang kekafiran. Dia juga memandang bahwa mengkafirkan orang adalah tindakan yang sangat radikal dan hanya dimiliki oleh orang yang berfikiran dangkal. Makanya, dia lebih cenderung menghindari tindakan-tindakan demikian. Apalagi, kalau sudah menyangkut-nyangkut urusan sensitive tentang pemerintahan, dia memilih diam.

Dalam keyakinannya, selama seorang pemimpin masih menampakkan symbol-simbol keislaman, ia masih tetap muslim dan tidak boleh dilawan. Dengan kata lain, ia masih pemimpin muslim yang boleh ditaati, sekalipun system pemerintahan yang diberlakukannya, undang-undang yang diterapkannya diadopsi dari sumber-sumber kufur, di luar ajaran Islam.

Ilustrasi tadi berusaha menggambarkan fenomena yang dewasa ini cukup mengemuka di tengah masyarakat muslim. Muara yang hendak dituju ialah sikap kedua pihak dalam memposisikan persoalan takfir. Terutama, yang kerap menjadi persoalan pelik adalah pada tataran takfir mu’ayyan. Di mana, seringkali orang dihadapkan pada pertanyaan, apakah si fulan telah kafir karena melakukan demkian dan demikian.

Pembicaraan seputar takfir (menyatakan seorang telah kafir/murtad), adalah satu hal yang sangat membutuhkan perhatian dan kehati-hatian. Sebab, persoalan ini memiliki potensi MENIMBULKAN FITNAH dan COBAAN BESAR. Di titik ini terdapat perselisihan dan silang pendapat, serta memungkinkan adanya unsure HAWA NAFSU MANUSIA yang ikut terlibat dan dalil-dalil yang mereka (gunakan) padanya saling berbenturan. Sehingga, tak jarang dijumpai perdebatan terjadi di tengah umat ini.

Pada titik ekstrem, ada dua kelompok yang saling bertolak belakang. Satu pihak memegang sikap TIDAK MAU MENGKAFIRKAN SIAPAPUN yang sudah menjadi ahlu qiblah (muslim), sementara pihak yang SANGAT MUDAH MENJATUHKAN VONIS KAFIR kepada orang lain dengan sebab dosa apapun (besar atau kecil).

Efek Takfir Berlebihan (ghuluw)

Sebagaimana kita tahu bahwa Islam memiliki konsep iman dan konsep kafir. Oleh sebab itu, bisa dipahami bahwa ada pagar yang memisahkan antara keduanya, antara mukmin dan kafir. Tak jarang terjadi, orang yang tadinya memeluk Islam kemudian berubah keyakinan dengan memeluk kristen, hindu, budha, atau yang lain. Artinya, dia menyandang status sebagai seorang kafir, dia telah jelas keluar dari Islam. Yang agak berat adalah jika ada orang yang berbuat tindakan-tindakan kekufuran namun dia tidak menyadari atau tidak mengakui bahwa dirinya melakukan tindakan berbahaya yang mengancam hilangnya iman dari dirinya.

Ranah takfir muayyan ini, adalah ibarat sebuah medan berat. Dahulu, di masa khilafah Islam, tugas menjatuhkan vonis kafir kepada orang atau kelompok tertentu yang terbukti melakukan tindak kekufuran, adalah wewenang umara dengan di dampingi ulama. Sekarang ini, meski para ulama telah membahas dan merinci point-point tindakan dan perbuatan yang menjadi factor penyebab kekafiran seseorang serta kode-kode etik dalam takfir muayyan, namun pada prakteknya tidak bisa SERTA MERTA MUDAH DITERAPKAN. Dengan kondisi semacam hari ini, akan sangat sulit sekali, karena umat Islam dihadapkan pada kenyataan ketiadaan institusi yang memegang otoritas untuk menjalankan konsekuensi dari penjatuhan vonis kafir kepada seseorang individu serta mengantisipasi ekses-ekses yang mucul setelah itu.

Munculnya gerakan-gerakan Islam yang berkomposisi pemuda-pemuda dengan semangat pembelaan dien yang tinggi, telah memberi warna tersendiri dalam dunia pergerakan Islam. Alur gerak perjuangan yang begitu dinamis, lambat laun menghantarkan mereka tiba pada sebuah tuntutan untuk menetapkan lawan. Lawan yang akan sangat menentukan strategi mana yang harus dipilih sebagai rangkaian jihad fie sabilillah. Dari sini kemudian muncul fitnah itu, ghuluw dalam TAKFIR. Bahkan, terkadang pengkafiran itu tidak berhenti pada pada pihak-pihak yang memang sejak semula disinyalir melakukan tindakan kekufuran. Namun, melebar menuju pengkafiran yang dialamatkan kepada setiap orang yang berseberangan dengan mereka dalam masalah-masalah wasa’ilut taghyir (sarana perubahan untuk menegakkan khilafah).

Tak sedikit dijumpai, karena adanya KEKURANGTEPATAN ketika memahami rambu-rambu dan kode etik pengkafiran, seseorang terjebak pada sikap sangat ekstrem. Dia mudah sekali memvonis orang lain sebagai telah keluar dari islam (murtad). Akhirnya, mucul hal-hal yang lebih cocok untuk dikatakan sebuah “fenomena”. Ada orang yang tidak bersedia sholat di belakang imam yang bekerja sebagai pegawai pada dinas atau instansi pemerintahan tertentu lantaran menurutnya dia KAFIR. Ada kemudian orang yang menghalalkan pencurian barangm harta-benda milik anggota keluarganya sendiri untuk pendanaan perjuangan Islam, dengan alas an itu adalah fa’i.

Efek yang juga tidak mustahil terjadi dan lebih mengerikan lagi, adalah KEMUNGKINAN TINDAKAN PENGHILANGAN NYAWA ORANG LAIN BIGHOIRI HAQ. Dan akhirnya, kekacauan timbul, kekacauan timbul. Kekacauan itu bisa saja MERUGIKAN PERJUANGAN ISLAM, MENCIPTAKAN STIGMA BURUK PEJUANG-PEJUANG ISLAM DI MATA UMAT SENDIRI DAN MEMBUAT BANGUNAN PERJUANGAN ISLAM YANG MULAI TERSUSUN RAPI MENJADI RUNTUH KEMBALI. Karena bisa jadi umat yang pada awalnya bersimpati terhadap JIHAD ini kemudian lari dan tidak simpatik terhadap perjuangan Islam akibat kesalahan-kesalahan yang dialamatkan kepada MUJAHIDIN.

Rasulullah S.A.W. mewanti-wanti umatnya agar menghindari sikap GHULUW. Beliau sabdakan : “Jauhilah oleh kalian smua ghuluw, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian celaka lantaran ghuluw dalam urusan dien (agama).” (HR. Ahmad)

Lebih lanjut beliau memeperingatkan, Jika seorang berkata pada saudaranya “Hai Kafir”, maka telah terkena salah seorang dari keduanya. (HR. Al Bukhori)

Pata ulama yang mengkhidmatkan diri untuk jihad menegakkan kalimat Allah inipun telah banyak memperingatkan lewat berbagai buku yang mereka tulis. Diantara buku kontemporer yang turut memperkaya khazanah referensi dalam persoalan ini, misalnya, “Qawa’idu fi Takfir” karya Abu Bashir Ath Thurtusi, “Ar Risalah Ats Tsalaatsiniyyah fi tahdzir minal Ghuluwwi fi Takfir” karya Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi, serta “Ju’natul Mutibiin” karya Abu Qatadah al Filistiniy serta “Qawa’idud Takfir” karya Abdul Qadir bin Abdul Aziz.

Imam Ibnu Taimiyah mengungkapkan, “Ketahuilah, bahwa permasalahan takfir dan tafsiq adalah sebuah istilah dan hokum yang berkaitan erat dengan janji dan ancaman di akhirat. Dan berkaitan dengan perwalian dan permusuhan serta pembunuhan dan penjagaan (jiwa seseorang) serta yang lainnya di dunia. Dan sesungguhnya Allah Subhanahu Ta’ala mewajibkan jannah bagi orang yang beriman serta mengharamkan jannah bagi orang-orang kafir. Dan inilah HUKUM MENCAKUP SETIAP WAKTU DAN KEADAAN.” (Majmu’ul Fatawa, 12/251)

Beliau mengatakan, “Salah dalam istilah iman dan kufur tidak sebagaimana salah dalam masalah yang lain. Karena hukum seorang di dunia dan akhirat erat kaitannya dengan istilah iman, islam, kufur dan nifaq.” (Majmu’ul Fatawa, 7/246)

Kata “salah” yg dimaksud pada ungkapan beliau di atas, bisa jadi meremehkan atau melampaui batas dalam hal iman dan kufur. Artinya, tidak mengkafirkan orang-orang yang jelas kafir atau mengkafirkan saudaranya sendiri (muslim) adalah BENTUK KESALAHAN YANG HARUS DI JAUHI. Sebagai solusinya adalah MEMPELAJARI KITAB-KITAB PARA ULAMA’ DAN BERUSAHA UNTUK TIDAK MUDAH MENGKAFIRKAN SEBELUM JELAS KEKAFIRAN MEREKA.

Efek Meremehkan Konsep Takfir

Kecenderungan kelompok kedua yang tampak ingin menihilkan konsep takfir, juga tidak bisa diterima. Sebab, seperti telah dibahas, takfir MERUPAKAN SATU BAGIAN ISLAM, YANG DITUJUKAN OLEH RATUSAN AYAT AL QUR’AN. Dan dahulu, Rasulullah beserta sahabat pun pernah menerapkannya pada beberapa kasus, secara proporsional.

Banyak orang yang meletakkan syarat-syarat yang tidak seharusnya, terlalu ketat sehingga seakan mustahil bisa memvonis kafir orang yang memang sudah masuk kategori murtad. Dan beberapa di antaranya melangkah terlampau jauh sampai mengatakan bahwa tidak diperbolehkan menyebut orang lain KAFIR WALAUPUN MEREKA ADALAH KRISTEN ATAU YAHUDI! Kelompok ini terutama diwakili oleh aktivis pendukung pluralisme.

Mereka menganggap memeluk agama apapun sama saja. Sehingga tidak boleh menyakiti mereka dengan sebutan-sebutan kafir atau semisal. Mereka berargumen, atau lebih tepatnya menuduh, konsep takfir yang ada dalam Islam sebagai kultur yang terlahir dari kristalisasi rasa sentimen pribadi dan “ketidaksukaan” akan yang lain (al ghair). Dan mereka mengalamatkan tuduhan serta kecaman kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, kerana mereka anggap sebagai pencetus awal pemikiran takfir ini.

Kemudian ada kelompok yang menolak takfir karena prinsip-prinsip semacam ini identik dengan kaum khawarij yang hobi mengkafirkan para pelaku dosa besar. Malahan, mereka menjadikan isu ini sebagai alat menyerang Islam, mujahid, dan ulama-ulama yang tsiqah dengan prinsip Jihad Fie Sabilillah, sebagai neo-khawarij. Padahal, jauh sekali perbedaan antara keduanya. Ahlus sunnah TIDAK SEMBARANG MENGKAFIRKAN ORANG LAIN KECUALI SETELAH DITELITI SESUAI DENGAN KAIDAH DAN DHAWABITH TAKFIR SECARA SYAR’I. Logikanya, APAKAH KITA TIDAK AKAN MENGATAKAN ORANG YANG MENCURI SEBAGAI PENCURI DAN ORANG YANG BERBUAT ZINA SEBAGAI PENZINA? Demikian analogi sederhananya.

Penolakan terhadap takfir, yang merupakan bagian dari aqidah Islam, akan menentukan kepada siapa harus berwala’ dan kepada siapa harus berbaro’. Padahal, masyarakat Islam yang tidak memiliki pegangan al wala’ wal baro’ yang jelas, pasti akan mudah dirusak dan ditindas. RINGKASNYA, JIKA AQIDAH TAKFIR (YANG PROPORSIONAL/TAWASUTH) DINIHILKAN, MAKA SAMA SAJA DENGAN MENIHILKAN AQIDAH AL WALA’ WAL BARO’, SERTA SYARIAT JIHAD FIE SABILILLAH DAN BERARTI MENEGASI AYAT-AYAT YANG BERBICARA MENGENAI HAL TERSEBUT.

STRATEGI BIJAK

Di titik-titik krusial seperti ini (takfir), SEHARUSNYA PARA RIJAL PERJUANGAN ISLAM MENIMBANG MATANG-MATANG. SETIAP STRATEGI DAN LANGKAH YANG DIAMBIL MEMBUTUHKAN PENINJAUAN DARI BERBAGAI DIMENSI. TENTUNYA KITA MENGHARAPKAN PERJUANGAN ISLAM MENUJU TEGAKNYA DIEN YANG KAFFAH, TERCAPAI DENGAN SEGALA KELENGKAPAN PROSES YANG DIPRAKTEKKAN RASULULLAH SEBAGAI AVANT-GARDE. (Hafizh – An Najah).

Wallahul Musta’an..

Sumber

Selengkapnya...

Konspirasi dibalik film kartun Tom end Jerry

Saturday, 26 December 2009

Tom and Jerry adalah sebuah serial animasi Amerika Serikat hasil produksi MGM yang bercerita tentang sepasang kucing (Tom) dan tikus (Jerry) yang selalu bertengkar. Rasanya kita semua juga sudah tahu pasti tentang film kartun yang satu ini. Atau barangkali diantara pembaca juga adalah penggemar film kartun ini. Tidak saya pungkiri, termasuk juga saya. Awalnya saya juga suka menonton film ini. Pokoknya kocak abis.. hehe..

Sampai suatu ketika, saya bersama teman-teman pulang dari Mith Ghamr. ketika kita naik mobil ke Tafahna sama2, salah seorang teman saya kepalanya kejedot mobil. mungkin karena beliau ini terburu2 jadi tidak sempat memperhatikan ke atas kalau pintu mobil mungkin terlalu rendah atau dia nya yang terlalu tinggi.

'Ala kulli haal, kejadian itu membuat saya dan teman2 tertawa. Mungkin lucu kelihatannya. Sampai saya menyadari kalau sebenarnya penumpang lain (orang Mesir) tidak ada yang tertawa. Malahan diwajah mereka terlihat raut wajah kasihan melihat teman saya yang kejedot kepalanya itu. Bahkan salah seorang dari mereka sempat keluar kata "Birahtak, ammi !"

Tawa saya mendadak berhenti setelah menyadari keadaan. Saya menyikut teman saya yang masih cekikikan. Hati saya miris melihat teman ini. Sudahlah kepalanya sakit, ditertawakan lagi. Saya segera minta maaf karena telah mentertawakan beliau. Walau sebenarnya saya dan teman2 sering sekali bercanda dan sering tertawa mentertawakan, cuma untuk kasus kali ini saya langsung minta maaf kepada beliau.

Sepanjang perjalanan dari Mith Ghamr ke Tafahna, saya termenung. Fikiran saya jauh melayang. Rabbi, Hati seperti apa yang saya miliki, sampai saya bisa tertawa senang diatas penderitaan orang lain. Berkali-kali saya istighfar. Apalagi yang membuat saya terhenyak, justru penumpang lain yang tidak ada hubungan apa2 dengan teman saya yang malang ini, justru mereka-lah yang kasihan. Padahal kenal enggak, warga negara mereka juga nggak. Sementara teman2 nya sendiri yang malah mentertawakannya. Saya dapat meresapi bagaimana sedihnya perasaan si teman ini. Sakit dikepalanya mungkin tidak seberapa dibanding sakit dihatinya.

Waktu itu juga saya muhasabah diri. Apa yang sudah saya makan, perilaku buruk apa yang sudah saya kerjakan hingga saya memiliki hati seperti ini. Mungkin juga karena saya terlalu banyak tertawa. "Kasirud dohak yamutul qalb" (terlalu banyak tertawa dapat mematikan hati). Tanpa disadari saya sudah memiliki 'qalbun maridh
' begini.

Selang beberapa hari setelah itu, saya menonton serial Tom and Jerry di komputer teman. waktu itulah saya kembali teringat kejadian mentertawakan teman yang kepalanya kejedot itu. Rupanya ini yang saya konsumsi sehingga menyebabkan
secara tidak sadar merubah perilaku saya seperti kedua hewan tikus dan kucing itu. tertawa diatas penderitaan orang lain.

Sadarkah kita kalau serial kartun ini memperlihatkan sekaligus mengajarkan perilaku kasar kapada kita? tidak hanya sekedar berkelahi, bahkan sampai main kapak, senapan, bahkan bom sekalipun. Tapi itu semua dikemas dalam cerita lucu. itu semua secara tidak kita sadari telah membentuk psikologis kita untuk menjadi manusia kasar. Kita tidak sadar telah terpengaruh dengan fikrah mereka, kalo hal2 yang sejatinya kasar tapi bagi mereka layak untuk ditertawakan.

Secara tidak sadar akan terbawa dialam nyata kita seperti kejadian salah seorang teman saya yang kejedot pintu mobil tadi. Dan kita menganggap kejadian seperti itu adalah lucu? jika iya, berarti kita sudah terkena 'fikrah sayyi'ah' yang telah diajarkan lewat tontonan seperti Tom and Jerry tadi. Jika jawabannya tidak, berarti anda masih punya nurani, hati yang masih sensitif terhadap solidaritas sesama. bersyukurlah ! [Tafahna Al Asyraf, 27 Des 2009/10 Muharam 1431]

Tambahan
berikut saya tambahkan beberapa film kartun yang terbilang kasar.

1. Happy tree friends
Meskipun tidak ditayangkan di TV Happy tree friends ada di youtube, dan jika anda pertama kali melihat tayangan ini mungkin anda akan berpikir bahwa ini hanyalah kartun komedi biasa namun setelah anda menonton pasti anda akan menemukan berbagai aksi sadis, namun ironisnya banyak anak anak yang menonton acara ini.

2. The simpsons
Meskipun tidak terlalu sadis, namun banyak juga adegan kasar dan sadis di acara ini, seperti Homer mencekik bart, lalu Homer yang selalu berbicara kotor, dan Bart yang bermain skateboard bugil.

3. Crayon shinchan
Mungkin acara ini sudah sering ditayangkan di TV namun seringkali kita melihat aksi kasar acara ini contohnya ketika misae menghajar sinchan hingga benjol, lalu sinchan menggoda wanita, sinchan juga sering mempertontonkan auratnya pada orang lain. Karena hal itu acara ini dianggap acara dewasa.

4. Family guy
Family Guy adalah film seri kartun televisi yang berasal dari Amerika Serikat. Diciptakan oleh Seth MacFarlane, serial ini menceritakan tentang keluarga Griffin yang terdiri dari Peter, Lois, anak-anak mereka Chris, Meg dan Stewie dan seekor anjing yang dapat berbicara bernama Brian. Seth MacFarlane juga menyuarai Peter, Stewie dan Brian. Karena lelucon-leluconnya dianggap kontroversial, serial ini dilarang diputar di berbagai negara seperti Albania, Filipina, Israel, Indonesia, Korea Selatan, Malaysia, Tiongkok dan Taiwan.

5. South Park
South Park adalah sebuah serial televisi kartun dari Amerika Serikat yang diciptakan dan ditulis oleh Matt Stone dan Trey Parker. Diedarkan dan ditayangkan oleh Comedy Central sejak 1997, seri ini menceritakan pengalaman empat anak Sekolah Dasar yang tinggal di suatu kota kecil di South Park, Colorado. Salah satu episodenya, berjudul Best Friends Forever, meraih Penghargaan Emmy pada tahun 2005 dalam kategori Program Animasi Terbaik. Namun kartun ini kebanyakan mengandung kata2 kasar.





Selengkapnya...

Kamera “Kebencian” Non-Muslim Inggris

Sunday, 20 December 2009

Amil Khan berpura-pura berprofesi sebagai tukang cat dan dekorator paruh waktu, sementara Tamanna Rahman yang berkerudung, berpura-pura sebagai seorang wanita yang hanya bisa berbahasa Inggris sepatah dua patah kata saja.

Dua orang ini melakukan investigasi langsung untuk mengetahui sifat rasialis orang Inggris, hanya beberapa bulan setelah Trevor Philips, Kepala Equality and Human Rights Commission mengatakan dalam sebuah wawancara, memiliki tetangga yang berbeda suku bangsanya tidak lagi menjadi masalah bagi masyarakat Inggris modern, jika dibandingkan dengan negara-negara lain.

Trevor Philips mengatakan, pernyataannya itu didasarkan pada hasil 2 jejak pendapat Mori, yang katanya menunjukkan mayoritas orang Inggris semakin bisa menerima keragaman atau perbedaan rasial.



Tapi kenyataan membuktikan, jauh panggang dari api.

Amil Khan dan Tamanna Rahman yang berwajah dan berkulit layaknya orang Asia dan tidak menunjukkan jika mereka fasih berbahasa Inggris, mendapatkan lebih dari 50 kali serangan bersifat rasial selama menetap di lingkungan perumahan Southmead. Tidak hanya berupa kata-kata hinaan, mereka bahkan mendapat serangan fisik.

Dua reporter BBC yang merupakan orang keturunan Asia Selatan, sengaja melakukan penyamaran untuk mengetahui tanggapan orang Inggris terhadap Muslim. Berpura-pura sebagai pasangan suami-istri Muslim, mereka tinggal selama delapan pekan di lingkungan perumahan Southmead di kota Bristol.

Sebelum film itu dibuat, Support Against Racist Incidents (SARI), kelompok yang memperhatikan serangan-serangan rasial di Inggris, menunjukkan kepada BBC bahwa Southmead adalah lingkungan di mana kekerasan rasial sering terjadi, di samping banyak tempat lain tentunya.

Lingkungan perumahan Southmead adalah lingkungan kelas pekerja kulit putih. Namun, beberapa tahun belakangan semakin banyak orang kulit hitam dan etnis minoritas pindah ke sana.

Sejak awal memasuki jalan di lingkungan itu, Amil dan Tamanna mendapatkan tatapan tak bersahabat.

"Kami mendapatkan tatapan yang paling dingin yang pernah saya alami," kata Tamanna.

Ternyata hal itu menjadi tanda atas apa yang akan segera dialaminya dalam dua bulan ke depan.

"Sering kali tiap keluar rumah saya mendapati dahi berkerut di wajah-wajah orang yang saya jumpai, dan umumnya sengaja dibuat untuk menunjukkan saya tidak diterima --baik ketika mereka berada di jalan, di kebun, sedang melihat dari jendela kamar, atau ketika mereka berada di dalam mobil."

"Kami orang baru di sana, dan tidak ada orang yang datang untuk sekedar menyapa. Butuh waktu satu minggu berada di sana ketika akhirnya ada sebuah senyuman dari seorang wanita paruh baya yang saya jumpai di jalan," cerita Tamanna.

Hari kedua, Tamanna mendapatkan sebuah lemparan batu ketika pulang dari berbelanja. Orang-orang bergumam membisikkan kata-kata kotor kepadanya ketika ia melintas. Selain itu ia juga dipanggil dengan sebutan "Paki." Paki adalah sebutan bernada menghina yang ditujukan kepada orang-orang Pakistan.

Selama dua bulan tinggal di Southmead, Tamanna mendapatkan lemparan gelas, kaleng, botol, dan batu.

"Saya hampir dirampok 3 kali dan diancam dengan batu bata,"

Seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun bahkan pernah akan merampas dompetnya dan mengancam akan membunuh Tamanna.

Seorang remaja laki-laki berkata kepadanya, "Saya akan meledakkanmu dalam satu menit."

"Saya dihina dua kali, disebut 'Paki bau' dan disuruh mandi. Pelecehan yang saya terima, termasuk sumpah serapah paling buruk yang bisa dibayangkan, baik itu dari anak-anak, remaja maupun orang dewasa," kata Tamanna.

Tidak jauh berbeda dengan Tamanna, Amil Khan mengalami hal serupa. Ia bahkan ditinju oleh seorang laki-laki kulit putih.

Ketika akan berjalan di trotoar, seorang lelaki kulit putih --sambil disaksikan temannya yang tertawa nyengir di pinggir pagar-- meneriakinya, "Bye-bye Paki."

Laki-laki itu kemudian berjalan keluar pagar dan mendekatinya seraya berkata, "Saya akan menghajar kepalamu." Seketika itu pula sebuah hantaman mendarat di kepala Amil Khan.

Pada satu malam di hari Jumat, Amil berjalan melewati sebuah lapangan, remaja-remaja kulit putih yang sedang berkumpul di sana mengganggunya.


Seorang remaja berjalan mendekatinya, sementara temannya yang lain berteriak, "Ia seorang Yahudi."

Seorang pemuda berkata dengan nada mengancam, "Jam sembilan."

"Ambil teleponnya, ambil teleponnya," begitu kata mereka sambil mengikuti Amil dari belakang.

Sebuah lemparan kaleng pun terlihat melayang ke arah kepalanya.

Amil berjalan melintasi sekelompok pemuda, mereka pun segera bersahutan meneriakinya, "Oi kamu Taliban! Ooh kamu Taliban!"

Seorang pemuda pura-pura bertanya, "Siapa namamu?" Lantas dijawab oleh seorang temanya yang lain, "Jihad."

Saat Amil sudah berada jauh dari mereka, masih terdengar teriakan, "Paki... Paki."

Amil bercerita, satu saat ketika ia sedang berjalan kaki, ada yang berkata dengan nada mengejek, "Tolong jangan ledakkan kami."

Tetap rasialis

Tahun 2000, ketika Tamanna masih berusia 16 tahun, di lingkungan sekolahnya yang multiras dan multikultur di Manchester, ia pernah ditanya oleh reporter berita dari sebuah televisi lokal. Memasuki millenium baru, apakah menurutnya rasisme di Inggris hanyalah merupakan bagian dari sejarah masa lalu?

Ketika itu dengan wajah yang cerah, naif dan optimis, ia menjawab, "Ya, rasisme telah mati."

Hari berganti, bulan berganti, dan tahun pun berganti, tapi apa yang berubah di Inggris mengenai rasisme? Jawabnya sekarang, tidak ada.

Sebelum Tamanna melakukan investigasi langsung, ia telah banyak mendengar cerita dari orang-orang yang mengalami kekerasan rasial, termasuk dari teman-temannya sendiri.

Pengalaman pahit selama delapan pekan di Southmead rupanya begitu membekas pada diri Tamanna. "Saya sudah kembali ke Manchester sekarang, tapi saya masih berusaha menguatkan diri tiap kali saya berjumpa dengan sekelompok anak-anak yang bersepeda atau remaja yang berkumpul di pojok jalan. Meskipun anak-anak Manchester belum pernah punya masalah dengan saya, tapi sekarang (perasaan itu) seperti menjadi naluriah."
Dengan menggunakan kamera tersembunyi, Amil Khan dan Tamanna Rahman merekam semua perlakuan yang mereka terima dari orang-orang Inggris sejak pertama kali memasuki lingkungan Southmead. Pengalaman mereka itu ditayangkan di BBC pada Senin (19/10) dalam program Panorama, dengan judul "Hate on The Doorstep".
Sumber
Selengkapnya...

Membela Islam, Menolak Terorisme!

Monday, 23 November 2009

Muqaddimah
Istilah “teroris” atau “terorisme” sebenarnya tidak dikenal dalam khazanah klasik Islam. Maka ia, sejatinya, pure terminologi Barat yang sengaja diopinikan untuk memberi kesan bahwa Islam adalah teroris, mengajarkan terorisme. Kesan Islam sebagai agama terror, terrorist dan terrorism ini mencuat Pasca Tragedi runtuhnya gedung kembar WTC, 11 September 2001.

Tragedi ini, menurut Esposito, menjadi titik yang menentukan dalam sejarah Islam politik dan sejarah dunia, mendandai batas kemungkinan kaum ekstrimis Muslim mampu menjadi ancaman global, khususnya daya tarik ancaman Osama bin Laden dan Al-Qaeda.[3]

Dan memang, tegas Esposito, umat Islam saat ini menghadapi masalah-masalah kritis untuk melakukan reformasi dan untuk secara lebih agresif menghadapi ancaman terhadap Islam dari para ekstrimis. Hambatan-hambatan religius yang berhat harus dihadapi: ultrakonservatisme kebanyakan (tidak semua) ulama; reformasi kurikulum dan pendidikan agama, para guru, dan santrinya; dan khususnya reformasi di madrasah dan universitas yang menyuburkan “Teologi Kebencian”, serta untuk mendiskreditkan ide-ide dan ideologi jihad militant. [4]

Apa yang dikatakan oleh Esposito tentu saja tidak seluruhnya benar. Oleh karena itu perlu analisis lebih mendalam lagi tentang doktrin-doktrin Islam mengenai beberapa konsep yang tertuang di dalam teks-teks keagamaan (Al-Qur’an dan Sunnah, khususnya). Ini lah yang coba dipaparkan dalam tulisan yang sederhana ini.

I. Terorisme: Dari Islam?
Istilah terorisme, seperti disinggung sebelumnya, bukan konsep Islam. Oleh karena itu, kata ini tidak ditemukan di dalam khazanah klasik umat Islam. Oleh karena itu, istilah ini adalah baru. Dalam bahasa Arab sendiri, kata “terorisme” diidentikkan dengan kata al-irhâb, yang bermakna takhwif dan tafzi‘ (intimidasi). Sementara teroris, disebut dengan irhâbi (pluralnya: irhâbiyyun), yaitu: orang-orang yang menempuh jalan jalan kekerasan (al-‘unuf) dan terror, untuk mencapai tujuan politis mereka (al-ahdâf al-siyâsiyyah). [5]

Oleh karena itu, jika ada pihak-pihak yang menempuh cara-cara tersebut, maka dia layak disebut “teroris”. Hanya saja, terkadang banyak tuduhan yang salah kaprah. Sehingga setiap orang yang berjenggot dan ke-Arab-Araban juga sering dituduh sebagai teroris. Maka tak jarang, dakwah Islam dimasukkan ke dalam daftar terorisme. Tentu saja ini tidak benar dan tak dapat dibenarkan. Ini lebih tepat disebut sebagi pemburukan image dan citra Islam. [6]

Oleh karenanya, perlu dikemukakan bahwa tuduhan terhadap Islam dan umatnya tidak lebih sebagai cara untuk menyudutkan Islam dan umatnya. Dalam hal ini, penulis berkeyakinan bahwa itu hanya kesalahpahaman, namun bisa jadi sebagai bentuk penyalahpahaman terhadap Islam dan umatnya. Karena ternyata masih banyak yang berpandangan bahwa Islam adalah agama teroris dan terorisme. Oleh karenanya banyak mengajarkan aksi kekerasan. [7] Ini akan dibahasa pada poin berikut ini.

II. Islam yang Dimusuhi: Benturan Peradaban dan Sekularisasi
Berbagai tuduhan terhadap Islam dan umatnya sebagai teroris dan pelaku terorisme sebenarnya lebih layak disebut sebagai kesalahpahaman, mungkin juga penyalahpahaman. Oleh karena perlu dijelaskan bahwa Islam tidak memiliki doktrin kekerasaan seperti banyak dituduhkan oleh musuh-musuh Islam akhir-akhir ini. Seperti akan dijelaskan berikut ini, Barat-Kristen sudah sejak lama menabuh gendang permusuhan terhadap Islam. Salah satunya dengan mencoba menanamkan hal-hal yang tidak pernah dikenal dalam Islam.

Menurut dua penulis Barat terkenal, Edward Mortimor dan Ernest Gillner, dalam International Affairs (Cambridge, 1991), bahwa invasi Barat terhadap Islam –pasca runtuhnya Komunisme—ingin menyeret Islam ke dalam kotak sekularisme. Oleh karenanya, musuh baru setelah runtuhnya Komunisme, menurut mereka adalah Islam. Alasannya, karena Islam menolak pemisahan antara hak Allah dan hak kaisar…[8], alias pemisahan agama dan politik.

Tentu saja keliru, jika Barat, seperti yang dipersepsi oleh Gillner dan Mortimor, jika ingin menyamakan Islam dengan pengalaman dunia Kristen di Barat. Dimana mereka melakukan pemisahan antara agama dan politik.

Lebih dari itu, pendapat lain yang dikemukakan Huntington lebih memberikan gambaran jelas bagaimana Islam harus dimusuhi pasca runtuhnya Komunisme Soviet. Huntington mencatat:
“The twentieth-century conflict between liberal democracy and Marxist-Leninism is only a fleeting and superficial historical phenomenon compared to the continuing and deeply conflictual relation between Islam and Christianity.” [9]

Selain itu, Huntington sebenarnya ingin mengatakan kepada kita bahwa konflik dan clash (benturan) yang terjadi antara Islam dan Barat adalah “peradaban” (civilization), bukan yang lainnya. Karena dia yakin benar bahwa kedua peradaban –Islam dan Barat Kristen—sangat berbeda. Tentang hal ini, Huntington mengakuinya dengan jujur ketika dia memaparkan tentang karakteristik kultur Amerika Serikat, yaitu: (a) agama Kristen, (b) nilai-nilai moralitas Protestan, (c) etika kerja, (d) bahasa Inggeris, (e) tradisi hukum bangsa Inggeris, (f) sistem kekuasaan pemerintahan yang terbatas, (g) khazanah seni dan sastra, (h) filsafat dan (i) musik yang berasal dari Eropa. Ini masih ditambah dengan kepercayaan bangsa Amerika tentang prinsip-prinsip liberal, persamaan, individualisme, perwakilan pemerintahan dan kekayaan pribadi. [10]

Jadi, menurut Huntington, konflik antara demokrasi liberal dan Marxis-Leninisme sifatnya hanya sementara dan merupakan fenomena sejarah yang tidak serius. Konflik yang sesungguhnya terjadi adalah antara Islam dan Kristen. Yang diinginkan oleh Mortimor, Gillner dan Huntington adalah membenturkan Islam dengan budaya dan peradaban Barat. Tujuan akhirnya adalah: agar Islam mau menerima bentuk kebudayaan (culture) dan peradaban (civilization). Meskipun demikian, pendapat Huntington telah dikritik oleh Ronald Inglehart dan Pippa Norris. Menurut mereka, dalam The True Clash of civilization, perbedaan antara Islam dan Barat adalah berkaitan dengan kesetaraan gender dan kebebasan seks. Jadi, yang terjadi antara Islam dan Barat adalah benturan peradaban seks (Sexual clash of Civilization). [11]

Kritik terhadap Sekularisme-Sekularisasi
Tentu saja keliru, jika Barat ingin mensekularkan Islam dan menyeretnya ke dalam peradabannya yang sangat jauh dari agama itu. Karena sekularisme sangat bertentangan dengan worldview Islam. Bahkan sejatinya, sekularisasi adalah bentuk krisis peradaban Barat sejak lama. Karena Islam dan Barat tidak lah sama –dan tidak bisa disama-samakan—apakah sebagai agama, maupun sebagai satu peradaban. [12]

Oleh karenanya, Al-Attas sangat tajam mengkritik paham sekularisme yang lahir dan berkembang di Barat ini. Karena Islam adalah: konsep agama dan fondasi dari etika dan moralitas.[13] Oleh karenanya, sekularisme ini tidak dapat dimasukkan ke dalam worldview Islam, karena memiliki beberapa komponen integral yang bertentangan dengan pandangan hidup Islam: (a) disenchantment of nature (pemisahan alam dari Tuhan, gagasan August Comte); (b) desacralization of politics (desakralisasi politik), dan (c) deconsecration of values (menghancurkan nilai-nilai, merelatifkan semua bentuk kreasi kultural).[14] Oleh karena itu, menurut Soren Krarup, sekualirsme adalah satu ideologi yang berbahaya dan sakit (a dangerous and a sick ideology).[15] Bahkan, dalam satu perdebatan antara Rev. Dr. McCann dan Charles Bradlaugh, disimpulkan bahwa sekularisme itu tidak filosofis, immoral dan anti-sosial.[16] Ini masih menurut pendapat pemikir dan teolog Barat, konon lagi jika dikaitkan dengan Islam.

Menolak secular, secularization dan secularism, Al-Attas mencatat dengan tegas bahwa hal itu ditolak oleh Islam:
“Islâm totally rejects any application to itself of the concepts secular, or secularization, or secularism as they belong and are alien to it in every respect; and they belong and are natural only to the intellectual history of Western-Christian religious experience and consciousness.”[17]

Pada bagian lain, Al-Attas juga mencatat:
“Not only is secularization as a whole the expression of utterly unislamic worldview, it is also set against Islâm, and Islâm totally rejects the explicit as well as implicit as well as implicit manifestation and ultimate significance of secularization; and Muslims must therefore vigorously repulse it wherever it its found among them and in their minds, for it is as deadly poison true faith (imân). The nearest equivalent to the concept secular is connoted by the Quranic concept of al-hayât al-dunyâ: ‘the life of the world’, or ‘the worldly life’. The word dunyâ, derived from dana, conveys the meaning of something being ‘brought near’: so that the world is that which is brought near to the sensible and intellible experience and consciousness of man.”[18]

III. Islam dan Aksi Kekerasan
Berdasarkan pengalaman Barat-Kristen, banyak para penulis Barat yang menuduh Islam sebagai agama teroris: suka melakukan tindakan kekerasaan dan terorisme. Bahkan ada yang menyamakan ayat-ayat “kekerasan” (violence) dalam Bible dengan ayat-ayat Al-Qur’an.

Jack Nelson-Pallmeyer, misalnya, setelah mengutip Qs. 45: 7-11, 4: 84, dan 33: 25-27 menyimpulkan bahwa: “These and many other verses in the Quran indicate that violence-of-God traditions are not limited to the “sacred text” of Jews and Christians. Allah sends unbelievers to a fiery hell. Strongest in might, Allah restrains the power of unbelievers and delivers their land, house, and other booty to the faithful. Images of an all-powerful, violent God dominate the Quran as they do the Bible.[19]

Apa yang dinyatakan oleh Jack Nelson tentu saja tidak dapat dibenarkan. Hal ini disebabkan oleh pendapatnya yang: pertama, berdasarkan pengalaman agamanya (Kristen) dalam memahami ayat-ayat kekerasan (violence) dalam Bible. Dan tentunya ayat-ayat Bible tidak dapat disamakan dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Kenapa? Karena: kedua, beberapa ayat yang dikutip oleh Jack Nelson dipahami olehnya secara literal. Padahal ayat sebelum (sibâq) dan setelah (lihâq)nya lepas dari perhatian Jack Nelson.

Beberapa ayat itu misalnya, Qs. 45: 7-11. Sebelum ayat 7, ayat 5-6 Allah menjelaskan fungsi Al-Qur’an yang menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Allah di langit dan di bumi, sebagai tanda bagi orang-orang beriman. Berikut tentang hal-ihwal kejadian manusia dan binatang-binatang sebagai tanda bagi mereka yang yakin. Dan, tentang pergantian siang dan malam, hujan yang turun dari langit (sumber rezeki), dengan hujan itu Allah menghidupan bumi yang sudah mati serta perkisaraan angin, menjadi tanda bagi orang-orang yang berpikir. Itu lah, kata Allah, ayat-ayat dibacakan dengan benar. Maka setelah perkataan Allah ini, dengan perkataan mana lagi yang layak diimani.

Baru kemudian, Allah menyatakan (ayat 7) bahwa celakalah bagi pendusta ayat-ayat Allah tersebut. Mereka akan dimasukkan ke dalam neraka. Karena telah menjadikan ayat-ayat itu sebagai olok-olok padahal Al-Qur’an menjadi petunjuk yang jelas agar tidak terjadi pengingkaran setelah penjelasan-penjelasan sebelumnya. Sedangkan ayat 12-37 Allah kembali menjelaskan tanda-tanda kebesarannya kepada manusia. Ringkasnya: ayat-ayat ini tidak berbicara tentang kekerasan. Allah hanya bersikap tegas terhadap mereka yang mendustakan ayat-ayat-Nya.

Sedangkan Qs. 4: 84, memang berbicara tentang muqâtalah (saling memerangi) antara umat Islam dengan orang-orang munafiq, bukan orang-orang kafir. Karena mereka munafiq, maka tidak ada alasan untuk tidak diperangi oleh umat Islam. mereka itu lah yang menghambar perjuangan umat Islam, karena mereka adalah orang-orang yang lemah “iman” (dhi‘âf al-imân). Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam Qs. 4: 77, mereka menolak untuk berjihad. Mereka ini terbiasa menimpakan hal-hal yang buruk kepada orang lain (Qs. 4: 78). Oleh karenanya, mereka menyelisih perintah Rasulullah. Mereka juta tidak mau mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an.

Allah mengajarkan etika mu’amalah terhadap orang-orang munafiq itu. Jika mereka keluar (untuk membuat fitnah, seperti berkoalisi dengan pihak-pihak yang berperang dengan Islam), maka mereka harus ditangkap dan perangi. Karena orang-orang munafiq, menurut Syeikh Abu Zahrah, ibarat penyakit yang akut di dalam tubuh umat Islam. Maka bergaul dengan mereka harus hati-hati.[20]

Sedangkan Qs. 33: 25-27 juga demikian. Ini masih berkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya, yang berkenaan dengan sikap orang-orang munafiq (Qs. 33: 24). Karena diantara mereka ada yang menghalang-halangi umat Islam dari berjihad melawan pasukan al-Ahzâb (Qs. 33: 18). Mereka itu tidak mau berperang kecuali hanya sebentar saja (Qs. 33: 20). Barulah pada Qs. 33: 25 Allah mengusir orang-orang kafir. Dan kepada koalisi al-Ahzâb menurunkan rasa takut (Qs. 33: 26). Orang-orang munafiq dalam perang al-Ahzâb akhirnya memang ada yang mati, dan yang lainnya selamat dan diberi kesempatan untuk taubat (Qs. 33: 24).

Perang di sini pun berkaitan dengan pihak kaum al-Ahzâb yang melanggar perjanjian. Mereka kemudian bersekongkol untuk menyerang Rasulullah dan umat Islam. jadi, perang al-Ahzâb bukan tanpa sebab. Dan di sini pun umat Islam sifatnya defensif, tidak ofensif.

Islam bukan Agama Pedang
Ini bukan hanya Islam yang mengakui, melainkan orang-orang Barat pun mengakuinya secara jujur. George Sale (1697-1736 M), misalnya, menyatakan bahwa: “Hukum yang dibawa oleh Muhammad mendapat sambutan yang luar biasa di dunia ini. Orang-orang yang berilusi bahwa ia disebarkan oleh pedang benar-benar tertipu.”[21]

Hal yang sama juga dinyatakan oleh Thomas Arnold. Bahwa Islam tidak pernah menyebarkan ajarannya dengan pedang (kekerasan). Semuanya berjalan dengan etika yang santun, toleransi.[22]

Islam ringkasnya, seperti yang diturunkan oleh Allah, adalah agama rahmat yang diberikan untuk manusia. Maka jika ada orang-orang yang mencederai keagungan Islam ini, seperti aksi-aksi terorisme tak berdasar, tidak dapat terima. Oleh karenanya, aksi terorisme yang dilakukan oleh Imam Samudra dan yang lainnya di Indonesia adalah membajak Islam.[23]

Maka tidak benar jika Islam dituduh mengajarkan aksi kekerasan. Para ulama’ Islam pun tidak ada yang mengatakan hal ini. Mereka tidak seperti tindakan Paus Urbanus II di konsili Clermont ketika memberikan motivasi kepada pasukan Perang Salib ketika itu, ‘Deus lo volt’ (Ini kehendak Tuhan).[24] Wallâhu a‘lamu bi al-shawâb. "

*) Qosim Nursheha Dzulhadi, peminat Qur’anic-Hadith Studies and Christology. Staf pengajar di pesantren Ar-Raudhatul Hasanah, Medan.


Selengkapnya...

 
 
 

Other Sites Sugestion

* Ahlul Hadits wal Atsar (http://www.alathar.net/)
* Al-Menhaj (http://almenhaj.net/)
* Majalah Al-Ashalah (http://asaala.net/)
* Maktabah Misykatul Islamiyyah (http://www.almeshkat.net/books/)
* Maktabah Ruuhul Islam (http://islamspirit.com/)
* Maktabah Sahab Salafiyyah (http://www.sahab.org/)
* Maktabah Shayidul Fawaid (http://saaid.net/book/index.php)
* Markaz Albani (http://albanicenter.net/)
* Multaqo Salafiyyah (http://www.salafiyat.com/)
* Muntadiyat al-Barq (http://www.al-barq.net/)
* Abdul Azhim Badawi (http://www.ibnbadawy.com/)
* Abdul Aziz Alu Syaikh (http://www.sahab.ws/5600/news/3399.html)
* Abdul Aziz ar-Rajihi (http://www.sh-rajhi.com/rajhi/)
* Abdul Aziz ar-Rayyis (http://islamancient.com/)
* Abdul Aziz bin Bazz (http://www.ibnbaz.org.sa/)
* Abdul Aziz Bura’i (http://www.alburaie.com/new/index.php)
* Abdul Muhsin Abbad (http://www.alabad.jeeran.com/)
* Abdul Muhsin Ubaikan (http://www.obaykan.com/)
* Abdul Qadir al-Arnauth (http://www.alarnaut.com/)
* Abdullah al-Fauzan (http://www.alfuzan.islamlight.net/)
* Abdullah azh-Zhafiri (http://www.sahab.ws/6111)
* Abdullah Jibrin (http://www.ibn-jebreen.com/)
* Abdur Razaq Afifi (http://www.afifyy.com/)
* Abdus Salam Barjas (http://www.burjes.com/)
* Abu Abdil Muiz Firkuz (http://www.ferkous.com/rep/index.php)
* Abu Ashim al-Ghomidi (http://www.abouassim.net/)
* Abu Bakr al-Mishri (http://www.abu-bkr.com/)
* Abu Islam Shalih Thaha (http://www.abuislam.net/)
* Abu Malik al-Juhanni (http://abumalik.net/)
* Abu Umar al-Utaibi (http://www.otiby.net/)
* Ahmad Yahya Najmi (http://njza.net/web/)
* Ali Hasan al-Halabi (http://www.alhalaby.com/)
* Ali Ridha (http://www.albaidha.net/vb/)
* Ali Yahya al-Haddadi (http://www.haddady.com/)
* Alwi as-Saqqof (http://www.dorar.net/)
* Hisyam al-Arifi (http://www.aqsasalafi.com/)
* Imam al-Ajurri (http://www.ajurry.com/)
* Kholid al-Mushlih (http://www.almosleh.com/index.shtml)
* Lajnah Daimah (http://www.alifta.com/default.aspx)
* M Ismail Muqoddam (http://www.m-ismail.com/)
* M. Abdillah al-Imam (http://www.sh-emam.com/)
* M. al-Hamud an-Najdi (http://www.al-athary.net/)
* M. Aman al-Jami (http://www.aljami.net/)
* M. Ibrahim al-Hamd (http://toislam.net/)
* M. Khalifah Tamimi (http://www.mediu.org/)
* Majdi Arafat (http://www.magdiarafat.com/)
* Masyaikh Sudan (http://www.marsed.org/)
* Masyhur Hasan Salman (http://www.mashhoor.net/)
* Muhammad Al-Maghrawi (http://maghrawi.net/)
* Muhammad al-Utsaimin (http://www.ibnothaimeen.com/)
* Muhammad Musa Nashr (http://www.m-alnaser.com/)
* Muhammad Said Ruslan (http://www.rslan.com/)
* Muqbil bin Hadi (http://www.muqbel.net/)
* Musthofa al-Adawi (http://aladawy.info/)
* Nashir al-Barrak (http://albarrak.islamlight.net/)
* Nashirudin al-Albani (http://www.alalbany.net/)
* Robi’ al-Madkholi (http://www.rabee.net/)
* Sa’ad al-Hushayin (http://www.saad-alhusayen.com/)
* Said Abdul Azhim (http://www.al-fath.net/)
* Salim al-Ajmi (http://sahab.ws/3250)
* Salim Ied al-Hilali (http://islamfuture.net/)
* Shalih al-Fauzan (http://www.alfawzan.ws/alfawzan/default.aspx)
* Shalih as-Suhaimi (http://www.assuhaimi.com/)
* Shalih Sa’ad as-Suhaimi (http://sahab.ws/4435)
* Sulthan al-Ied (http://www.sahab.ws/3147)
* Taqiyudin al-Hilali (http://www.alhilali.net/)
* Ulama Yaman (http://www.olamayemen.com/html/)
* Wahid Abd Salam Bali (http://www.waheedbaly.com/)
* Yahya al-Hajuri (http://www.sh-yahia.net/)
* Al-Manhaj (http://almanhaj.or.id/)
* Audio Salafi (http://www.assunnah.mine.nu/)
* Daarus Sunnah (http://www.daarussunnah.co.nr/)
* Fatwa Ulama (http://www.fatwa-ulama.com/)
* Forum Studi Unand Padang (http://forum-unand.blogspot.com/)
* Islam Download (http://www.islam-download.net/)
* Majalah Nikah (http://majalah-nikah.com/)
* Manhaj.or.id (http://www.manhaj.or.id/)
* Perpustakaan Islam (http://www.perpustakaan-islam.com/)
* Sholat Kita (http://sholat-kita.cjb.net/)
* Starter Page (http://www.salafi.or.id/)
* Villa Baitullah (http://vbaitullah.or.id/)
* Hakekat Syi’ah Imamiyah (http://hakekat.com/)
* Kursus Bahasa Arab Online (http://badar.muslim.or.id/)
* Yayasan Dar el-Iman Padang (http://www.dareliman.or.id/)
* Google Assunnah (http://google.assunnah.web.id/)
* Tarbiyah Singapore (http://tarbiyah-sg.info/)
* Feed Situs As Sunnah (http://situs.assunnah.web.id/)
* Forum Assunnah (http://forum.assunnah.web.id/)
* Majalah EL-FATA (http://majalah-elfata.com/)
* Majalah Assaliim (http://majalah-assaliim.com/)
* Ngaji Online (http://ngaji-online.com/)
* Muslimah.or.id (http://www.muslimah.or.id/)
* Jilbab (http://www.jilbab.or.id/)
* Ummu Salma (http://ummusalma.wordpress.com)
* Radio Rodja Online (http://www.radiorodja.com/)
* Radio Hang Batam (http://www.hang106.or.id/)
* Abu Salma (http://abusalma.wordpress.com/)
* Salafy ITB (http://salafyitb.wordpress.com/)
* Assunnah WEB ID (http://assunnah.web.id/)
* Ustadz Kholid Syamhudi (http://ustadzkholid.com/)
* Abu Faris (http://adniku.wordpress.com)
* Muhammad Abduh Tuasikal (http://rumaysho.wordpress.com/)
* Ari Wahyudi (http://abu0mushlih.wordpress.com/)
* Bambang Wahono (http://wahonot.wordpress.com/)
* Hannan Putra (http://dshiraz.blogspot.com/)
* Salafiyun UNPAD (http://salafiyunpad.wordpress.com/)
* Jadwal Kajian (http://jadwal.kajian.org/)
* Info Kajian Muslim (http://muslim.or.id/infokajian/)
* Soal Jawab Muslim.or.id (http://muslim.or.id/soaljawab/)
* Ma’had Imam Bukhari Solo (http://bukhari.or.id/)
* Ma’had ‘Ali Al-Irsyad Surabaya (http://mahad.info/)
* Madrasah Imam Ahmad bin Hanbal Semarang (http://binhambal.wordpress.com/)
* Abdur Ra’uf Shakir (http://www.islamlecture.com/)
* Ahlul Hadeeth (http://www.ahlulhadeeth.net/php/)
* Al Baseerah (http://www.albaseerah.org/)
* Al Ibanah (Ismail al-Arcoon) (http://al-ibaanah.com/)
* Al-Muflihoon (http://www.almuflihoon.com/)
* Albani Center (http://www.asaala.com/)
* Call to Islam (http://calltoislam.com/)
* Darul Ihsan (http://www.darulehsaan.com/)
* Darul Kitab wal Hikmah (http://www.dkh-islam.com/)
* DR. Bilal Philips (http://bilalphilips.com/)
* DR. Salih as-Saalih (http://www.understand-islam.net/)
* Fatwa Online (http://www.fatwa-online.com/)
* Islamic Knowledge (http://www.islamicknowledge.co.uk/)
* Jalal Abu Alrub (http://www.islamlife.com/news.php)
* Madeenah (http://www.madeenah.com/)
* Nadir Ahmad (http://www.examinethetruth.com/)
* Riyadhus Salihin (http://www.ryadussalihin.org/en/)
* Salafi Manhaj (http://salafimanhaj.com/)
* Umm Junayd (http://ummjunayd.info/)
free counters