Showing posts with label Analisa. Show all posts
Showing posts with label Analisa. Show all posts

Fiqh Mujahid

Sunday, 7 March 2010

Sudah menjadi maklum bahwa setiap orang muslim segala amalan dalam kehidupannya mesti dilandaskan pada petunjuk Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam baik dari al-Qur'an al-Karim maupun as-Sunnah al-Muthahharah. Demikian halnya dengan seorang mujahid, tentunya ia harus lebih memperhatikan setiap amalan yang dilakukannya agar senantiasa mengikuti petunjuk tersebut.

Pada pembahasan kali ini secara berurutan akan diketengahkan pembahasan fikih yang lebih aplikatif (mengena) pada persoalan amalan seorang mujahid dan kehidupan jihadnya. Dan pembahasan ini dinukilkan dari buku "Adz-Dzakhiirah aw Maa Laa Yasa'ul Mujaahidu Jahluhu" , yaitu sebuah buku yang berisi rangkaian pembahasan tentang hukum fikih yang disusun oleh Abdullah bin Muhammad Al-Manshuur.

Mukadimah

Segala puji bagi Allah ta'ala yang Maha Esa, shalawat dan salam semoga tercurah selalu kepada Nabi yang tiada nabi setelahnya, kepada keluarga dan para shahabatnya. Wa ba'd...

Saudaraku mujahid..... Yang berada dalam genggamanmu saat ini, dalam pantauan penglihatanmu saat ini adalah lembaran-lembaran yang aku himpun dengan cepat dan aku tulis pula dengan cepat -semuanya serba cepat- dan ini adalah udzurku bila terdapat kesalahan di dalamnya.

Saudaraku mujahid ..... untukmu aku menuliskannya agar kamu menjadikannya sebagai bashiirah (panduan) dalam berbagai hukum Islam. Dan aku telah meringkasnya sebagai satu kumpulan hukum yang tidak alasan bagimu untuk tidak mengetahuinya.

Saudaraku mujahid ..... Ketika aku menuliskannya untukmu tak pernah lepas dalam benakku -waktumu yang sangat berharga- dan tidak ada kesempatan bagimu untuk berlama-lama menelaah tentang hukum jihad. Karenanya kamu akan mandapatkan pembahasan yang sangat singkat yang aku sajikan sebagai intisari barbagai permasalahan dan yang paling rajih.

Saudaraku mujahid ..... dari semua rangkaian mukadimah ini hanya tiga yang aku minta kepadamu:

* Ingatlah selalu bahwa pintu keluar berbagai persoalan adalah keikhlasan. Yakinilah bahwa selagi kamu belum mampu menundukkan dirimu mustahil kamu akam mampu menundukkan musuhmu.
* Janganlah kamu lupakan orang yang telah menghimpun dan menulis lembaran-lembaran ini dan siapa saja yang telah berusaha untuk menyebarkannya dalam ketulusan do'amu. Dan juga hadiah pahalamu dari lesatan-lesatan pelurumu yang menusuk leher-leher musuh-musuh Allah
* Terakhir..... semoga dengan simpanan berharga ini aku dapat memenuhi magazin senjatamu, menarik picu akalmu dan menembakkan putusan-putusanmu. Semoga Allah Y melindungi dan menjagamu dalam dunia dan akhiratmu.

Teman dalam perjalananmu
Abdullah bin Muhammad al-Manshu



Selengkapnya...

Seandainya Saya Melakukannya...

Sunday, 17 January 2010

Duhai seandainya saya melakukannya (berjihad). Ucapan ini dilontarkan dengan penuh penyesalan oleh sahabat senior, Ka'b bin Malik r.a. ketika beliau tertinggal (tidak ikut) berjihad dalam Perang Tabuk. Perang Tabuk merupakan perang terakhir yang diikuti oleh Rasulullah SAW., dan tidak ikut dalam perang tersebut merupakan dosa besar yang memalukan. Perkataan Ka'b ini (mungkin) juga diucapkan orang-orang yang hingga kini belum pergi berjihad padahal dia tahu hukumnya wajib. Lalu, masihkah ada waktu sebelum terlambat, sehingga kita tidak hanya mengatakan 'Duhai seandainya saya melakukannya (berjihad)?


Syarah Hadits Ka'b Bin Malik. r.a.

Mengapa hingga saat ini masih ada orang yang duduk-duduk saja tidak berangkat berjihad padahal hukumnya telah fardhu 'ain? Apa yang melatarbelakangi keengganan seseorang untuk berangkat berjihad membela agama Allah SWT ?

Syekh Usamah bin Ladin, dalam sebuah video yang dikeluarkan oleh As Sahab Media (diterjemahkan oleh Forum Jihad Al Tawbah), berjudul: "Muhadhoroh Hadits Ka'b bin Malik Pada Perang Tabuk", Peringatan Bagi Mereka Yang Duduk Tidak Berjihad (Qo'idun), menjelaskan bahwa beliau telah mempelajari siroh Rasulullah SAW, dan dalam hal ini maka kisah Ka'b bin Malik dalam peristiwa Perang Tabuk sebagaimana telah diriwayatkan haditsnya oleh Shahihain (Bukhari dan Muslim) serta yang lainnya sangat cocok untuk menjadi renungan umat di saat ini.

Dalam hadits yang panjang dan agung ini, sahabat Ka'b bin Malik, mengaku dan berterus terang tentang tabiat jiwa manusia dan lemahnya jiwa manusia. Untuk itu, mari kita mentadaburi kejujuran dan keterusterangan sahabat yang mulia ini sehingga kita bisa tahu bagaimana tabiat orang-orang yang duduk tidak berangkat berjihad.

Syekh Usamah melanjutkan dan berpesan agar kita berusaha mengobati jiwa kita, dan menasehati jiwa kita, saudara-saudara dan ulama kita dan kita berharap kepada Allah SWT agar sudi kiranya mengembalikan kita dengan pengembalian yang baik.

Video muhadhoroh Hadits Ka'b bin Malik dibuka dengan tayangan ayat Al Qur'an Surat At Taubah (9) ayat: 117 s/d 121 dengan latar belakang pegunungan Afghanistan. Kemudian langsung terlihat Syekh Usamah dengan tampilan khas beliau, bersurban, dengan latar belakang dinding bilik yang sangat sederhana. Dengan suara lembut, penuh perasaan beliau memulai muhadhoroh tentang syarah hadits Ka'b bin Malik berkenaan atau dalam peristiwa Perang Tabuk

Beliau membuka muhadhoroh dengan mengingatkan bahwa yang dibahas adalah tentang umat ini, terutama kondisinya yang parah karena berada di bawah kekuasaan orang-oang kafir yang menerapkan hukum-hukum selain hukum Allah SWT. Palestina telah 8 dekade dikuasai oleh nasrani dan kemudian yahudi.

Dan telah berlalu 10 tahun pendudukan salibis yang dipimpin Amerika. Mereka menduduki Masjidil Harom, negeri dua tanah suci (biladul haromain)

Dalam kondisi seperti ini ironisnya masih saja ada yang bingung dan belum tergerak hatinya untuk membela La ilaha ilallah. Bahkan ada yang berpendapat boleh saja mereka berdiam diri dan berpangku tangan dalam kondisi seperti ini.

Untuk itu, dalam kondisi yang demikian, umat perlu mencari kembali jalan yang terang dan jelas untuk bersikap, dan jalan itu tiada lain hanyalah dengan melihat bagaimana kehidupan para sahabat r.a.yang dengan itu kebenaran menjadi jelas daripada kebatilan.

Ka'b Bin Malik 'Tertinggal' Dalam Perang Tabuk ?

Ka'b bin Malik r.a bercerita tentang Perang Tabuk yang tidak diikutinya. Padahal ia adalah termasuk dari sahabat anshor yang pertama-tama masuk Islam. Ia termasuk yang hadir, menyaksikan dan berbai'at pada hari dilaksanakannya Bai'atul Aqabah. Bai'at agung yang menjadi pilar tegaknya daulah islam di Madinah.

Ia (Ka'b) menceritakan :

Saya tidak pernah absen dari setiap perang yang dipimpin Rasulullah SAW sama sekali, kecuali Perang Badar.

Ia termasuk yang menikmati perang dan mempersembahkan lehernya untuk membela La ilaha ilallah. Namun, manusia tetaplah manusia yang kadangkala digelincirkan syaitan, sekali waktu lemah dan tertipu oleh dirinya sendiri. Inilah yang diceritakan sahabat yang mulia ini.

Ia melanjutkan : Rasulullah SAW mengajak untuk berangkat perang pada saat hari panas menyengat.

Di saat orang-orang sedang 'qoilulah' (santai-santai) di bawah pohon-pohon korma mereka. Sementara itu, buah korma yang ada di pohon sudah mulai tampak matang.

Ia melanjutkan : waktu itu saya senang dengannya

Dalam artian ia menyenangi bernaung dan senang buah-buah korma tersebut. Inilah tabiat jiwa manusia, kita bisa membacanya pada orang-orang besar semacam mereka radillahu'anhum.

Syekh Muhammad Al Ghazali dalam bukunya Fiqhus Sirah menjelaskan mengenai terjadinya Perang Tabuk, dalam buku beliau yang berjudul "At Ta'ashshub wat Tasamuh Bainal Masihiyah wal Islam" sebagai berikut :

"...Dan gereja tidak tahan hidup jika di sampingnya terdapat pikiran lain yang tidak sesuai dengan cabang-cabang ajarannya yang sekecil-kecilnya..."

Romawi berpendirian harus dapat membendung Islam dan menghancurkan Islam di daerah utara Semenanjung Arabia dengan pukulan yang mematikan. Berita-berita mengenai persiapan Romawi yang hendak menyerang daerah Islam itu didengar oleh Rasulullah SAW di Madinah. Agama Nasrani, sejak menguasai Romawi, selalu mendukung niat agresif yang ada pada para pendetanya.

Tidak ada pilihan lain bagi Rasulullah SAW kecuali harus mengerahkan kekuatan kaum Muslimin untuk menangkal agresi yang mengancam keselamatan Islam. Ini perkara penting, perkara pembelaan terhadap La ilaha ilallah. Kita lihat, Islam sejak dulu (di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW) selalu peka akan agresi yang hendak dilakukan kaum kafir kepada mereka. Baru terdengar kabar Romawi akan menyerang, umat Islam sudah bersiap diri untuk menghadang. Bagaimana perbedaannya kondisi tersebut dengan saat ini, dimana kaum kafir sudah menyerang di mana-mana, namun umat masih absen dari berjihad.

Kita kembali kepada kisah Ka'b yang pada waktu itu pun absen dari Perang Tabuk. Jika mereka saja (Ka'b) ada yang absen dari jihad, maka tidak heran apabila ada orang pilihan pada hari ini yang juga absent.

Saya lebih senang dan cenderung kepada pohon-pohon korma tempat berteduh. Ia berkata :

Sementara orang-orang mulai bersiap-siap dan saya pun mulai bersiap-siap. Waktu berlalu, hari pertama berlalu, dan saya belum menyiapkan apa-apa. Saya berkata, saya akan mempersiapkan itu semua besok, namun lagi-lagi belum ada satupun yang saya siapkan. Saya berkata pada diri sendiri (Syekh Usamah mengomentari : perhatikanlah peryataan nafsunya disini) : Saya berkata pada diriku sendiri, saya kuasa untuk berangkat bersama mereka. (Syekh Usamah melanjutkan komentarnya, si jiwa menipu pemiliknya, padahal ia biasa berjihad) Ia melanjutkan : Ini masalah sederhana, saya bisa berangkat. Saya berkata pada diriku sendiri saya bisa berangkat dan mampu melakukannya. Saya masih dalam keadaan semula sampai waktu perang semakin dekat. Rombongan menakutkan itupun berangkat, suatu rombongan agung. Komandannya Muhammad SAW, diiringi Abu Bakar, Umar, dan para sahabat yang mulia. Para ahli siroh memperkirakan mereka 30 ribu sahabat radiallahu'anhum.

Tipu Daya Jiwa & Beratnya Perang Tabuk

Di sini seorang Muslim harus mengetahui tipu daya jiwa. Berapa banyak orang yang duduk, berapa banyak orang yang berpangku tangan dari membela La ilaha ilallah tertipu oleh jiwanya. Seandainya ia (yang tertipu jiwanya) mau pergi berjihad, maka pasti ia akan berangkat. Seandainya bapaknya, pemimpinnya, atau yang menunjuknya menginginkan dia berangkat, maka pasti ia akan berangkat. Namun untuk maslahat Islam ia malah tidak berangkat. Ini adalah sebuah ketertipuan yang nyata dan jelas.

La hawla wa laa quwwata illa billah.

Sahabat ini tertipu oleh jiwanya padahal ia telah berpengalaman dalam peperangan dan pertempuran. Kaum anshor adalah "Abnaaul Huruub" (terbiasa dengan perang dan bertempur). Mereka mewarisi kebiasaan itu dari orang tua-orang tua mereka. Namun, ia bisa tertipu oleh jiwanya (nafsu). Lalu bagaimana dengan orang yang belum pernah berangkat perang sama sekali ?

La hawla wa laa quwwata illa billah.

Akan sangat mudah bagi jiwa untuk menipu pemiliknya. Mereka hidup dalam kehidupan yang sulit, tidak ada listrik, tidak ada AC dan tidak ada apa-apa. Buah kurma yang kelihatan mau masak di pohon korma membuatnya lebih cenderung pada duniawi. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang longgar dalam hal-hal yang mubah sampai malah berlebihan. Mereka tenggelam dalam kemewahan, bicarakanlah dan engkau tidak berdosa.

La hawla wa laa quwwata illa billah.

Bagaimana bisa mereka tidak tertipu jiwanya kecuali orang-orang yang dikehedaki oleh Allah SWT selamat. Orang-orang telah berangkat, sementara Ka'b jatuh ke dalam dosa yang sangat besar dan memalukan. Duduk tidak ikut membela La ilaha ilallah. Duduk tidak ikut membela tauhid dan aqidah. Merasa berat karena kenikmatan kehidupan dunia yang pada waktu itu masih sangat sedikit.

Perang Tabuk memang sebuah perang yang sangat menguji keimanan seseorang. Udara waktu itu panas. Dalam beberapa atsar lain di Tabuk, Umar r.a. berkata :

Jika salah seorang dari kita keluar menuju kendaraannya lehernya terasa mau putus karena saking panasnya.

Masih menurut Syekh Muhammad Al Ghazali dalam bukunya Fiquh Siroh, persiapan untuk maksud tersebut (Perang Tabuk) bertepatan dengan musim paceklik dan kemarau panjang. Selain itu dibutuhkan kerja keras dan biaya yang besar sekali untuk menghadapi kekuatan kufur Romawi.

Romawi pada saat itu adalah sebuah kekuatan super power, sebuah kekuatan negara yang wilayahnya membentang di beberapa benua, negara yang memiliki sumber tenaga dan kekayaan luar biasa besarnya.

Pasukan kaum Muslimin sendiri dinamakan dengan Jaisul Usrah (Pasukan yang Menghadapi Kesukaran)

Firman-firman Allah SWT yang turun berkenaan dengan Perang Tabuk yang terjadi dalam suasana serba sulit, merupakan ayat-ayat terpanjang dibanding dengan ayat-ayat lain yang berkaitan dengan peristiwa peperangan antara kaum Muslimin dan musuh-musuhnya.



Syekh Usamah bin Ladin melanjutkan penjelasannya dalam syarah hadits Ka'b. Lalu apa kata para pencinta dunia ? Apa kata mereka ?

"Mereka berkata : "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini. Katakanlah : "Api neraka jahannam itu lebih sangat (panas)nya, jika mereka mengetahui." (QS At Taubah (9) : 81)

Setelah itu, ketika ia (Ka'b) tertinggal rombongan perang. Ka'b berkata :

Saya ingin menyusul mereka namun itu tidak ditakdirkan untukku. Ia melanjutkan :

Duhai seandainya saya melakukannya

Syekh Usamah kemudian berpesan :

Wahai hamba Allah gunakan kesehatanmu. Manfaatkan waktu luang dan masa mudamu. Inilah medan-medan surga telah terbuka lebar. Rasulullah SAW bersabda :

"Sesungguhnya pintu-pintu surga terletak di bawah naungan pedang."

Ketika Abu Musa Al Asy'ari r.a. mengatakan hadits ini, ada seseorang bertanya :

Wahai Abu Musa apakah engkau mendengar hadits ini dari Rasulullah SAW., ? lihatlah sahabat ini menanyakan kejelasan hadits ini untuk mengamalkannya, bukan hanya untuk memperbanyak ilmu. Ini karena ilmu membutuhkan amal. Ia ingin menyakinkan bahwa hadits ini adalah shahih.

Abu Musa menjawab : Ya. Ia pun berlalu menuju kaumnya, mengucapkan salam kepada mereka lalu mengambil sarung pedangnya kemudian ia patahkan, kemudian ia pergi berperang sampai terbunuh.

Inilah manhaj para sahabat yang mulia. Manhaj para pendahulu kita r.a.

Ka'b bin Malik kembali berkata :

Duhai seandainya saya melakukannya

Diriwayatkan bahwa ada seorang ulama sholeh sedang menghadapi sakaratul maut, sedang ia berada di atas tempat tidur kematiannya. Kedua matanya meneteskan air mata, sedang ia adalah termasuk orang yang bertaqwa dan berilmu. Ia ditanya : Apa yang membuatmu menangis ? Sambil melihat kedua telapak kakinya ia menjawab : Saya menangis karena kedua telapak kakiku belum pernah terkena debu di jalan Allah SWT.

Kalian tahu hadits shahih dari Rasulullah SAW :

"Kedua telapak kaki seorang hamba yang terkena debu di jalan Allah tidak akan disentuh api neraka."

Allahu Akbar!

Suatu ibadah, hanya dengan menyentuh debunya saja bisa bisa melindungimu dari api neraka. Bagaimana dengan orang yang keluar dengan jiwanya dan hartanya dan tidak kembali lagi dengan keduanya. Maka itu adalah sebaik-baiknya amalan.

Kembali kepada situasi sahabat Ka'b, yang akhirnya tertinggal rombongan perang mulia tersebut. Dia tidak menemui yang ada di Madinah kecuali orang-orang yang munafik dan orang-orang yang memang memiliki udzur untuk tidak turut berperang.

Ketika Rasulullah SAW., sampai di Tabuk, beliau bersabda : "Apa yang dilakukan Ka'b bin Malik ? Beliau ingat kepadanya. Seseorang dari Bani Salamah menjawab : "Ia disibukkan oleh kedua pakaiannya dan karena menuruti perasaannya."

Beliau membicarakannya karena ia berpangku tangan dari pembelaan dien dan menjadikan dirinya di tempat yang tidak selayaknya untuk orang beriman, yakni berpangku tangan tidak membela dien.

Mu'adz bin Jabal r.a. menanggapi (kementar tersebut) berkata : "Buruk sekali omonganmu. Demi Allah, wahai Rasulullah, kami tidak tahu tentangnya kecuali kebaikan."

Ibnu Hajar mengomentari perkataan seseorang dari Bani Salamah tersebut : "Apa yang telah saya katakan kepada kalian bahwa orang yang berpangku tangan dari jihad telah menjadikan pembenaran bagi orang-orang untuk mencela dirinya, karena membela dien adalah termasuk kewajiban yang paling agung.

Dalam Perang Tabuk ini, ada juga sahabat yang bernama Abu Khoitsamah, yang juga hampir tertinggal mengikuti perang sebagaimana Ka'b bin Malik. r.a. Ia tiba, setelah semua orang berjalan, dan dia menyusul sendirian, meninggalkan qoidun (orang-orang yang duduk di belakang tidak berjihad). Hampir saja syetan menyelewengkannya, padahal Beliau termasuk sahabat yang mulia.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan perkataan ulama ahli maghazi (peperangan) mengenai kisah Abu Khoitsamah. Abu Khoitsamah berkata :

"Saya masuk ke rumahku lalu saya melihat pondokan yang telah diciprati air. Padahal betapa bagusnya pondokan yang disirami air di musim panas. Saya melihat pondokan yang telah diciprati air dan saya melihat istriku. Terus aku berkata : 'Demi Allah ini tidak adil, Rasulullah SAW di bawah matahari terik dan kepanasan, sedangkan saya disini saya berteduh dan bersenang-senang. Ia pun mengambil tunggangannya dan sedikit kurma lalu berjalan hingga menyusul Rosul SAW.

Masya Allah, Allahu Akbar...!

Penyesalan, Kejujuran, Boikot, dan Tobat Ka'b bin Malik

Ka'b bin Malik melanjutkan kisahnya. Ketika Rasulullah SAW kembali dari Perang Tabuk, saya dilanda kesedihan yang mendalam dan kedukaan. Saya berkata : 'Dengan apa saya menemui Beliau?'

Kemudian saya mendatangi Beliau lalu Beliau tersenyum dengan senyum kemarahan. Beliau SAW., marah kepada Ka'b. Ka'b berkata : Beliau berpaling dariku. Ka'b lalu berkata : Aku tidak berlaku nifaq, aku tidak ragu-ragu, dan aku tidak mengganti agamaku, lalu apa yang membuatmu marah. Rasulullah SAW., kemudian menjawab :

"Apa yang membuatmu absen ?"

Sebuah pertanyaan dimana orang-orang juga akan ditanyakan demikian. Apa yang membuat absen dari membela La ilaha ilallah ?

Kemudian Ka'b mengaku dan berterus terang kepada Rasulullah SAW., dimana sikap Ka'b ini bisa menjadi ibroh bagi yang memiliki akal.

Saya berkata : Wahai Rosul, demi Allah, seandainya saya duduk di samping selain Anda dari para pencinta dunia, pasti aku akan keluar terbebas dari kemurkaannya dengan berbagai alasan.

Ka'b melengkapi : Sungguh saya diberikan kemampuan berdebat

Banyak orang sekarang yang memiliki kemampuan berdebat. Kemudian mereka palingkan kewajiban jihad yang saat ini hukumnya telah fardhu 'ain, dengan mengatakan bahwa sekarang belum waktunya. Lalu kapan waktunya ?

Ka'b melanjutkan : Sungguh saya diberikan kemampuan berdebat, namun demi Allah saya tahu, jika saya sekarang memberi tahu Anda dengan kebohongan yang membuat engkau ridho dengan alasanku, hampir-hampir Allah akan membuat engkau murka kepadaku.

Ka'b melanjutkan : jika aku menceritakan sejujurnya, engkau dapati aku di dalamnya. Dengan kejujuran itu aku berharap balasan dari Allah SWT. Ka'b mengatakan : Demi Allah saya tidak punya udzur.

Rasulullah SAW., bersabda :

"Sungguh orang ini telah berlaku jujur."

Padahal sebelumnya Ka'b berkata : "Saya teringat akan berdusta."

Syekh Usamah menjelaskan, jiwa itu punya celah-celah kelemahan yang banyak sekali, padahal syetan itu mengalir di pembuluh darah manusia. Kita berlindung kepada Allah SWT., darinya. Dan karena kejujurannya inilah Allah SWT., menyelamatkan Ka'b.

Lalu bagaimana dengan kondisi sekarang, dimana standar timbangan manusia sudah terbalik. Mayoritas manusia duduk berpangku tangan dari jihad. Sedikit sekali yang mau mengambil pelajaran dan ingat.

Kemudian datang perintah untuk memboikot, mengucilkan Ka'b dan dua sahabat lain yang absen dari Perang Tabuk. Mengucilkan orang-orang yang duduk berpangku tangan dari membela La ilaha ilalllah.

Ka'b melanjutkan : "Maka bumi menjadi terasa asing bagiku. Seolah-olah ia bukan bumi yang sudah aku kenal dan jiwaku sendiri terasa asing. "

Syekh Usamah mengatakan : sebenarnya ketidakhadiran 3 orang sahabat diantara 30 ribu pasukan dalam Perang Tabuk tidak berpengaruh sama sekali kepada pasukan. Namun ini bukan masalah pengaruh atau tidak berpengaruh, karena urusan ini sudah sampai masuk ke dalam hati. Yakni mengapa tidak mau hadir dalam membela agama Allah SWT. Ini merupakan amanah yang ada di pundakmu dan kewajibanmu yang seharusnya kamu laksanakan.

Kembali kepada Ka'b. Setelah 40 hari, datang seorang utusan Rasulullah SAW., datang kepadanya. Ia berkata : "Rasulullah SAW memerintahkan kepadamu, Tinggalkan istrimu."

Ka'b berkata kepada istrinya : "Pulanglah ke keluargamu sampai Allah memutuskan urusan kita."

Dua teman Ka'b menangis selama 40 hari. Salah seorang sahabat yang bernama Hilal bahkan sudah terkategorikan tua dan lemah. Namun Rasulullah SAW tetap tidak memberikan dispensasi kepadanya, untuk absen dalam jihad, membela agama Allah SWT.

Lalu bagaimanakah dengan kondisi umat Islam saat ini ? yang tidak memiliki uzur ? yang tidak tua dan lemah, mereka masih kuat, sehat, dan berkecukupan. Lalu mengapa mereka masih juga absen dalam jihad

Ka'b berkata : Ketika saya sedang duduk, dalam keadaan yang sudah saya sebutkan, tiba-tiba ada suara yang sampai kepadaku dengan nada memberi kabar gembira. Ada seorang laki-laki setelah turun taubat atas Rasululllah SAW.

Seorang lelaki naik ke bukit Salwa berteriak dengan suaranya yang paling keras, memberi kabar gembira kepada Ka'b.

Ka'b berkata : "Maka saya tersungkur sujud. Sambil menangis karena gembiranya taubatnya diterima Allah SWT."

Ka'b berkata : Wahai Rasulullah, sebagai bagian dari tobatku saya akan melepas semua hartaku. Rasulullah SAW menjawab agar dia hanya melepaskan 1/3 hartanya saja.

Ibroh Kisah Ka'b Bin Malik

Kini, kita tidak diminta untuk melepas seluruh harta kita, padahal ia milik Allah SWT. Lalu mengapa kita belum juga pergi berjihad, apa lagi yang menipumu ? Padahal telah sampai kepadamu hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan ibadah jihad. Kisah Ka'b dan kejujurannya ini adalah ibroh atau teladan bagi ummat saat ini agar memeriksa jiwanya dan mengatasinya, serta mengembalikannya pada kebenaran.

Kini, hendaklah kaum Muslimin melihat di manakah posisinya sekarang, dan siapkah dia dengan sebuah pertanyaan.

"Apa yang membuatmu absen berjihad?"

Bagaimana bisa seseorang yang mengaku mencintai Rasulullah SAW, mengaku mengikuti manhajnya, namun belum pernah berjihad di jalan Allah SWT., sekalipun?

Di jaman ini, di saat hukum jihad fardhu 'ain, bagaimana bisa kita mengambil fatwa atau fiqh jihad dari orang yang hanya duduk-duduk saja dan tidak pernah berjihad ?

Fiqih jihad, sebagaimana dikatakan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah, beliau adalah seorang 'Alim Robbani Mujahid, yang berangkat bersama jiwanya untuk memerangi Tartar. Ia berkata :

'Dalam masalah-masalah wajib yang berhubungan dengan jihad, (maksudnya fatwa dalam masalah jihad) seharusnya diambil dari ulama yang benar-benar ulama. Yaitu yang mengerti realitas dunia (yang diantaranya adalah masalah jihad) bukan berdasarkan pandangan orang yang memandang dengan dien secara lahir dan juga bukan berdasarkan ulama yang tidak punya ilmu tentang realitas keadaan dunia.

Syekh Usamah memberikan contoh, saat ini banyak orang berargumen bahwa kita tidak mampu untuk menghadapi AS dan bala tentaranya. Kemudian berfatwa tidak atau belum wajib untuk berjihad. Padahal sebagaimana disebutkan oleh Syekh Ibnu Qoyyim Al Jauziyah dalam kitabnya bahwa syarat orang berfatwa adalah dua hal yakni pertama faham fakta dan yang kedua faham nash untuk dikaitkan dengan fakta.

Perhatikanlah ayat-ayat berikut :

"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka : "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat!" Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata " Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami ?" Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?" Katakanlah : "Kesenangan dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun." (QS An Nisaa' (4) : 77)

Lalu Allah menjawab secara tegas dalam ayat berikutnya :

"Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan : "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan :" Ini (datangnya) dari sisi Kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (dating) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?" (QS An Nisaa' (4) : 78)

Syekh Usamah menutup kajiannya dengan mengutip syair dari sahabat Ja'far, r.a. dan syair tentang Baitul Maqdis dan Ka'bah Musyarofah.

Duhai indah dan dekatnya surga, enak dan sejuk minumannya

Romawi telah mendekati siksaannya

Jika aku menemuinya saya harus menghantamnya..........

Penduduk Palestina merasakan gelas-gelas kesedihan

Sedangkan luka di Hijaz tidaklah kecil bagimu

Bukanlah putera-putera Islam itu kecuali orang-orang yang mulia

Dengan lukamu, musibah itu memaksa untuk menganggapnya kecil

Akan tetapi mereka...Akan tetapi meskipun terluka, keyakinan mereka

(tetap) besar (optimis) dengan kembalinya khilafah yang mulia

Sungguh mereka telah bersumpah...sungguh merka telah bersumpah dengan (nama) Allah bahwa jihad mereka akan tetap jalan meskipun Kisra (Persia) dan Qoyshar (Romawi) bersatu

Maka dalam kondisi saat ini, apakah layak dan patut kaum Muslimin berpangku tangan duduk-duduk saja meninggalkan jihad ?

Wallahu'alam bis showab!

Selengkapnya...

Menyusur Konflik Pattani

Zona Merah. Program penyelusuran secara langsung daerah-daerah atau wilayah konflik oleh TV One ini bisa dibilang langka dan menarik. Program yang menampilkan daerah-daerah atau wilayah konflik di seluruh dunia,seperti Mindano di Fhilipina dan Pattani di Thailand, serta daerah lainnya ini bisa menjadi tontonan alternatif sekaligus informatif, khususnya bagi pemirsa yang ingin lebih tahu bagaimana kondisi kaum Muslimin di daerah-daerah konflik tersebut. Selain bisa melihat daerah-daerah tersebut secara langsung melalui 'mata' kru dan reporter yang dikirim secara langsung, wawancara dengan para pejuang kadangkala juga disajikan.

Menyusur Konflik Pattani

Dalam tayangan Selasa malam, 22 Desember 2009, Zona Merah mengangkat tema 'Menyusur Konflik Pattani'. Reporter Zona Merah, seorang wanita, terlihat menyelusuri Pattani, dan menceritakan bagaimana kekejaman pemerintahan kafir Thailand terhadap kaum Muslimin. Kurir yang mengantarkan sang reporter bercerita bagaimana mayat-mayat kaum Muslimin ditumpuk hingga mencapai 6 tumpukan. Sambil bercerita, kamera juga menangkap kondisi Pattani, polisi-polisi pemerintahan yang berjaga-jaga di setiap titik.

Memang, kalau kita lihat dalam catatan sejarah, rezim kafir Thailand, semenjak dahulu, khususnya sejak Kerajaan Siam (Thailand dahulu) seringkali menganeksasi kaum Muslimin Pattani, yakni sejak tahun 1902. Mereka selalu berusaha memaksakan ajaran Budha di seluruh tanah Thailand, padahal di Pattani, mayoritas penduduknya adalah Muslim. Untuk memuluskan nafsu misi pengkafiran mereka, pemerintah menerapkan tiga hukum barbar kepada masyarakat Muslim Pattani, yaitu (1) Darurat Militer, (2) Darurat Sipil, dan (3) Undang-Undang Terorisme.

Sehingga meskipun secara umum nampak damai dan tenang, masyarakat Pattani hidup dalam ketakutan. Islam yang mereka anut selama ini dicemari oleh tangan-tangan Buddha yang berdiri dibelakangnya kuasa besar kekufuran, Amerika. Malah, tentara-tentara Thailand yang biasa mereka cela sebagai Tok Na, menzalimi kaum Muslimin di Pattani Darussalam dengan berbagai macam kezaliman.

Kembali ke penelusuran reporter Zona Merah, akhirnya dia berhasil mewawancarai salah seorang pemimpin jihad Pattani, yakni dari PULO. Wawancara berlangsung secara cepat dan terburu-buru, di dalam sebuah mobil yang berjalan. Maklum, rezim Thailand memberlakukan titik-titik pemeriksaan hampir di seluruh wilayah Pattani.

Berdasarkan data, setiap jarak interval 2 km akan terdapat penjagaan ketat berupa security check point. Tentara kafir Thailand dengan persenjataan lengkap, kadang dengan kendaraan lapis baja akan memeriksa setiap pemakai kendaraan, mencari-cari apakah terdapat mujahidin Pattani atau calon-calon mujahidin.

Dalam wawancara tersebut bisa diketahui bahwa mujahidin Pattani tersebut berasal dari Malaysia, meskipun pemerintah Malaysia dan juga Thailand tidak mengetahui identitas mujahidin tersebut. Beliau mengatakan, jika pemerintahan atau kerajaan Thailand mengetahui keberadaan dan identitas dirinya, maka bisa saja dia dipenjara bahkan dibunuh.

Di sela-sela wawancara, reporter kembali menegaskan betapa sulitnya wawancara diadakan, meskipun dalam mobil yang berjalan. Mereka harus berhati-hati dan bahkan berkali-kali kamera harus mereka sembunyikan. Selanjutnya hujan turun dan itu merupakan berkah karena pemeriksaan terhadap kendaraan yang berjalan akan berkurang.

Reporter Zona Merah juga menanyakan tentang pengeboman yang akhir-akhir ini sering terjadi di kota Pattani. Pimpinan mujahidin Pattani tersebut menjawab, memang serangan atau tindakan yang berlaku kepada askar atau polisi dan tempat-tempat dari penjajah (yang diserang) adalah kami yang melakukan. Ada pun tempa-tempat rakyat ataupun tempat macam bukan tempat kerajaan (ruang public), maka itu bukan kami yang melakukan, itu rekayasa dari pemerintah.

Keterangan dari pimpinan Mujahidin Pattani ini kembali menegaskan bahwa secara umum mujahidin tidak akan melakukan penyerangan kepada rakyat sipil, dan juga tempat-tempat umum.

Reporter Zona Merah kembali bertanya, kini tentang bagaimana organisasi PULO melakukan reorganisasi atau rekruitmen mujahidin ?

Beliau (mujahidin Pattani) menjawab, bahwa dalam setiap generasi ada membuat cadangan untuk generasi yang akan datang, kami mengumpulkan pemuda-pemuda di tempat rahasia, dan kami menguji kemampuan di sudut mana, apakah di sudut militer, politik, maka nanti akan disalurkan sesuai dengan bakat dan kemampuannya.

Bukti-Bukti Kedzaliman Rezim Thailand

Penelusuran reporter Zona Merah kemudian beranjak dari Pattani ke daerah Narathiwat, wilayah yang juga bergejolak. Ditunjukkan bekas-bekas pemboman yang dilakukan oleh mujahidin yang menyerang mobil patrol polisi sebagai aksi pembalasan atas pembunuhan keji yang mereka lakukan di Masjid Al Furqan, Desa Air Tempayan.

Masjid Al Furqan, yang terletak di Desa Air Tempayan, ditunjukkan secara langsung, dan disanalah terjadinya pembantaian baru-baru ini yang mengakibatkan tewasnya 10 orang kaum Muslimin, dan belasan lainnya luka-luka. Kejadian keji ini dilakukan di dalam Masjid, tepatnya setelah kaum Muslimin melaksanakan sholat Isya berjamaah. Kini, di depan masjid saat ini selalu dijaga oleh penduduk setempat yang dikawal pemerintah kafir Thailand.

Seorang saksi mata, Bapak Muchtar diwawancarai bagaimana kejadian itu berlangsung. Dia menceritakan, 'Ketika itu saya sedang shalat berjamaah dan tiba-tiba ada tembakan, saya pun terkena.'

Ketika ditanya siapa yang melakukan, dengan tegas dia mengatakan : Pemerintah, dan membantah tuduhan yang selama ini beredar bahwa yang melakukannya adalah 5 orang Islam.

'Saya tidak percaya' begitu ungkapnya.

Pasca kekejian itu, mujahidin membalas dengan pemboman dan penembakan ke mobil polisi, dam juga melakukan pengeboman ke 3 restoran budha di sana.

Memang, kalau kita lihat catatan sejarah, penetapan daerah darurat militer di Pattani, Yala, dan Narathiwat telah menewaskan lebih dari 550 orang di tahun ini saja.

Di bulan Juli 2008, empat orang warga sipil termasuk dua mujahidin dan seorang guru ditembak Mati dalam serangan terpisah di daerah Thailand Selatan. Seorang guru muslim (30) telah dibunuh dengan tembakan di daerah Yarang, Provinsi Pattani pada Kamis (24/7) saat dia sedang mengendarai sepeda motor dalam perjalanan pulang. Dia adalah guru keseratus yang dibunuh sejak terjadi kerusuhan di daerah mayoritas muslim tersebut.

Di Narathiwat, dua mujahidin syahid, keduanya merupakan incaran polisi kafir Thailand, setelah melakukan pertempuran melawan tentara kafir Thailand pada kamis sore hari. Tujuh orang yang di curigai juga tertangkap setelah seribu tentara keamanan, yang didukung oleh satu helikopter militer, bertempur melawan para mujahidin lebih dari lima jam.

Dengan demikian, sejak Januari 2004 lebih dari 3.300 orang telah terbunuh di Thailand Selatan. Selain itu, ribuan kaum Muslimin cedera dan selama periode Januari-Juni 2008 tercatat 301 orang tewas dan 517 cedera. Kekerasan kali ini tercatat terbesar dan paling berdarah pasca-Kerajaan Siam (Thailand) yang menganut Budha ini menganeksasi kaum Muslimin Pattani di 1902.

Berita dan liputan-liputan tentang kaum Muslimin yang tertindas semacam inilah yang jarang diliput oleh media. Dengan demikian, penelusuran Zona Merah, sebagai sebuah program TV One bisa menjadi pilihan tontonan di tengah simpang siur dan kepalsuan media-media asing dan juga untuk mengontrol kebenaran. Apalagi kalau Zona Merah bisa dan mampu menyajikan wilayah-wilayah konflik lainnya yang tidak kalah 'panas'nya, seperti Pakistan, Afghanista, atau bahkan Irak dan Palestina. Semoga!

Selengkapnya...

Isu Terorisme dan Serangan Terhadap Islam

Sunday, 27 December 2009

Apakah anda orang yang mengatakan bahwa berjihad menegakkan Syari’ah Islam dan khilafah Islamiyah di bumi Allah adalah tindakan Terorisme ? Jika demikian, berarti anda belum mengerti tentang jihad Islami yang merupakan mukjizat Allah SWT.

Jihad adalah usaha serius untuk membumikan wahyu Allah di muka bumi sehingga tidak ada lagi kezaliman dan fitnah terhadap Islam dan ummatnya. Renungkan firman Allah dalam QS Al Baqarah 2:193 dan QS Al Anfal 8:39.

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (QS. Al Baqarah 2:193)

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari kekafiran), Maka Sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan. (QS. Al Anfal 8:39)

Fitnah adalah kezaliman dan sifatnya lebih kejam dari pembunuhan, karenanya "Allah mengharamkan kezaliman sampai datangnya hari qiyamat." (HR Muslim)

Allah SWT. memerintahkan kepada Rasulullah SAW. dan ummatnya agar terus memerangi orang kafir dan zalim yang selalu menimbulkan fitnah kepada Islam dan ummatnya. Al Qur’an mengingatkan:

"Wahai Nabi berjihadlah melawan orang-orang kafir dan munafiqien itu dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali." (QS. At Taubah 9:73 dan QS 66:9)

Terorisme dan Ketidakadilan Global

Masalah yang jarang disentuh oleh media massa ketika mengangkat isu terorisme adalah ketidakadilan global. Padahal faktor ketidakadilan global menjadi salah satu pemicu serangan terhadab barat atau objek-objek yang dianggap berhubungan dengan barat. Penjajahan yang dilakukan barat di dunia Islam, termasuk dukungan membabi buta barat terhadap penjajahan zionis Israel di Palestina, merupakan cerminan dari ketidakadilan itu.

Ketika 9 orang terbunuh akibat pengeboman di hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton, banyak orang yang mengecam aksi tersebut. Sikap yang sama seharusnya muncul ketika ratusan ribu umat Islam terbunuh pasca invasi AS di Iraq. Mengutip laporan yang dimuat Jurnal Lancet, lebih dari 650 ribu warga sipil Iraq tewas sejak invasi AS pada tahun 2003 dan jumlah itu tentu saja terus saja bertambah hingga kini.

Amerika serikat dimaklumi marah saat gedung WTC diserang yang menyebabkan sekitar 3000 orang terbunuh. Sebaliknya, tentu bisa dimaklumi juga umat Islam marah ketika pasukan Amerika terus menerus membunuh rakyat sipil di Afghanistan dan Pakistan. PBB mengatakan jumlah penduduk sipil yang tewas di Afghanistan tahun ini meningkat 24 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laporan PBB menyebutkan lebih dari 1.000 orang tewas dalam enam bulan pertama tahun ini. Jumlah korban serangan AS terhadap rakyat sipil di perbatasan Pakistan-Afghanistan pun terus meningkat.

Bandingkan pula sikap dunia barat ketika Israel menyerang Gaza. Angka korban serangan Israel ke jalur Gaza sejak 27 desember 2008 hingga 18 januari 2009 malah mencapai 1313 atau rata-rata 59 orang tewas perhari atau setiap jam lebih 2 orang tewas. Tidak hanya itu, Israel juga mengakui menggunakan senjata kimia yang mengerikan, yakni fosfor putih. Belum lagi yang terbunuh akibat isolasi jalur Gaza oleh Israel. Alih-alih mengecam Israel, Amerika, Inggris dan sekutunya malah membela Israel. Untuk kasus Indonesia, ketidakadilan itu juga tampak dari sikap yang diskriminatif terhadap pembunuhan umat Islam di Ambon, Poso, atau kerusuhan di Sampit.

Berkaitan dengan pengeboman pada juli 2005 di London, pemerintahan Inggris memberikan peringatan bahwa keterlibatan dalam invasi AS ke Iraq telah meningkatkan adanya ancaman serangan balasan terhadap Inggris. Laporan yang bocor dari Joint Terrorims Center (JTAC) Inggris, yang mendahului serangan tersebut, memperingatkan: "peristiwa-peristiwa yang terjadi di Iraq semakin menjadi motivasi dan fokus sejumlah teroris berkaitan dengan aktivitas di Inggris."

Pada april 2005, sebuah laporan yang ditulis oleh Joint Intelligence Committee (JIC) berjudul "International Terrorism Impact of Iraq" bahkan lebih eksplisit menyatakan: “kami menilai bahwa konflik yang terjadi di Iraq telah memperburuk ancaman terorisme internasional dan akan terus memberikan dampak dalam jangka waktu yang lama. Konflik tersebut telah memperkuat kegigihan para teroris yang telah melakukan serangan ke negara-negara barat dan memotivasi orang-oran lain yang tidak melakukannya.”

Seharusnya siapapun yang menginginkan kekerasan global dihentikan, juga harus dengan tegas meminta AS dan negara-negara imperialis lainnya menghentikan kebijakan yang eksploitatif dan diskriminatif terhadap dunia Islam. Masyarakat barat sendiri seharusnya meminta penguasa mereka agar menarik tentara negaranya dari Iraq, Afghanistan, dan negeri Islam lainnya. Termasuk menghentikan dukungan membabi buta terhadap Israel.

Bagi umat Islam, ketidakadilan global ini harus dihentikan. Berharap pada negara-negara imperialis untuk menghentikan kejahatan mereka sangatlah sulit. Karena selama barat masih mengadopsi ideologi kapitalisme, penjajahan akan menjadi metode baku yang tidak berubah. Tidak ada pilihan lagi, kecuali umat Islam bersatu membangun kekuatan global khilafah Islam yang akan melindungi umat Islam dari bulan-bulanan negara imperialis..

Isu Terorisme & Serangan Terhadap Islam

Sebenarnya isu memerangi terorisme yang dilancarkan Amerika dan sekutu-sekutunya adalah perang melawan Islam dan kaum Muslimin. Musuh-musuh Islam mencoba membidik Islam dan kaum Muslimin di balik isu terorisme. Mereka takut dengan bangkitnya kaum muslimin. Dengan demikian mereka berusaha sekuat tenaga dan dengan berbagai macam cara untuk menghancurkan kebangkitan kaum Muslimin, salah satunya dengan melancarkan perang melawan terorisme.

Saat ini umat Islam menjadi tertuduh dan semua ketakutan dengan segala hal tentang Islam, karena selalu dikait-kaitkan dengan isu terorisme. Para pelajar, aktivis Islam dan semisalnya menjadi resah. Mereka khawatir dituduh dan dianggap sebagai sarang dan penyedia serta membantu aktivitas terorisme.

Gerakan-gerakan dakwah pun dicurigai meskipun gerakan dakwah itu terbuka dan tak ada sangkut pautnya dengan teroris. Beberapa orang pun mengawasi ketat anak remajanya yang mau berangkat mengaji. Padahal hal itu tak pernah terjadi sebelumnya. Mereka menanyakan ngajinya sama siapa, tempatnya di mana, dan segala macam secara berulang-ulang.

Bahkan di sebuah wilayah, beberapa orang yang hendak melakukan khuruj (aktivitas yang rutin dilakukan oleh Jama’ah Tabligh) di sebuah masjid, ditolak warga setempat pasca pengeboman di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton. Warga setempat tak mau daerahnya dijadikan tujuan orang luar. Mereka takut orang-orang tersebut terlibat terorisme.

Sikap paranoid ini muncul belakangan di beberapa daerah. Ini terjadi setelah televisi dengan sangat gencar menyebarkan berita terorisme sejak penyerbuan di Temanggung, Jawa Tengah. Bukannya obyektif, pemberitaan di media massa cenderung menstigmatisasi negatif Islam dan kaum muslimin.

Belum jelas benar siapa pelakunya, media massa langsung menyorot pesantren. Pesantren dianggap mengajarkan jihad dan ini menjadi inspirasi para teroris. Media massa pun sibuk mencari latar belakang orang-orang yang diduga teroris dengan melakukan interogasi dan inkuisisi terhadap almamater, keluarga, dan para tetangga.

Tampa disaring, berita isu langsung disiarkan. Padahal tidak semua sumber berita yang didapatkannya layak disiarkan.

Hal yang sama tidak pernah dilakukan terhadap para koruptor. Adakah media massa yang pernah mengaitkan koruptor dengan almamaternya? Kemudian menyatakan bahwa unversitas X telah mengajarkan korupsi? Atau mencari guru dan dosennya karena dianggap sebagai inspirasi untuk korupsi?

Sikap media ini tidak lepas dari upaya pihak-pihak tertentu untuk menjadikan media sebagai corong dalam menyerang Islam dan kaum muslimin. Lihat saja bagaimana media massa seolah jadi ‘orang bodoh’ dan menurut saja dengan arahan sumber-sumber mereka. Sikap kritis mereka hilang. Bahkan untuk mencari alternatif narasumber lagi. Sampai-sampai ketika sumber-sumber berita mereka memberitakan berita yang salah pun, ditelan mentah-mentah. Perhatikan ketika penyerangan di Temanggung terjadi, dalam siaran langsungnya, mereka seperti koor menyanyikan lagu bahwa teroris yang terbunuh adalah gembong teroris Noordin M Top. Ternyata bukan.

Telah terjadi trial by the press (pengadilan oleh meda massa), yang dampaknya jauh lebih kejam. Media pun tergiring oleh frame berpikir musuh-musuh Islam yang menggeneralisasi para teroris dengan Islam. Isu memerangi terorisme yang dilancarkan Amerika dan sekutu-sekutunya disebarluaskan dan dikerjakan oleh media massa yang pada hakikatnya untuk menghilangkan kebangkitan Islam.

Ironisnya, media massa seolah maklum saja dengan tindakan brutal Amerika dan sekutunya menebar bom dan kematian di mana-mana. Media massa tidak pernah menyebut mereka sebagai teroris, meski korban tewas jauh lebih banyak dan massif.

Media memang telah menjadi alat bagi kapitalisme global dalam mempertahankan hegemoninya. Di era informasi dimana kemenangan ditentukan oleh penguasa sumber-sumber informasi, media massa adalah salah satu pilar kapitalisme.

Barat paham betul bahwa Islam adalah musuh berikutnya setelah komunisme runtuh. Islam adalah ancaman. Karenanya, kebangkitan Islam mesti dihalang-halangi. Caranya bisa melalui hard dan soft power. Untuk itu barat dan antek-anteknya mendekonstruksi persepsi masyarakat terhadap Islam untuk melahirkan sikap moderat bahkan liberal. Mereka tidak mau Islam tampil apa adanya sesuai Al Quran dan As Sunnah. Sikap moderat dan liberal ini dianggap pas dengan hegemoni dan determinasi barat.

Sangat tidak mengherankan bila di tengah isu terorisme yang sedang hangat sekarang tiba-tiba muncul pernyataan beberapa tokoh yang mencoba menggeneralisasi bahwa terorisme itu adalah keinginan menerapkan syariah Islam dalam Daulah Islam. Mereka mencoba menebar ‘pukat harimau’ untuk menjaring aktivis pergerakan Islam.

Mereka sepertinya tutup mata-atau memang sengaja terhadap fakta bahwa tidak semua gerakan yang memperjuangkan syariah Islam dan khilafah setuju dengan aksi terorisme. Modus mereka ini sama dan sebangun dengan gaya Amerika dan barat umumnya melihat Islam pasca tragedi WTC pada September 2001.

Tak mengherankan bila banyak pihak yang menganalisis bahwa aksi-aksi terorisme di Indonesia ini sengaja dimainkan oleh pihak asing. Tujuannya adalah melemahkan umat Islam Indonesia sehingga Islam tidak bisa bangkit menjadi sebuah kekuatan yang besar di negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia ini.

Oleh karena itu perlu waspada terhadap segala tipu daya musuh-musih Islam tersebut. Para pengembang dakwah harus terus istiqomah mendakwahkan Islam dan mengembalikan kejayaan Islam dengan metode dakwah yang dicontohkan oleh Rosulullah SAW.

Siapa Teroris Sebenarnya ? Sadarlah Wahai Kaum Muslimin…!

Jadi, siapakah terorisme yang sebenarnya ? Kalau kita mau meneliti sejarah, maka terlalu banyak dan panjang catatan peristiwa sejarah Amerika yang dapat membuktikan bahwa Amerika adalah teroris sejati. Amerika dengan dukungan sekutunya NATO, berhasil menekan PBB untuk mengembargo Irak.

Jika definisi teror adalah membunuh rakyat sipil yang tak berdosa; anak-anak, wanita dan orang tua, maka mereka atau Amerika adalah teroris paling pertama, teratas dan terjahat yang dikenal oleh sejarah umat manusia. Mereka telah membantai jutaan rakyat sipil tak berdosa di seluruh dunia; Jepang, Vietnam, Afghanistan, Iraq, Palestina, Chechnya, Indonesia dan banyak negara lainnya.

Jika definisi teror adalah membom tempat-tempat dan kepentingan-kepentingan umum, mereka adalah pihak yang pertama, teratas dan terjahat yang mengajarkan, memulai dan menekuni hal itu.

Jika definisi teror adalah menebarkan ketakutan demi meraih kepentingan politik, maka merekalah yang pertama, teratas dan terjahat yang melakukan hal itu di seluruh penjuru dunia.

Jika definisi teror adalah pembunuhan misterius terhadap lawan politik, maka mereka adalah pihak pertama, teratas dan terjahat yang melakukan hal itu.

Jika definisi mendukung teroris adalah membiayai, melatih dan memberi perlindungan kepada para pelaku kejahatan, maka mereka adalah pihak yang pertama, teratas dan terjahat yang melakukan hal itu. Mereka bisa berada di balik berbagai kudeta di seluruh penjuru dunia. Aliansi Utara di Afghanistan, John Garang di Sudan, Israel di bumi Islam Palestina, Serbia dan Kroasia di bekas negara Yugoslavia, dan banyak contoh lainnya merupakan bukti konkrit tak terbantahkan bahwa The Real Terrorist adalah Amerika dan sekutu-sekutunya!

Dengan demikian, setelah ummat mengetahui rencana apa di balik isu terorisme, siapa teroris sebenarnya, maka mereka juga harus tetap sabar, tawakal, dan yakin bahwa Islam pasti menang. Hal ini sebagaimana janji Allah SWT dalam firmanNya :

“Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar (Islam) untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (QS At Taubah, 9 : 33 & QS Ash Shaff, 61 : 9)Wallahu’alam bis Showab!

* Artikel ini merupakan ringkasan dari Khutbah Ust. Abu Muhammad Jibriel (Wakil Amir Majelis Mujahidin) pada Bulan Syawwal di beberapa Masjid di Jakarta.


Selengkapnya...

Islam Agama Diskriminasi?

Di antara semua ciptaan Allah SWT ada manusia, yang Dia ciptakan hanya untuk satu tujuan, yakni beribadah, taat dan patuh hanya kepadaNya saja. Allah telah menginformasikan kepada kita lewat Rasul, Nabi dan wahyu bahwa ada sebagian orang yang Dia cintai dan mereka mencintaiNya, juga yang Dia benci dan mereka membenciNya.

Sebagai Muslim, kita tidak hanya berkewajiban untuk meyakini keberadaan Allah, tetapi juga apa yang Dia katakan dalam kitabNya dan lewat RasulNya. Mengingkari apa yang Allah telah turunkan adalah perbuatan murtad dan akan membatalkan iman seseorang. Kita berkewajiban untuk mencintai apa dan siapa saja yang Allah cintai dan membenci siapa saja yang Allah benci, dengan mengabaikan apakah itu legal atau tidak berdasarkan hukum kuffar.

Jika kita melihat Al-Qur’an, kita bisa melihat dengan jelas begitu banyak Allah memuji orang-orang beriman, yang beribadah, taat dan patuh kepadaNya serta mengutuk orang-orang kafir, menjanjikan mereka azab dan siksa yang kekal di hari akhir. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS Al Bayyinah, 98: 6)

Lebih lanjut Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS Al Bayyinah, 98: 7-8)

Selanjutnya, seorang Muslim tidak bisa mencintai Allah dan mencintai syaitan atau mencintai Allah tetapi juga mencintai orang-orang yang Allah benci. Kita mencintai orang-orang yang diridhai oleh Allah dan dijanjikan surga oleh mereka. Kuffar adalah orang-orang yang kafir, yang tidak beriman pada Islam dan Rasul terakhir; mereka adalah orang-orang yang Allah kutuk dan Dia SWT menggambarkan mereka sebagai “seburuk-buruk makhluk”. Mereka adalah Yahudi, Hindu, Sikhs, Budhis, anggota parleman, sosialis, atheis dan sebagainya.

Selanjutnya Allah SWT berfirman:

“...Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS An Nisa, 4: 101)

Jika Kuffar adalah musuh kita, kita seharusnya tidak hanya membenci mereka (dalam Islam kita tidak mencintai musuh kita – musuh-musuh Allah dan sebaliknya), tetapi juga agama mereka, ideologi dan tradisi mereka:

“Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (QS Al Baqarah, 2: 98)

Kekufuran mereka adalah apa yang membuat Allah murka dan menyebabkan Allah mengutuk mereka dan membalas mereka dengan azab yang abadi di hari kiamat. Allah SWT berfirman dalam Qur’an:

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS Al Fath, 48: 29)

Dalam ayat ini Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk berlaku keras kepada kuffar, tetap berkasih sayang kepada sesama orang-orang beriman. Bukankah ini agama diskriminasi? Allah SWT juga berfirman:

“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka...” (QS Muhammad, 47: 4)

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS At Taubah, 9: 29)

Dalam ayat di atas, Allah SWT secara terang-terangan memerintahkan untuk menyerang non-Muslim dan memerintahkan kita untuk memerangi mereka sampai mereka menerima hukum Islam dan membayar jizyah. Tidak hanya itu, tetapi juga dengan penghinaan! Tentang ayat ini banyak Ulama, seperti Imam Abu Hanifah membicarakan tingkat penghinaan seorang non-Muslim.

Abu Hanifah memerintahkan bahwa ketika non-Muslim membayarkan jizyahnya kepada Negara Islam, mereka seharusnya sambil membungkuk pada saat memberikan uang mereka dan mereka tidak diperbolehkan datang dengan transportasi apapun, tetapi dengan berjalan kaki. Ibnu Qayyim berkata bahwa non-Muslim tidak diperbolehkan mengendari kuda seperti tentara Muslim; tetapi dia harus berjalan dengan kedua kakinya. Ulama lain berkata bahwa mereka tidak diperbolehkan berjalan pada jalan yang sama dengan jalan yang digunakan Muslim tetapi berjalan dimana binatang berjalan.

Bukti untuk diskriminasi jenis ini adalah dari beberapa ayat dan hadits Rasulullah SAW. Diantaranya adalah:

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS At Taubah, 9: 23)

Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan kita orang-orang beriman untuk tidak mendukung keluarga kita jika mereka lebih menyukai kufur daripada iman... bukankah ini diskriminasi berdasarkan agama? Rasulullah SAW juga berfirman dalam hadits dibawah ini:

Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya. ( Al Jami As Saghir No 3063)

“Keluarkanlah Yahudi dan Nasrani dari jazirah Arab.” (Shahih Muslim Kitabul Jihad No 1767)

“Jangan menghormati Yahudi dan Nasrani sebelum mereka menghormati kamu. Dan ketika kamu berjumpa dengan salah satu dari mereka di jalan, paksa mereka untuk melawati bagian yang paling sempit dari jalan itu.” ( Al Jami AS Saghir No 9726)

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS Al Ma’idah, 5: 51)

‘Umar Bin Khattab menulis surat yang terkenal kepada orang-orang Nasrani yang hidup di bawah kekuasaan Negara Islam:

“Bismillahirrahmannirrahim... kalian berada di bawah perjanjian damai denganku kecuali kalian melakukan semua hal berikut: Tidak membangun gereja atau biara di daerahmu dan tidak juga memperbaikai gereja-gereja kalian. Dan tidak keluar dengan salib kalian atau kitab-kitab kalian. Tidak mengajak orang-orang untuk masuk ke dalam dien kalian, dan tidak menghalangi siapapun dari keluaraga kalian untuk memeluk Islam. Tidak membawa senjata, pedang atau tongkat – kecuali orang yang buta diantara kalian, cacat dan orang tua. Dan tidak menggunakan pakaian seperti Muslim dan sebagainya...” (Tafsir Ibnu Katsir surah At Taubah, 9:29)

Bukti-bukti di atas dengan tegas memerintahkan kita untuk diskriminasi terhadap non-Muslim bukan dengan ras, kelamin atau kabangsaan, tetapi dengan dien (agama). Faktanya Allah melarang kita menjadikan mereka sebagai teman, bergabung dengan tentara mereka. Semua Ulama sepakat bahwa tujuan untuk menghina kuffar adalah untuk menghinakan kekufuran dan kesyirikan mereka. bertanyalah kepada (aktifis) Muslim laki-laki jika dia mau menikahkan anak perempuannya atau saudaranya kepada seorang Yahudi, Nasrani, Hindu, Sikh atau non-Muslim lainnya mereka dengan tidak ragu-ragu akan menolaknya. Bukankah ini adalah diskriminasi berdasarkan agama?

Muslim dan non-Muslim tidak sama

Banyak non-Muslim suka mengklaim bahwa kita adalah sama dan semua beriman pada Tuhan yang sama. Muslim seharusnya selalu berhati-hati bahwa non-muslim adalah pembohong sebagaimana mereka mengatakan bahwa Tuhan yang mereka sembah mempunyai seorang anak, dan Tuhan yang kita sembah tidak mempunai anak! Dalam Al-Qur’an Allah menginformasikan kepada kita bahwa orang-orang yang mempunyai ilmu tidak sama dengan orang-orang yang tidak mempunyai ilmu, dan orang-orang yang melaksanakan Islam tidak sama dengan yang tidak melaksanakan:

“Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS Az Zumar, 39: 9)

“Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang- orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat ma'siat?” (QS Shaad, 38: 28)

Selanjutnya jika seseorang dengan ilmu tidak sama dengan orang yang tidak mempunyai ilmu, bagaimana bisa seorang Muslim menjadi sama dengan kafir? Mereka yang mengatakan Muslim sama dengan Yahudi, Nasrani dan non-Muslim lainnya adalah pembohong dan kafir. Muslim yang hidup di barat seharusnya seperti Nabi Musa AS, yang hidup diantara kuffar tetapi membenci mereka, dia memusuhi mereka dan menjadikan hidup mereka sengsara, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir'aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir'aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.” (QS Qashash, 28: 8)

Kuffar membenci Allah, Islam dan Muslim

Disamping semua ini, Allah menginformasikan kepada kita dalam Al-Qur’an tentang kebencian dan permusuhan non-Muslim ditujukan tidak hanya kepada Allah dan RasulNya, tetapi kitabNya dan juga orang-orang beriman:

“...Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak....” (QS At Taubah, 9: 8)

“Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS Al Baqarah, 2: 105)

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS At Taubah, 9: 32)

“Jika kamu mendapat suatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya; dan jika kamu ditimpa oleh sesuatu bencana, mereka berkata: "Sesungguhnya kami sebelumnya telah memperhatikan urusan kami (tidak pergi perang)" dan mereka berpaling dengan rasa gembira.” (QS At Taubah, 9: 50)

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.” (QS Ali Imran, 3: 100)

Selanjutnya tidaklah mengejutkan sama sekali melihat Kuffar mencoba untuk menerapkan peraturan baru untuk menghentikan Muslim yang membenci agama lain. Mereka dengan jelas iri dan dengki terhadap keimanan, kedamaian, gaya hidup dan keunggulan (Islam) di atas mereka, lebih lanjut ingin menjadikannya terlarang untuk menyebarkan agama kebencian (Islam). Mereka telah melupakan kenyataan bahwa meskipun itu adalah membenci semua agama yang keliru dan tuhan-tuhan yang lain daripada Islam dan Allah adalah kondisi (alasan) paling pertama untuk menjadi Muslim. Jika seorang Muslim mencintai semua orang (kecuali yang disebut teroris oleh barat) yang diingkan non-Muslim, maka mereka tidak bisa lagi menjadi seorang Muslim!

Lebih lanjut, jika kita tidak dibolehkan secara keyakinan mendiskriminasi melawan semua orang, maka pada hakikatnya kita tidak dibolehlan untuk membenci penyembah syaitan, padahal menyembah syaitan adalah sebuah agama! Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Baqarah, 2: 256)

Selanjutnya adalah sesuatu yang terlarang dan merupakan perbuatan kufur jika kita taat kepada hukum selain hukum Allah, yakni syari’ah. Muslim diwajibkan untuk membenci semua Tuhan-tuhan palsu selain Tuhan yang benar – Allah SWT. Dan membenci semua keyakinan, agama dan jalan hidup selain Islam. Ini adalah bagian dari Aqidah kita dan salah satu syarat pertama untuk menjadi Muslim. Muslim diwajibkan untuk mengajak non-Muslim kepada Islam dengan visi menggulingkan pemerintahan kufur yang dimana mereka hidup di bawahnya dan menerapkan Islam sebagai sebuah ideologi.

Muslim seharusnya tidak sampai berfikir bahwa hukum berkaitan untuk menyebarkan agama kebencian bertujuan untuk melindungi hak-hak Muslim saja. Tetapi hal itu (hukum Islam) juga melindungi non-Muslim. Mereka menggunakan Muslim sekuler untuk mempromosikan kekufuran mereka dan hukum jahat dengan tujuan untuk menipu masyarakat. Mereka mengancam siapa saja yang melawan mereka dengan menangkap, memenjarakan atau bahkan deportasi dan sebagainya atas nama ‘kebebasan berbicara’. Allah SWT berfirman :

‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata "Kami beriman", dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): "Matilah kamu karena kemarahanmu itu." Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.” (QS Ali Imran, 3: 118-119)

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja...” (QS Al Mumtahanah, 60: 4)Wallahu’alam bis showab!

Sumber
Selengkapnya...

Terorisme, Perang Melawan Siapa?

Istilah terorisme telah mengglobal dan dibicarakan oleh hampir seluruh kalangan. Bahkan istilah atau kata terorisme telah dipergunakan oleh Amerika sebagai instrumen kebijakan standar untuk memukul atau menindas lawan-lawannya dari kalangan Islam. Perang melawan terorisme telah menjadi teror baru bagi masyarakat, khususnya kaum Muslimin yang berdakwah dan bercita-cita menjalankan syariat secara kaaffah. Lalu apakah pengertian sebenarnya dari istilah terorisme ini? Siapakah teroris yang sebenarnya?

Definisi Terorisme

Masalah pertama dan utama dalam perdebatan seputar "terorisme" adalah masalah definisi. Tidak ada satu definisi pun yang disepakati oleh semua pihak. Terorisme akhirnya menjadi istilah multitafsir, setiap pihak memahaminya menurut definisi masing-masing, dan sebagai akibatnya aksi dan respon terhadap terorisme pun beragam.

Sebenarnya, istilah terorisme bukan suatu hal yang kompleks, bahkan secara bahasa istilah ini tidak mampu memberikan arti secara menyeluruh. Lalu kenapa orang lambat sekali dalam menempatkan definisi istilah ini?

Dari fakta yang ada, terdapat sebuah kedengkian di balik semua ini, karenanya dibutuhkan definisi yang menyeluruh termasuk variasi komponen-komponennya dan batasan-batasan yang diperlukan dari aspek yang berlawanan dengan komponen tersebut. Dalam fikiran banyak orang sekarang ini justru membutuhkan banyak kalangan untuk mendefinisikan istilah ini supaya tidak menjatuhkan hukuman pada orang yang tidak bersalah atas sejumlah tindak kejahatan dan sejumlah kebenaran yang disimpangkan.

Terorisme menurut Badan Intelijen Pertahanan Amerika Serikat adalah “Tindak kekerasan apapun atau tindakan paksaan oleh seseorang untuk tujuan apapun selain apa yang diperbolehkan dalam hukum perang yang meliputi penculikan, pembunuhan, peledakan pesawat, pembajakan pesawat, pelemparan bom ke pasar, toko, dan tempat-tempat hiburan atau yang sejenisnya, tanpa menghiraukan apa pun motivasi mereka.”

Oxford’s Advanced Learner’s Dictionary, 1995 mendefinisikan Terorisme adalah Penggunaan tindak kekerasan untuk tujuan politis atau untuk memaksa sebuah pemerintahan untuk melakukan sesuatu (yang mereka tuntut), khususnya untuk menciptakan ketakutan dalam sebuah masyarakat.

Badan intelejen Amerika CIA mendefinisikan Terorisme Internasional sebagai terorisme yang dilakukan dengan dukungan suatu pemerintahan atau organisasi asing dan atau diarahkan untuk melawan nasional, institusi, atau pemerintahan asing.

Dalam Oxford Dictionary disebutkan : Terrorist : noun person using esp organized violence to secure political ends. (perorangan tertentu yang mempergunakan kekerasan yang terorganisir dalam rangka meraih tujuan politis).

Dalam Encarta Dictionary disebutkan : Terrorism : Violence or the threat of violence carried out for political purposes. (Kekerasan atau ancaman kekerasan yang dilakukan demi tujuan politis).

Terrorist : Somebody using violence for political purposes : somebody who uses violence or the threat of violence, especially bombing, kidnapping, and assassanition, to intimidate, often for political purposes. (Seseorang yang menggunakan kekerasan untuk tujuan politis: seseorang yang menggunakan kekerasan, atau ancaman kekerasan, terkhusus lagi pengeboman, penculikan dan pembunuhan, biasanya untuk tujuan politis).

Dr. F. Budi Hardiman dalam artikel berjudul "Terorisme: Paradigma dan Definisi" menulis: "Teror adalah fenomena yang cukup tua dalam sejarah. Menakut-nakuti, mengancam, memberi kejutan, kekerasan, atau mem­bunuh dengan maksud menyebarkan rasa takut adalah taktik-taktik yang sudah melekat dalam perjuangan kekua­saan, jauh sebelum hal-hal itu dinamai “teror” atau “terorisme”.

Istilah “terorisme” sendiri pada 1970-an dikenakan pada beragam fenomena: dari bom yang meletus di tempat-tempat publik sampai dengan kemiskinan dan kelaparan. Beberapa pemerintah bahkan menstigma musuh-musuhnya sebagai “teroris” dan aksi-aksi mereka disebut “terorisme”. Istilah “terorisme” jelas berko­notasi peyoratif, seperti juga istilah “genosida” atau “tirani”. Karena itu istilah ini juga rentan dipolitisasi. Kekaburan definisi membuka peluang penyalahgunaan. Namun pendefinisian juga tak lepas dari keputusan politis."

Mengutip dari Juliet Lodge dalam The Threat of Terrorism (Westview Press, Colorado, 1988), “teror” itu sendiri sesungguhnya merupakan pengalaman subjektif, karena setiap orang memiliki “ambang ketakutannya” masing-masing. Ada orang yang bertahan, meski lama dianiaya. Ada yang cepat panik hanya karena ketidaktahuan. Di dalam dimensi subjektif inilah terdapat peluang untuk “kesewenangan” stigmatisasi atas pelaku terorisme.

Amerika Memanfaatkan Terorisme Untuk Melawan Islam

Noam Chomsky, ahli linguistik terkemuka dari Massachussetts Institute of Technology, AS, telah menyebutkan kebijakan Amerika dan Barat terhadap Dunia Islam dengan isu "terorisme" ini sudah begitu kuat terasa sejak awal 1990–an. Tahun 1991, ia menulis buku "Pirates and Emperor: International Terrorism in The Real World."

Noam Chomsky, ahli linguistik terkemuka dari AS

Dalam artikelnya yang dimuat oleh harian The Jakarta Post (3 Agustus 1993), dan dimuat ulang terjemahannya oleh harian Republika dengan judul "Amerika Memanfaatkan Terorisme Sebagai Instrumen Kebijakan", ia menulis bahwa Amerika memanfaatkan terorisme sebagai instrumen kebijakan standar untuk memukul atau menindas lawan-lawannya dari kalangan Islam.

Jadi, kebijakan Amerika dan Barat untuk memerangi dunia Islam dengan menggunakan isu "perang melawan terorisme internasional" sudah digulirkan sejak awal 1990-an, jauh sebelum kemunculan Taliban, apalagi Al-Qaeda, tragedi WTC maupun berbagai pemboman di sejumlah kawasan di dunia Islam.

Demikianlah, perang melawan terorisme yang digalang oleh Amerika, Barat dan antek-anteknya, sejatinya adalah perang malawan Islam dan kaum Muslimin. Targetnya adalah umat Islam, sampai kepada titik mengganti kurikulum pendidikan agama agar sesuai dengan nilai-nilai dan keinginan Barat. Upaya apapun untuk mengkaburkan hakekat ini, justru kontra produktif dan menguntungkan mereka-mereka yang membenci Islam.

Bagaimana Dengan Islam ?

Dalam Islam, istilah terorisme sendiri tidak pernah dikenal. Jikapun dicari padanan kata terorisme, maka yang dikenal adalah istilah Al Irhab, yang menurut Imam Ibnu Manzhur dalam ensiklopedi bahasanya mengatakan: Rohiba-Yarhabu-Rohbatan wa Ruhban wa Rohaban : Khoofa (takut). Rohiba al-Syai-a Rohban wa Rohbatan : Khoofahu (takut kepadanya).

Bisa difahami bahwa kata Al-Irhab (teror) berarti (menimbulkan) rasa takut. Irhabi (teroris) artinya orang yang membuat orang lain ketakutan, orang yang menakut-nakuti orang lain. Dus, setiap orang yang membuat orang yang ia inginkan berada dalam keadaan ketakutan adalah seorang teroris. Ia telah meneror mereka, dan sifat "teror" melekat pada dirinya, baik ia disebut sebagai seorang teroris maupun tidak; baik ia mengakui dirinya seorang teroris maupun tidak.

Dalam Islam, tidak diperbolehkan untuk melanggar kesucian kehidupan seseorang, baik secara lisan, fisik, maupun finansial, tanpa ijin atau hak dari Sang Pencipta, Allah SWT. Setiap Muslim memiliki kesucian jiwa, harta, dan kehormatan, sebagaimana Sabda Rasulullah SAW :

“Barangsiapa membantu orang untuk membunuh kaum Muslimin bahkan dengan sebuah ucapan atau kurma, maka dia kafir.”

Kalau demikian adanya, maka apa namanya ketika tentara Amerika datang dari jauh ke Irak untuk membunuh dan menawan kaum Muslimin, seraya mengklaim bahwa mereka memerangi teroris, yang diartikan (menurut) mereka dengan menghancurkan masjid-masjid, menawan para Muslimah, menginjak-injak Al-Qur’an sebagaimana mereka melakukannya juga di negeri-negeri kaum Muslimin lainnya ? Tindakan inilah yang merupakan akar permasalahan terorisme yang hingga saat ini terus berlanjut.

Amerika, The Real Terrorist

Ungkapan di atas adalah fakta yang tidak terbantahkan. Terlalu banyak dan panjang catatan peristiwa sejarah Amerika yang dapat membuktikan bahwa Amerika adalah teroris sejati. Amerika dengan dukungan sekutunya NATO, berhasil menekan PBB untuk mengembargo Irak, pasca Perang Teluk Kedua (1991). Kaum Muslimin menjadi korban, tidak kurang 1,5 juta orang meninggal. Belum lagi mereka yang cacat dibombardir tentara Multinasional dalam Perang Teluk Kedua ini.

Setelah lebih dari 12 tahun embargo, tahun 2003 Amerika dengan sekutu-sekutunya menginvasi Irak, menggulingkan pemerintahan, dan membentuk pemerintahan boneka. Dalam aksinya ini, Amerika telah membunuh ribuan kaum Muslimin, baik anak-anak, orang tua, maupun wanita. Semuanya demi kepentingan Amerika dan sekutunya. Apakah aksi-aksi brutal ini bukan sebuah bentuk teror, bahkan puncak dari teror ? Dus, Amerika dan sekutunya adalah teroris bahkan teroris sejati? Sayangnya media massa menyebut warga Irak yang mempertahankan negaranya dari agresi Amerika itulah yang teroris, fundamentalis, ataupun pemberontak.

Contoh serupa terjadi di negeri-negeri kaum Muslimin lainnya, seperti Afghanistan, dan Pakistan. Bahkan contoh kasus negeri Muslim Palestina yang dijajah sejak tahun 1948 oleh Israel atas restu Amerika dan sekutunya, lebih menunjukkan lagi bahwa Amerika benar-benar teroris sejati. Serangkaian teror yang dilakukan agresor Israel atas kaum Muslimin Palestina tidak pernah mendapatkan sanksi. Tentu saja karena Israel dibesarkan dan dibela oleh Amerika. Setiap tahun, Amerika memberikan bantuan ekonomi kepada Israel tak kurang dari 3 miliar dolar USA. Ini belum terhitung bantuan militer yang dipergunakan untuk melakukan politik terornya kepada bangsa muslim Palestina yang tak bersenjata.

Jadi, semuanya sangat tergantung kepada definisi teror dan terorisme yang saat ini didominasi oleh definisi yang dibuat Amerika dan sekutu-sekutunya. Seandainya mereka membuat definisi standar "teror dan terorisme" yang dapat diterima semua pihak, mereka (Amerika) adalah pihak pertama dan teratas yang menempati daftar teror dan terorisme.

Jika definisi teror adalah membunuh rakyat sipil yang tak berdosa; anak-anak, wanita dan orang tua, maka mereka adalah teroris paling pertama, teratas dan terjahat yang dikenal oleh sejarah umat manusia. Mereka telah membantai jutaan rakyat sipil tak berdosa di seluruh dunia; Jepang, Vietnam, Afghanistan, Iraq, Palestina, Chechnya, Indonesia dan banyak negara lainnya.

Jika definisi teror adalah membom tempat-tempat dan kepentingan-kepentingan umum, mereka adalah pihak yang pertama, teratas dan terjahat yang mengajarkan, memulai dan menekuni hal itu.

Jika definisi teror adalah menebarkan ketakutan demi meraih kepentingan politik, maka merekalah yang pertama, teratas dan terjahat yang melakukan hal itu di seluruh penjuru dunia.

Jika definisi teror adalah pembunuhan misterius terhadap lawan politik, maka mereka adalah pihak pertama, teratas dan terjahat yang melakukan hal itu.

Jika definisi mendukung teroris adalah membiayai, melatih dan memberi perlindungan kepada para pelaku kejahatan, maka mereka adalah pihak yang pertama, teratas dan terjahat yang melakukan hal itu. Mereka bisa berada di balik berbagai kudeta di seluruh penjuru dunia. Aliansi Utara di Afghanistan, John Garang di Sudan, Israel di bumi Islam Palestina, Serbia dan Kroasia di bekas negara Yugoslavia, dan banyak contoh lainnya merupakan bukti konkrit tak terbantahkan bahwa The Real Terrorist adalah Amerika dan sekutu-sekutunya!

Terorisme, Perang Melawan Siapa?

Kini menjadi jelas siapa sebenarnya teroris sejati. Amerika bersama sekutunya telah melakukan teror kepada Islam dan kaum Muslimin sejak lama, diketahui bahkan direstui oleh dunia internasional. Ini sungguh tidak adil. Dunia diam saja dengan jumlah korban yang mencapai ratusan ribu dari umat Islam, namun berteriak-teriak lantang dan dipublikasikan luas jika dari pihak Amerika dan sekutunya yang terbunuh.

Sekilas realita teror dan terorisme ini cukup memberi contoh bentuk teror yang hari ini wujud di pentas dunia. Perang terhadap terorisme yang dikampanyekan oleh dunia internasional hari ini, di bawah arahan Amerika, tanpa memberi definisi dan batasan yang jelas terhadap "teror dan terorisme" telah menjadi alat efektif kekuatan pembenci Islam, untuk memerangi Islam dan kaum Muslimin. Melalui kampanye media massa dan elektronik internasional, "teror dan terorisme" telah didistorsikan dan dikaburkan sedemikian rupa; definisi, batasan, substansi, tujuan dan bentuk kongkritnya.

Adapun jika definisi teror dan terorisme distandarisasi, maka mereka yang akan menjadi pihak yang paling pertama, teratas dan terjahat yang terkena definisi tersebut. Oleh karenanya, mereka enggan memberikan definisi teror dan terosrime. Satu-satunya hal yang bisa dipahami seluruh umat manusia di dunia saat ini, bahwa "teror dan terorisme" versi hukum internasional (PBB yang mewakili kepentingan Amerika dan negara-negara adidaya lainnya) adalah Islam dan umat Islam, terutama umat Islam yang ingin hidup di dunia ini dengan merdeka penuh, bertauhid dan membela orang bertauhid, serta ingin menjalankan Islam secara kaafah.Wallahu’alam bis Showab!.

Sumber

Selengkapnya...

Haram Merayakan Natal & Tahun Baru

Allah swt. telah memuliaakan umat ini dengan Islam, dan memerintahkan-nya untuk mengimplementasikan-nya. Dia telah menurunkan Islam sebagai cara hidup yang unik. Sebuah pola yang berbeda dalam masalah konsepnya dan peraturan-peraturannya, sebagai sesuatu yang sempurna dan sistem menyeluruh yang mengatur semua urusan kehidupan.

Allah swt. berfirman: "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..." (QS Ali Imran 3 : 110)

Namun, sejak Islam diabaikan dari kehidupan sehari-hari sebagai sebuah sistem peraturan, umat telah melaksanakan hal-hal yang buruk dan semakin bertambah buruk; aturan orang-orang kafir telah diimplementasikan atas umat ini dan konsep-konsep kufur telah mendominasi mereka. Invasi barat dengan budaya busuk dan hina dina itu telah berhasil merusak dien Islam, moral umat dan menjadikannya tak bernilai. Slogan barat telah di adopsi oleh kaum Muslimin melalui perayaan-perayaan dan festival-festival barat. Budaya rusak barat ini telah dibantu oleh para penguasa yang mengabdikan dirinya untuk memisahkan Islam dari kehidupan dan melakukan perang pemikiran dan menanamkan konsep-konsep buruknya, kemudian memaksa umat untuk masuk pada apa yang barat selalu inginkan, yakni menjadi individu yang sekuler.

Salah satu dari banyak konsep budaya yang dipaksakan oleh barat atas kaum Muslimin adalah perayaan natal dan tahun baru. Kita memohon pada Allah swt. agar tidak membiarkan diri kita melihat suatu hari dimana kaum Muslimin merayakan hari jadi orang-orang Yahudi (hari raya Yahudi) dan juga melakukan perayaan Natal.

Ini sungguh menyedihkan dan ironis sekali untuk menyaksikan dengan mata sendiri kejadian dan mendengar berita tentang pembunuhan masal, pengusiran dan penghinaan terhadap kaum Muslimin di tangan barat pada hari Natal, musuh-musuh Islam di seluruh penjuru dunia, sambil sebagian kaum Muslimin di negeri ini diundang oleh orang-orang Amerika dan orang Kristen lain-nya masuk ke dalam rumah mereka untuk merayakan natal dan tahun baru. Tentu saja, ini seharusnya tidak terjadi sebagai sebuah goncangan kepada kita sejak umat ini kehilangan pelindungnya yang menjalankan urusannya dengan Islam, melindunginya dari serangan konsep-konsep kufur dan menjalankan peraturan-peraturang diennya, memeliharanya sebagai sebuah perintah Allah swt., sebuah umat yang khas.

Wahai kaum Muslimin! Itu (Perayaan atau mengucapkan natal & tahun baru) adalah sesuatu yang dilarang oleh syariah untuk ambil bagian dalam perayaan orang-orang kafir, dan untuk mencontoh mereka dalam masalah dien (agama).

Al-Bukhari meriwayatkan dalam shahih-nya melalui Abu Sa'id Al Khudri r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda : "kamu akan mengikuti cara-cara dari orang-orang yang sebelum kamu sehasta demi sehasta dan selangkah demi selangkah, walau pun mereka memasuki lubang biawak kamu akan mengikuti mereka". Kami berkata: "Wahai Rasulullah, apakah yang kamu maksud (mengikuti) Yahudi dan Nasrani?" beliau menjawab: "Siapa lagi?"

Dalam Hadits ini Rasulullah mengejek orang-orang yang meniru orang-orang kafir, dan itu adalah sebuah hujjah (dalil/alasan syar'i) bahwa itu (merayakan natal dan tahun baru) adalah haram (tertolak), baik untuk mengikuti mereka dalam perayaan natal dan seremonial-seremonial lainnya mereka. Itu juga jelas bahwa perayaan seremonial orang-orang kafir dan perayaan ulang tahun mereka berarti meniru mereka dan Islam telah menolaknya. Rasulullah saw. telah memberi peringatan kepada kita untuk menolaknya.

At-Tirmidzi meriwayatkan melalui Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw. bersabda: " Bukan seseorang dari kita (kaum muslimin) yang meniru suatu kaum, jangan meniru orang-orang Yahudi dan Nasrani."


At-Tabrani meriwayatkan melalui Ibnu Umar dan Hudaifah bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Siapa yang mengikuti suatu kaum akan menjadi salah satu dari mereka."

Itu juga merupakan bagian dari teks syariah bahwa itu adalah tertolak bagi seorang Muslim yang telah mempunyai hari raya nya sendiri yaitu I'edul Fitri dan I'dul Adha.

Al-Baihaqi meriwayatkan dalam 'Sunan'-nya dari Anas Bin Malik yang berkata : " Rasulullah saw. datang ke Madinah pada saat orang-orang Madinah mempunyai dua hari pada masa jahiliah (sebelum Islam) yang mereka rayakan, maka beliau saw. berkata: "Aku datang kepadamu pada saat kamu mempunyai 2 hari dari masa jahiliah yang kamu rayakan, dan Allah swt. telah menggantikannya 2 hari ini dengan dua hari yang lebih baik: hari raya Kurban dan hari Fitri."

Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Uqbah Ibnu Amir bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Dan kami mempunyai hari Fitri, hari Kurban dan hari Tasyriq adalah hari besar kami orang-orang Muslim."

Teks-teks ini disajikan sebagi hujjah yang jelas bahwa itu tertolak bagi kaum Muslimin untuk mempunyai perayaan selain dari pada apa yang telah Allah swt. putuskan. Mereka (kaum muslimin) selanjutnya tertolak untuk ambil bagian dalam perayaan orang-orang kafir, dari perayaan seperti upacara mereka, adalah sesuatu yang tertolak seperti menghadiri perayaan mereka, walau pun mereka mengundang. Seperti cara upacara akan menghantar kepada kerusakan dan pemutusan mereka akan menjadi sebuah kesempatan bagi setiap orang-orang fasiq untuk melakukan perbuatan yang berdosa, seperti mengkonsumsi alkohol dan obat-obat terlarang. Media masa yang ada cenderung pada peristiwa ini untuk menayangkan program-program yang mempunyai selera yang buruk dan semua jenis ketidaksopanan dan kerusakan. Mereka mencemari pemikiran orang-orang dan mengikis segala jenis moral yang baik, martabat, dan kesucian mereka.

Wahai kaum Muslimin! Umat akan terus-menerus tertekan di bawah konsep orang-orang kafir dan akan terus terdominasi. Mental kaum Muslimin akan terus tebentuk sesuai dengan sudut pandang orang-orang barat, kecuali kita mulai membuang semua pemahaman barat yang ada pada diri kita dan berjuang untuk menegakkan Khilafah Rasyidah, yang akan mengimplementasikan kitab Allah swt. dan sunnah Rasul-Nya saw., dan akan menumbangkan ketidakadilan, penguasa tiran dan kerusakan yang tampak atas kaum Muslimin, yang kemudian sebagai hasilnya orang-orang kafir akan kehilangan kekuatan dan identitas mereka.

Selanjutnya, itu adalah untuk khilafah bahwa kita menyeru kepada mu (kaum muslimin) untuk memperjuangkannya, wahai kaum Muslimin! Rasulullah saw. bersabda: "Imam (pemimpin) itu adalah pelindung dimana orang-orang berperang dan terlindung dengannya." (Shahih Bukhari)

Sumber

Selengkapnya...

Kritik Buku Menggugat Al Qaidah : Merasionalisasi Jihad Dunia Dari Penjara Mesir

Di bulan April 2009, sebuah buku diterbitkan oleh Sabili Publishing, berjudul Menggugat Al Qaidah ; Rasionalisasi Jihad di Mesir dan Dunia. Di sampul depan tercantum nama penulisnya, Dr Fadl, Pendiri Al Qaidah dan Mantan Penasihat Ayman al-Zawahiri. Tidak ketinggalan sebuah label bertuliskan “Buku Paling Kontroversial Di Timur Tengah” terpampang di sampul depan, melengkapi buku berilustrasi gagang pedang warna keemasan dengan latar belakang warna hitam.

Cover Buku Menggugat Al Qaidah Terbitan Sabili yg Beredar Di Pasaran

Buku Menggugat Al Qaidah setebal 239 halaman yang diterbitkan oleh Sabili Publishing ini adalah hasil terjemahan dari naskah berbahasa Inggris berjudul “Rationalization of Jihad in Egypt and the World” yang ditulis Dr Fadl di dalam penjara pemerintah Mesir.

Dalam Pengantar Penerbit dikatakan : “Meski saat ini hidup dalam penjara pemerintah Mesir, Sayyid Iman tetap memikirkan kelangsungan jihad demi tegaknya agama Allah, al Islam. Untuk itu ia menuangkan pemikirannya dalam bentuk buku yang ditulisnya di penjara.” (Halaman XIII)

Menulis buku jihad di dalam sebuah penjara bukanlah sebuah masalah. Namun, jikalau isi buku tersebut menyudutkan dan menyalahkan jihad serta mujahidin, itu adalah sebuah masalah besar. Inilah yang terjadi pada buku karya Sayyid Imam, atau Dr Fadl, atau yang juga lebih dikenal dengan nama pena Syekh Abdul Qadir bin Abdul Aziz di dalam buku yang aslinya berbahasa Arab dengan judul : “Wathiqatu Tarsyidil ‘Amalil Jihadi Fie Mishr wal 'Alam”. Lalu, apa yang salah dengan buku tersebut ?

Buku Jihad Pesanan Dari Penjara Mesir

Di dalam Pengantar Penerbit buku Menggugat Al Qaidah tersebut disebutkan perlunya kaum muslimin untuk mengikatkan diri pada fiqhul jihad yang benar karena adanya pelanggaran syariah dalam berjihad. Berikut kutipan lengkapnya :

“Lantas, apa yang bisa kita perbuat ? Kaum Muslimin yang mengetahui terjadinya pelanggaran syariah dalam berjihad, sebaiknya berupaya mengikatkan diri bersama umat Islam lainnya pada fiqhul jihad yang benar. Di sisi lain, diperlukan komitmen tegas menjalankan jihad sesuai tuntunan syariah. Selanjutnya, pada generasi muda Muslim, agar banyak belajar meningkatkan pemahaman keislamannya agar tidak melakukan pelanggaran syariah seperti yang dilakukan sebagian pendahulu kita. (Halaman XI – XII)

Jihad global yang telah dilakukan mujahidin, khususnya oleh jamaah jihad Al Qaidah, menurut penulis buku ini telah melanggar prinsip Islam tentang perang, diantaranya :

Pertama, membunuh atas dasar perbedaan kebangsaan (ras atau suku). Ini tidak dibenarkan, karena Islam tidak membedakan kebangsaan, ras, atau suku. Justru Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal. Kedua, membunuh warga sipil Muslim atau non-Muslim yang tidak terlibat perang. Ketiga, membunuh wanita, anak-anak dan orang-orang jompo. Kedua kelompok warga ini seharusnya dilindungi. Keempat, menggunakan warga sipil sebagai tameng hidup untuk menghadapi musuh atau membunuh warga sipil yang dijadikan tameng hidup oleh musuh. Kelima, membebaskan musuh yang meminta jaminan keselamatan dengan memberikan imbalan atau harta. Keenam, merampas harta benda musuh yang bukan haknya. (Halaman X)

Benarkah semua tuduhan di dalam buku ini telah dilakukan oleh Al Qaidah ? Jika tidak benar, mengapa Sayyid Imam, atau Syekh Abdul Qadir bin Abdul Aziz, yang dikenal sebagai ulama mujahid yang banyak memberikan inspirasi jihad melalui buku-bukunya sampai hati menulis buku yang menyalahkan dan menyudutkan jihad di Mesir dan dunia tersebut ? Apa yang melatarbelakangi penulisan buku ini ?




Sebelum kita membahas lebih jauh buku Menggugat Al Qaidah karya Dr Fadl ini, perlu diketahui kronologis berikut sejarah kehidupan Dr Fadl sedari awal hingga akhirnya beliau menulis buku yang menyulut kontroversi di kalangan mujahidin ini.


Dalam buku Balada Jamaah Jihad (Jazera, Solo, 2005), karya Dr. Hani As-Sibai, aktivis Jamaah Jihad Mesir, dituliskan biografi singkat Dr Fadl atau Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz sebagai berikut.

Nama lengkap Dr Fadl adalah Sayyid Imam bin Abdul Aziz Imam Asy Syarif. Beliau lebih populer dengan nama Syekh Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz. Beliau lahir pada Agustus 1950 di kota Bani Suwaif, Mesir Selatan. Beliau Menuntut ilmu dan menghafal Al Qur`an sejak kecil serta mulai menulis buku sejak awal usia mudanya.

Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Kairo tahun 1974 M dengan meraih predikat Mumtaz (cum laude). Setelah lulus ia sempat bekerja sebagai Wakil Kepala Bagian Operasi pada Jurusan Spesialis Mata di Fakultas Kedokteran Universitas Kairo.

Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz mulai menjadi buron pemerintahan Mesir pasca terbunuhnya Anwar Sadat pada tahun 1981 M, namun ia berhasil meloloskan diri keluar dari Mesir. Kemudian Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz bekerja sebagai direktur sebuah rumah sakit milik Bulan Sabit Merah Kuwait di Kota Peshawaar, Pakistan. Dengan dibantu oleh Dr Ayman Azh Zhawahiri.

Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz menikah dengan seorang wanita Palestina dan dikarunia empat orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Di Pakistan itulah Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz sempat meraih gelar doktor dibidang bedah disalah satu universitas di sana.

Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz kemudian meninggalkan Pakistan dalam rangka menghindari kejaran pihak intelijen. Pada saat bersamaan terjadi penangkapan terhadap orang-orang Arab di daerah Peshawar pada tahun 1993 M. Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz kemudian menuju Sudan.

Beliau sempat tinggal di Yaman pada saat akhir perang saudara antara Yaman Utara dengan Yaman Selatan dan kemudian bekerja di Rumah Sakit Ats Tsaurah Al `Aamm di Kota Ib sebelah selatan Ibukota Shan`a, sebagai sukarelawan. Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz sempat menikahi seorang wanita dari daerah tesebut, dan kemudian dikaruniai satu orang anak perempuan. Selanjutnya Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz bekerja di sebuah Rumah Sakit Spesialis Daar Asy Syifaa.

Pada bulan April 1999 M, Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz divonis penjara seumur hidup dalam kasus “orang-orang yang kembali dari Albania”, padahal beliau sama sekali tidak pernah pergi ke sana. Setelah peristiwa 11 September 2001 M, pada tanggal 28 Oktober 2001 M, beliau ditangkap oleh pemerintahan thoghut Yaman. Selanjutnya beliau dipenjara di rumah tahanan politik yang berada di Shan`a selama 2 tahun 5 bulan.

Terakhir Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz di ekstradisi ke Mesir yaitu pada tanggal 28 Februari 2004 M, oleh pemerintah Mesir. Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz dan sejumlah kawan seperjuangannya dipenjara dan ada pula yang divonis hukuman mati.

Jamaah islamiyah Mesir yg Di Penjara

Dr Fadl atau Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz memiliki sejumlah karya tulis yang monumental dan menginspirasi kaum Muslimin seluruh dunia, khususnya mujahidin. Buku pertama yang beliau keluarkan adalah Al `Umdah fie I`daadil `Uddah (Bekal dalam Mempersiapkan Kemampuan).

Buku ini disebarluaskan pada tahun 1988 di saat jihad tengah berkecamuk antara mujahidin dengan pasukan kafir Uni Soviet di Afghanistan. Buku ini juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Al ‘Umdah fi I’dadil ‘Uddah ; Kupas Tuntas Seputar I’dad & Jihad, diterbitkan oleh Darul Ilmi, Solo.

Lima tahun kemudian, Sayyid Imam menghasilkan sebuah kitab lagi yang juga terkenal di kalangan mujahidin, yakni “Al Jaamie’ Fie Thalabil Ilmisy Syaarif”. Kitab setebal 1.100 halaman ini dianggap sebagai buku yang lengkap, terdiri dari teori, doktrin, dan dasar hukum untuk gerakan jihad, tidak hanya di Mesir, tetapi juga di mana-mana. Buku ini juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sama dan diterbitkan oleh penerbit Al Alaq, Solo.

Pasca serangan 11 September 2001 dan ditangkapnya Dr Fadl oleh otoritas Yaman, 28 Oktober 2001, Dr Fadl mulai mengalami ‘perubahan’. Beliau mulai memiliki pandangan-pandangan berbeda tentang jihad. Perubahan besar semakin terjadi ketika beliau diektradisi ke penjara Mesir oleh pemerintahan Yaman, dan dikenai hukuman seumur hidup. Beliau mulai menghuni penjara Mesir sejak tahun 2004.

Setelah kurang lebih 3 tahun mendekam di penjara Mesir inilah, Dr Fadl akhirnya mengeluarkan buku kontroversial, Menggugat Al Qaidah. Buku ini mulai ditulis sejak Kamis, 18 Safar 1428 H (8 Maret 2007) dan mulai dipublikasikan secara bertahap oleh Harian Al-Misri al-Yawm di Kairo Mesir, mulai 18 November-3 Desember 2007.

Kemudahan penulisan buku tersebut sekaligus publikasi besar-besaran di dua harian terkemuka di Arab, yakni Al Jarida, di Kuwait, dan Al Misri al-Yawm, di Kairo Mesir, mengundang dugaan kuat adanya restu atau perintah bahkan pesanan khusus dari pemerintah Mesir. Apalagi dalam buku tersebut terselip pokok bahasan khusus ‘Larangan Memberontak Bagi Mujahidin”, yakni sebuah pembahasan yang intinya menjelaskan prinsip-prinsip agama yang melarang pemberontakan terhadap aturan yang ditetapkan pemerintah di negara-negara Muslim (Menggugat Al Qaidah, Halaman 89).

Sayangnya, buku jihad pesanan dari penjara Mesir yang ditulis oleh Dr Fadl ini oleh penerbit Sabili Publishing dianggap sebagai “Panduan Jihad” yang dapat meluruskan dan merumuskan pemahaman tentang jihad secara benar sesuai Al Qur’an dan As Sunnah. Penerbit buku ini sepertinya langsung setuju begitu saja dan membenarkan seluruh hal yang terdapat dalam buku yang kontroversial ini.

Apakah pihak penerbit, yakni Sabili Publishing telah yakin dan melakukan pembuktian ilmiah (sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah, berdasarkan pemahaman Salafus Sholeh) terhadap isi buku tersebut sehingga layak menjadi bacaan kaum Muslimin. Apakah pihak penerbit telah melakukan tabayyun kepada pihak yang digugat dan dipersalahkan dalam buku ini, yakni Al Qaidah, bahwa semua yang dituduhkan dan disalahkan oleh penulis adalah benar. Pihak penerbit seharusnya meneliti dan mencari tahu jawaban pihak Al Qaidah terhadap gugatan yang dilakukan Dr Fadl dari penjara pemerintah Mesir.

Hal ini perlu dilakukan oleh penerbit jika sungguh-sungguh ingin menjadikan buku ini sebagai bahan bacaan yang bermanfaat bagi kaum Muslimin, dan bukan sekedar menjadi pengikut dari arus media global yang dihegemoni Barat yang memang dengan sengaja mempropagandakan buku ini untuk melemahkan jihad dan perjuangan kaum Muslimin. Apalagi selama ini Sabili dikenal sebagai salah satu media Islam yang komitmen menyuarakan dan memperjuangkan jihad kaum Muslimin di seluruh dunia.

Syekh Ayman Membantah Dalam At Tabriah


Buku At Tabriah, jawaban Atas Tuduhan Dr Fadl Di Buku At Tarsyid

Jawaban resmi Al Qaidah atas gugatan dan tuduhan yang dialamatkan kepadanya keluar dalam jarak waktu hanya dua bulan saja. Syekh Ayman Azh Zhawahiri, orang kedua Al Qaidah membuat kitab At Tabriah yang khusus dipersiapkan untuk menjawab buku yang ditulis oleh Dr Fadl.

Dr Aiman Al Zawahiri (Hafizahullah)

Kitab resmi keluaran Al Qaidah yang ditulis oleh Syekh Ayman berjudul asli At Tabriah Risalatun Fie Tabriati Ummatil Qalami was Saifi min Munaqqashati Tuhmatil Khawari Wadh Dhu’fi. Secara ringkas kata At Tabriah berarti : Pelepasan. Maksudnya, kitab ini memang dipersiapkan dalam rangka melepaskan ummat yang berilmu dan berperang, (para mujahidin maksudnya) dari tuduhan lemah dan tidak berdaya.

Kitab At Tabriah ini memang dibuat khusus untuk menyanggah buku karya Dr Fadl, yang berjudul asli : “Watsiqatu Tarsyidil Amalil Jihadi Fie Mishr wal ‘Alam”, atau kemudian menjadi “Rationalization of Jihad in Egypt and the World” dalam versi bahasa Inggris. Dari edisi bahasa Inggris inilah, Sabili Publishing menerjemahkan untuk kemudian menerbitkannya kembali dengan judul “Menggugat Al Qaidah ; Rasionalisasi Jihad di Mesir dan Dunia”.


Syaikh Mukhlas Ali Ghufran (Rahimahullah)

Abu Khubaib At Tenjuluny atau Syekh Mukhlas rahimahullah, dalam risalah “Maktabah Kita” memberikan komentarnya setelah membaca tuntas kitab karya Syekh Ayman, At Tabriah. Menurut beliau, inti kandungan kitab karya Dr Fadl yang ditulisnya dalam penjara Mesir itu adalah :

1. Memperbaharui dan memperhebat kritikannya terhadap operasi-operasi jihad yang pernah ditulis dalam kitab Al Jamie, dan kali ini sasaran utamanya adalah Al Qaidah sebagai tandzim atau jama’ah jihad, sedang secara induvidu adalah Asy Syekh Ayman dan Asy Syekh Usamah bin Ladin. (At Tabriah, Muqaddimah halaman 3)
2. Berusaha menghentikan operasi-operasi jihad dengan alasan kaum Muslimin (mujahidin) lemah dan tidak berdaya dan dengan alasan tidak terpenuhinya penopang-penopang jihad.
3. Menunjukkan kepada ummat keraguannya terhadap pendapat-pendapatnya dan fatwa-fatwanya yang ditulis selama ini di dalam kitab-kitabnya, dan sepertinya memberi isyarat agar tidak diikuti, khususnya dalam masalah yang berhubungan dengan jihad dan operasi jihad yang tidak sejalan dengan “Watsiqah Tarsyid”. (Menggugat Al Qaidah)

Syekh Ayman Azh Zhawahiri pada catatan (al mulahadzah) pertama mengomentari kitab Watsiqah Tarsyid sebagai berikut :

Risalah ini judul namanya bertentangan dengan tema yang dibicarakan. Judul namanya “Petunjuk Al Amal Al Jihadi (Operasi Jihad). Judul ini mengundang pertanyaan amal jihad bersama siapa? Dan melawan siapa ? Bila kita ikuti pembahasannya dalam risalah Al Watsiqah, kita dapat mengetahui bahwa yang dimaksud amal jihadi tersebut adalah amal jihadi yang terjadi di Mesir dan di luar Mesir, melawan para penguasa yang keluar dari syari’at Islam, melawan Amerika dan Yahudi. Sedangkan sebagaimana yang dia katakan kita adalah orang-orang yang lumpuh, timpang, cacat, lemah, miskin, dan tertindas, dan seterusnya…Maka amal jihad apa yang mau dia tunjukkan? Jadi judul yang paling tepat dan sesuai untuk kitab macam itu adalah “Ilqha au Ta’jiz au Iqaf al Amal al Jihad.” (Penghapusan atau pelumpuhan atau penghentian amal jihadi). Kitab tersebut diberi nama yang bertentangan dengan maudhunya agar supaya meringankan dari pengaruh judul terhadap pendengar. Kalau tidak demikian, maka sebenarnya kitab tersebut ditulis dengan spirit Kementrian Dalam Negeri (Mesir) dengan tujuan yang sangat jelas yakni menjaga stabilitas dan keamanan negara. (At Tabriah, halaman 12)

Kritik Syekh Ayman kepada Dr Fadl alias Syekh Abdul Qadir Abdul Aziz bukan pertama kali dilakukan. Syekh Ayman juga pernah mengkritisi buku karya Syekh Abdul Qadir Abdul Aziz, yakni kitab “Al-Jami’ Fie Thalabil Ilmiys Syarif” yang sering dianggap sebagai buku panduan untuk Al Qaidah.


Mujahidin Al Qaidah Mengawal syaikh Usmah Bin Laden

Buku Menggugat Al Qaidah karya Dr Fadl ini tidak salah lagi merupakan busur panah yang diarahkan kepada Syekh Ayman dan Syekh Usamah sebagai pribadi, dan Al Qaidah sebagai jamaah jihad. Banyak sekali tuduhan-tuduhan dalam buku ini yang dialamatkan kepada beliau, Syekh Ayman Azh Zhawahiri.

Syekh Ayman akhirnya menjawab dan meluruskan semua tuduhan Dr Fadl tersebut dalam sebuah risalah atau kitab ilmiah yang kuat dasarnya, dengan kitab rujukan tidak kurang dari 130 kitab, yang dipersiapkan beliau untuk membatalkan setiap syubhat atau rekaan-rekaan yang dibuat oleh para penulis “Al-Watsiqah” (Menggugat Al Qaidah). (Abu Khubaib An Najdi, At Tabriah Lisy Syaikh Abu Muhammad Aiman Azh Zhawahiri)

Syekh Ayman berkata mengomentari penulisan kitab At Tabriah yang dirasa sangat sulit penulisannya karena khusus untuk menanggapi kitab Al Watsiqah. Beliau menyangka bahwa ini adalah tulisan yang paling sulit dalam hidupnya selama ini. Semula beliau menyangka bahwa nasehat dan peringatan yang disampaikan kepada HAMAS adalah yang paling sulit, tetapi setelah terbitnya kitab Al Watsiqah At Tarsyid, teryata untuk menulis bantahan atau sanggahan kitab tersebut beliau rasakan jauh lebih sulit.

Syekh Ayman dalam menulis kitab At Tabriah sebelumnya telah bermusyawarah dan beristikharah agar sikapnya dalam menyanggah tidak tergesa-gesa karena yang demikian itu bisa menjauhkan dari kebenaran dan keadilan. Ini menunjukkan bahwa perkataan yang dilontarkan oleh Syekh ditujukan kepada makna dan pemikiran bukan kepada orang-orangnya.

Beliau tidak bermaksud untuk menyakiti seorang pun bahkan pada akhir kitab beliau tersebut, Syekh meminta maaf sekali lagi, kalau seandainya apa yang telah beliau tulis menyakiti seseorang dan memaafkan bagi orang-orang yang menyakiti beliau, menyerangnya, mendhaliminya, dan memakinya.

Syekh Ayman juga menekankan bahwa beliau masih memberikan posisi yang selayaknya dan penghormatan serta kemuliaan kepada penulis Al Watsiqah dan orang-orang yang menyepakatinya, akan tetapi kebenaran lebih beliau cintai daripada mereka.

Kesalahan Fatal Buku Dr Fadl

Dalam kitab At Tabriah, Syekh Aiman memberikan sanggahan-sanggahan terhadap poin-poin penting dan tidak menanggapi atas caci maki yang diarahkan kepada beliau. Beliau juga mempertanyakan mengapa begitu hebat konsentrasi media massa untuk memerangi Al Qaidah dan usaha untuk menumpasnya yang telah disepakati oleh toghut-toghut baik Arab maupun Ajam ? Dan apakah Husni Mubarak termasuk pemimpin yang adil dan berbuat baik ? Ataukah dia termasuk pemimpin yang dzalim dan menyimpang ?

Dalam buku tersebut, Syekh Aiman juga menyatakan bahwa Al Qaidah sangat menginginkan untuk menjauhi dari tertumpahnya darah-darah kaum Muslimin, dan sesugguhnya mereka tidak berjihad kecuali demi menyelamatkan mereka. Garis kebijaksanaan operasi jihad yang ditempuh Al Qaidah dalam menghadapi serangan kaum salibis terhadap negeri-negeri Islam adalah sebagai berikut :

a. Memukul target-target milik salibis dan zionis
b. Berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengubah sistem tatanan yang rusak ini dan menegakkan sistem dan tatanan Islam

Syekh Aiman juga menerangkan kesalahan-kesalahan metodologi secara umum kitab Al Watsiqoh (Menggugat Al Qaidah) karya Dr Fadl, misalnya tidak menyinggung sama sekali sebab-sebab kesalahan yang dituduhkan dan tidak mencantumkan apa kesalahannya, tetapi langsung melompat kepada solusinya, dan sikap lari secara sembunyi dari menyebutkan hal-hal tersebut agar supaya di dalam kitab Al Watsiqoh tidak ada sesuatu yang menyusahkan penguasa Mesir yang sedang berkuasa, yakni Husni Mubarak.

Selain itu, solusi atau resep yang ditawarkan dalam kitab Dr Fadl ini tidak realistis dan tidak praktis, serta tidak masuk akal yang mana hanya pada enam pilihan saja, yaitu : Hijrah, uzlah, memaafkan, berpaling, sabar, dan menyembunyikan iman.

Dr Fadl mengatakan :

“Jihad bukanllah satu-satunya alternatif yang dibolehkan agama untuk menghadapi situasi ketika tidak ada lagi komitmen terhadap agama. Menurutnya ada cukup banyak alternatif yang bisa dijalankan, seperti berperang, dakwah, hijrah, uzlah, memaafkan, menghindari, dan bersabar.” (Menggugat Al Qaidah, Halaman 90).

Disamping itu, buku Dr Fadl juga tidak komitmen dengan metodologi ilmiah dan tidak pula amanat dalam menyampaikan ilmu, dimana dia menyembunyikan sebagian ucapan ahlul ilmi demi keinginan pribadi, agar tidak berlawanan dengan sesuatu yang telah diambil keputusannya dan ketetapan yang telah direncanakannya.

Sebagai contoh Dr Fadl dalam buku ini mengatakan bahwasanya dia bukan ‘alim (orang yang berilmu) dan bukan mufti (orang yang memberi fatwa), sedangkan buku yang dia tulis sendiri dengan tangannya ini penuh dengan ketetapan haram dan halal, keterangan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, kalau ini bukan termasuk pekerjaan para ulama dan para mufti, maka apa yang tersisa untuk mereka ???

Kekeliruan fatal yang menjadi pengetahuan umum adalah sering dikatakan bahwa Dr Fadl merupakan figur ulama Al Qaidah terpenting dan dua kitabnya yang masyhur adalah bagian dari dustur Al Qaidah yang tidak boleh menyimpang darinya. Lebih fatal lagi Sabili Publishing dalam buku yang diterbitkannya, Menggugat Al Qaidah, mengatakan bahwa Dr Fadl adalah pendiri Al Qaidah.

Padahal, Syekh Ayman berlepas diri dari sebagian pemikiran Dr Fadl, terutama dalam sebagian pengkafiran yang dianggap melampaui batas yang terdapat dalam kitab karya beliau, yakni Al Jamie’, ketika mengkafirkan secara ta’yin (personal) terhadap anshor thowagit dari para tentara, polisi, dan lain sebagainya.

Maka, bagaimanakah kitab tersebut bisa dikatakan sebagai dustur bagi Al Qaidah, sedangkan mereka menyanggah sebagian pendapat dalam kitab tersebut ?

Dustur Al Qaidah adalah Al Qur’an dan As Sunnah, adapun kitab-kitab ahlul ilmi dan karangan-karangan mereka maka ada yang diambil dan ada pula yang ditolak. Begitu pula kitab Al Jamie’ karya Dr Fadl, kedudukannya sebagaimana kitab-kitab ulama yang lain.

Syekh Ayman secara tegas membantah tuduhan Dr Fadl bahwa mujahidin menyerang orang Barat di jantung negara mereka karena nafsu untuk menumpahkan darah. Beliau mengatakan :

“Para mujahidin tatkala mereka menyerang orang-orang Barat di jantung negaranya dengan operasi syahid, mereka tidak menyerangnya karena orang-orang Barat tersebut telah mengingkari perjanjian dan bukan pula karena nafsu untuk menumpahkan darah dan bukan pula karena mereka (mujahidin) setengah gila dan bukan pula karena putus asa dan frustasi sebagaimana telah digambarkan oleh banyak orang…Akan tetapi mereka menyerang orang-orang Barat itu dalam keadaan terpaksa melakukannya demi mempertahankan umat mereka dan kehormatan mereka dari serangan yang amat keji yang terus menerus selama berabad-abad. Karena sesungguhnya Mujahidin tidak memiliki sarana lain dalam mempertahankan diri dari serangan tersebut, selain operasi syahid dan selain menjadikan orang-orang Barat sebagai target di medan perang, dan memukul perekonomiannya serta markas-markas komandonya. Dan Mujahidin dalam melakukan serangan-serangan ini dalam rangka menunaikan Jihad Daf’in (jihad mempertahankan diri), mereka dalam hal ini senantiasa memperhatikan hukum-hukum syara’ dan meminta fatwa dari para ulama yang jujur lagi bebas merdeka. Dan mereka dengan operasi-operasi tersebut hanya mengharapkan ridho Allah semata.”

Syekh Ayman menlanjutkan :

“Kami tidak menyeru manusia kepada jihad yang acak-acakan dan membabi buta, bahkan kami menyeru manusia untuk mengorganisir kekuatan mereka dan mengkonsentrasikan segala fasilitas yang mereka miliki dan mempersiapkan segala penyebab yang dapat terlaksananya jihad, dan mereka janganlah menunda-nunda untuk melaksanakan itu semua meskipun mereka tidak mampu berjihad dengan tangan kapan saja, maka supaya mereka mempersiapkan persiapan mudah-mudahan dengan itu Allah menguatkan mereka dan memberikan kemenangan kepada mereka atau generasi berikutnya yang akan memetik buah perjuangan mereka, karena sesungguhnya usaha untuk menghasilkan kekuatan dan kemampuan untuk berjihad wajib hukumnya dan diperintahkan oleh syara’.”

Kesimpulan

Buku Menggugat Al Qaidah ; Rasionalisasi Jihad di Mesir dan Dunia karya Dr Fadl atau Syekh Abdul Qadir Abdul Aziz ini termasuk buku pesanan penguasa (Mesir dalam hal ini) yang menyeru kepada ummat untuk menyerah dan mengalah dari jihad fie sabilillah. Sementara Mujahidin tetap istiqomah menyeru ummat untuk bangun, bangkit, melawan, berjihad, dan mencari syahadah (mati syahid). Dengan demikian, judul yang cocok untuk buku ini seharusnya adalah “Menggugat Al Qaidah : Merasionalisasi Jihad Dunia Dari Penjara Mesir”.

Kepada penulis buku ini, Dr Fadl, atau Syekh Abdul Qadir Abdul Aziz, kita tidak mengetahui bagaimana situasi dan kondisi beliau yang sebenarnya ketika dipenjara, sehingga menghasilkan karya yang bertentangan dengan semangat jihad beliau sebelumnya.

Hanya saja sudah maklum bahwa ketika berada dalam penjara, sebagai tawanan beliau dalam keadaan lemah lahir maupun batin yang memungkinkan munculnya pelbagai kondisi termasuk sikap At Tara’ju’ yakni berpaling dari amal jihad, sehingga lahirlah buku yang kontraproduktif untuk jihad itu sendiri. Wallahu’alam!

Tentu saja, serangan dan gugatan yang dilancarkan oleh Dr Fadl atau Syekh Abdul Qadir Abdul Aziz, yang nota bene tetap dianggap sebagai ulama Mujahidin yang berpengaruh, bahkan dianggap sebagai pendiri Al Qaidah, akan menyenangkan pihak musuh-musuh Islam, khususnya Amerika dan antek-anteknya. Tidak heran kalau buku ini mendapat tempat dan kesempatan untuk disebarluaskan di seluruh penjuru dunia dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

Untuk itu kaum Muslimin harus sadar dan mengerti tentang masalah ini dengan sebenar-benarnya dan tidak hnaya ikut-ikutan menyebarluaskan pemikiran syubhat tentang jihad dan perjuangan kaum Muslimin.

Alhamdulillah, atas idzin Allah, Syekh Ayman telah berhasil membongkar semua syubhat dalam buku Menggugat Al Qaidah, dan menerangkan persoalannya satu persatu dengan sedetail-detailnya serta menyanggah dan menjawab setiap tuduhan dan gugatan yang ada. Buku semacam inilah, yakni At Tabriah, yang seharusnya diterbitkan dan kemudian dipublikasikan, sehingga kaum Muslimin dan seluruh Mujahidin di seantero dunia senantiasa sabar dan istiqomah di atas kebenaran. Wallahu’alam bis Showab!

By: M. Fachry
Arrahmah.Com International Jihad Analys
Selengkapnya...

 
 
 

Other Sites Sugestion

* Ahlul Hadits wal Atsar (http://www.alathar.net/)
* Al-Menhaj (http://almenhaj.net/)
* Majalah Al-Ashalah (http://asaala.net/)
* Maktabah Misykatul Islamiyyah (http://www.almeshkat.net/books/)
* Maktabah Ruuhul Islam (http://islamspirit.com/)
* Maktabah Sahab Salafiyyah (http://www.sahab.org/)
* Maktabah Shayidul Fawaid (http://saaid.net/book/index.php)
* Markaz Albani (http://albanicenter.net/)
* Multaqo Salafiyyah (http://www.salafiyat.com/)
* Muntadiyat al-Barq (http://www.al-barq.net/)
* Abdul Azhim Badawi (http://www.ibnbadawy.com/)
* Abdul Aziz Alu Syaikh (http://www.sahab.ws/5600/news/3399.html)
* Abdul Aziz ar-Rajihi (http://www.sh-rajhi.com/rajhi/)
* Abdul Aziz ar-Rayyis (http://islamancient.com/)
* Abdul Aziz bin Bazz (http://www.ibnbaz.org.sa/)
* Abdul Aziz Bura’i (http://www.alburaie.com/new/index.php)
* Abdul Muhsin Abbad (http://www.alabad.jeeran.com/)
* Abdul Muhsin Ubaikan (http://www.obaykan.com/)
* Abdul Qadir al-Arnauth (http://www.alarnaut.com/)
* Abdullah al-Fauzan (http://www.alfuzan.islamlight.net/)
* Abdullah azh-Zhafiri (http://www.sahab.ws/6111)
* Abdullah Jibrin (http://www.ibn-jebreen.com/)
* Abdur Razaq Afifi (http://www.afifyy.com/)
* Abdus Salam Barjas (http://www.burjes.com/)
* Abu Abdil Muiz Firkuz (http://www.ferkous.com/rep/index.php)
* Abu Ashim al-Ghomidi (http://www.abouassim.net/)
* Abu Bakr al-Mishri (http://www.abu-bkr.com/)
* Abu Islam Shalih Thaha (http://www.abuislam.net/)
* Abu Malik al-Juhanni (http://abumalik.net/)
* Abu Umar al-Utaibi (http://www.otiby.net/)
* Ahmad Yahya Najmi (http://njza.net/web/)
* Ali Hasan al-Halabi (http://www.alhalaby.com/)
* Ali Ridha (http://www.albaidha.net/vb/)
* Ali Yahya al-Haddadi (http://www.haddady.com/)
* Alwi as-Saqqof (http://www.dorar.net/)
* Hisyam al-Arifi (http://www.aqsasalafi.com/)
* Imam al-Ajurri (http://www.ajurry.com/)
* Kholid al-Mushlih (http://www.almosleh.com/index.shtml)
* Lajnah Daimah (http://www.alifta.com/default.aspx)
* M Ismail Muqoddam (http://www.m-ismail.com/)
* M. Abdillah al-Imam (http://www.sh-emam.com/)
* M. al-Hamud an-Najdi (http://www.al-athary.net/)
* M. Aman al-Jami (http://www.aljami.net/)
* M. Ibrahim al-Hamd (http://toislam.net/)
* M. Khalifah Tamimi (http://www.mediu.org/)
* Majdi Arafat (http://www.magdiarafat.com/)
* Masyaikh Sudan (http://www.marsed.org/)
* Masyhur Hasan Salman (http://www.mashhoor.net/)
* Muhammad Al-Maghrawi (http://maghrawi.net/)
* Muhammad al-Utsaimin (http://www.ibnothaimeen.com/)
* Muhammad Musa Nashr (http://www.m-alnaser.com/)
* Muhammad Said Ruslan (http://www.rslan.com/)
* Muqbil bin Hadi (http://www.muqbel.net/)
* Musthofa al-Adawi (http://aladawy.info/)
* Nashir al-Barrak (http://albarrak.islamlight.net/)
* Nashirudin al-Albani (http://www.alalbany.net/)
* Robi’ al-Madkholi (http://www.rabee.net/)
* Sa’ad al-Hushayin (http://www.saad-alhusayen.com/)
* Said Abdul Azhim (http://www.al-fath.net/)
* Salim al-Ajmi (http://sahab.ws/3250)
* Salim Ied al-Hilali (http://islamfuture.net/)
* Shalih al-Fauzan (http://www.alfawzan.ws/alfawzan/default.aspx)
* Shalih as-Suhaimi (http://www.assuhaimi.com/)
* Shalih Sa’ad as-Suhaimi (http://sahab.ws/4435)
* Sulthan al-Ied (http://www.sahab.ws/3147)
* Taqiyudin al-Hilali (http://www.alhilali.net/)
* Ulama Yaman (http://www.olamayemen.com/html/)
* Wahid Abd Salam Bali (http://www.waheedbaly.com/)
* Yahya al-Hajuri (http://www.sh-yahia.net/)
* Al-Manhaj (http://almanhaj.or.id/)
* Audio Salafi (http://www.assunnah.mine.nu/)
* Daarus Sunnah (http://www.daarussunnah.co.nr/)
* Fatwa Ulama (http://www.fatwa-ulama.com/)
* Forum Studi Unand Padang (http://forum-unand.blogspot.com/)
* Islam Download (http://www.islam-download.net/)
* Majalah Nikah (http://majalah-nikah.com/)
* Manhaj.or.id (http://www.manhaj.or.id/)
* Perpustakaan Islam (http://www.perpustakaan-islam.com/)
* Sholat Kita (http://sholat-kita.cjb.net/)
* Starter Page (http://www.salafi.or.id/)
* Villa Baitullah (http://vbaitullah.or.id/)
* Hakekat Syi’ah Imamiyah (http://hakekat.com/)
* Kursus Bahasa Arab Online (http://badar.muslim.or.id/)
* Yayasan Dar el-Iman Padang (http://www.dareliman.or.id/)
* Google Assunnah (http://google.assunnah.web.id/)
* Tarbiyah Singapore (http://tarbiyah-sg.info/)
* Feed Situs As Sunnah (http://situs.assunnah.web.id/)
* Forum Assunnah (http://forum.assunnah.web.id/)
* Majalah EL-FATA (http://majalah-elfata.com/)
* Majalah Assaliim (http://majalah-assaliim.com/)
* Ngaji Online (http://ngaji-online.com/)
* Muslimah.or.id (http://www.muslimah.or.id/)
* Jilbab (http://www.jilbab.or.id/)
* Ummu Salma (http://ummusalma.wordpress.com)
* Radio Rodja Online (http://www.radiorodja.com/)
* Radio Hang Batam (http://www.hang106.or.id/)
* Abu Salma (http://abusalma.wordpress.com/)
* Salafy ITB (http://salafyitb.wordpress.com/)
* Assunnah WEB ID (http://assunnah.web.id/)
* Ustadz Kholid Syamhudi (http://ustadzkholid.com/)
* Abu Faris (http://adniku.wordpress.com)
* Muhammad Abduh Tuasikal (http://rumaysho.wordpress.com/)
* Ari Wahyudi (http://abu0mushlih.wordpress.com/)
* Bambang Wahono (http://wahonot.wordpress.com/)
* Hannan Putra (http://dshiraz.blogspot.com/)
* Salafiyun UNPAD (http://salafiyunpad.wordpress.com/)
* Jadwal Kajian (http://jadwal.kajian.org/)
* Info Kajian Muslim (http://muslim.or.id/infokajian/)
* Soal Jawab Muslim.or.id (http://muslim.or.id/soaljawab/)
* Ma’had Imam Bukhari Solo (http://bukhari.or.id/)
* Ma’had ‘Ali Al-Irsyad Surabaya (http://mahad.info/)
* Madrasah Imam Ahmad bin Hanbal Semarang (http://binhambal.wordpress.com/)
* Abdur Ra’uf Shakir (http://www.islamlecture.com/)
* Ahlul Hadeeth (http://www.ahlulhadeeth.net/php/)
* Al Baseerah (http://www.albaseerah.org/)
* Al Ibanah (Ismail al-Arcoon) (http://al-ibaanah.com/)
* Al-Muflihoon (http://www.almuflihoon.com/)
* Albani Center (http://www.asaala.com/)
* Call to Islam (http://calltoislam.com/)
* Darul Ihsan (http://www.darulehsaan.com/)
* Darul Kitab wal Hikmah (http://www.dkh-islam.com/)
* DR. Bilal Philips (http://bilalphilips.com/)
* DR. Salih as-Saalih (http://www.understand-islam.net/)
* Fatwa Online (http://www.fatwa-online.com/)
* Islamic Knowledge (http://www.islamicknowledge.co.uk/)
* Jalal Abu Alrub (http://www.islamlife.com/news.php)
* Madeenah (http://www.madeenah.com/)
* Nadir Ahmad (http://www.examinethetruth.com/)
* Riyadhus Salihin (http://www.ryadussalihin.org/en/)
* Salafi Manhaj (http://salafimanhaj.com/)
* Umm Junayd (http://ummjunayd.info/)
free counters